
"Tapi tante...." ucap Naisa yang ingin menolak tapi terpotong oleh Aldi.
"Ucapan mama ada benar nya nanti jika kau tinggal di rumah mu takut nya tidak ada yang mengurus dan menjaga mu, Tapi jika kau di rumah mama banyak yang akan menjaga dan mengurus mu, Aku juga akan tinggal di rumah mama jika kau tinggal di rumah mama juga" jelas Aldi karna dia akan melakukan apapun supaya Naisa ingin tinggal di rumah nya.
"Tapi..." ucap Naisa yang kembali terpotong oleh Aldi.
"Kau ini selalu membantah" potong Aldi dengan nada sedikit meninggi akan Naisa yang ingin menolak tawaran nya lagi. Naisa menundukkan kepala nya karna baru kali ini Aldi berbicara dengan nada tinggi dan wajah datar seperti itu kepada nya.
"Maaf, Baiklah aku akan tinggal di rumah tante" ucap Naisa dengan menundukkan kepala nya tanpa menatap Aldi dan juga Andini. Aldi menoleh ke arah Naisa yang menundukkan kepala itu.
"Kenapa menundukkan kepala? angkat kepala mu" ucap Aldi kepada Naisa yang menundukkan kepala nya itu.
"Kenapa kau malah marah aku menundukkan kepala? terserah aku ini kan kepala ku" ketus Naisa dengan menatap kesal ke arah Aldi yang sedari tadi nada bicara mya sangat tidak enak untuk di dengar.
"Aku tidak marah" jawab Aldi akan ucapan Naisa.
"Jika bukan marah itu apa?" ketus Naisa yang mendengar nada bicara Aldi sangat tidak enak untuk di dengar.
"Sudah sudah" ucap Andini yang menghentikan Aldi dan juga Naisa, Aldi dan Naisa diam dan membuang wajah satu sama lain tanpa melihat satu sama lain.
"Mama tau dari siapa Naisa dan aku ada di sini?" tanya Aldi kepada ibu nya itu, Naisa menoleh ke arah Aldi dan juga Andini karna dia juga bingung akan Andini yang tiba tiba muncul sama seperti Aldi yang juga ikut bingung.
"Azlan memberikan alamat rumah sakit ini kepada mama tadi" jawab Andini akan pertanyaan Aldi.
"Shht lelaki itu ember sekali, Bisa bisa nya dia mengadu kepada mama" ucap Aldi dengan nada pelan tapi terdengar jelas oleh Andini dan juga Naisa.
"Dia tidak mengadu apa pun kepada mama, Mama tau Naisa tenggelam dan kau menyelamat nya melihat dari postingan salah satu teman atau orang yang ada di sana tadi" jelas Andini kepada Aldi karna tadi dia melihat postingan di instagram yang menunjukkan wajah Naisa dan Aldi yang baru saja keluar dari sungai makanya dia tau.
"Mama hnya menanyakan alamat rumah sakit ini kepada Azlan dan Azlan memberikan nya" sambung Andini lagi.
"Siapa memang nya yang memposting benda itu ma?" tanya Aldi karna dia sangat tidak menyukai orang membuat diri nya sebagai konten.
"Aldi" panggil pak dosen yang masuk ke dalam ruangan itu karna dokter mengizinkan orang masuk lebih dari dua orang. Aldi, Andini dan juga Naisa menoleh ke arah pintu dan melihat pak dosen masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Aldi datar karna dia tau pasti dosen itu ingin memarahi atau menceramahi nya.
"Berbicara lah dengan sopan" bisik Naisa kepada Aldi dengan menyenggol bahu lelaki itu. Aldi tidak menjawab nya dan tidak mengikuti Ucapan Naisa dan menatap lekat pak dosen tadi dengan tatapan datar nya.
"Kenapa kau menyakiti wanita Al?" tanya Erdin yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu karna mendengar penjelasan dosen yang baru saja sampai di depan ruangan Naisa dan melihat Erdin ada di depan ruangan itu makanya dia menceritakan apa yang telah Aldi lakukan. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh ke arah Erdin begitupun dengan Naisa.
"Menyakiti siapa dia pa?" tanya Andini kepada Erdin dengan menatap lekat wajah Erdin.
"Airin, Dia hampir saja menghilangkan nyawa wanita itu" jawab Erdin akan pertanyaan istri nya itu. Aldi masih diam dan telinga nya panas mendengar nama wanita yang sudah menyakiti Naisa sang pujaan hati nya.
"Jawab pertanyaan papa" bentak Erdin dan memegang kerah baju Aldi.
"Dia..." ucap Aldi yang terpotong oleh tamparan Erdin yang keras dan terdengar jelas oleh orang yang ada di dalam ruangan itu. Mata Naisa mengikat saat melihat itu, Mulut nya ternganga saat melihat itu, Dia tidak percaya akan Erdin yang menampar Aldi begitupun dengan Andini.
"Pak sudah" ucap pak dosen tadi kepada Erdin dan mencegah Erdin.
"Kau ini selalu saja mencari masalah, Kau hampir membunuh nya dan dia itu wanita" teriak Erdin yang belum mengetahui hal sebenar nya karna yang bercerita tadi dosen perempuan yang tidak melihat kejadian yang sebenar nya dan hanya mendengar cerita dari Airin sang korban yang ingin membela diri.
"Pa kau ini kasar sekali" bentak Andini yang tidak percaya akan Erdin yang menampar Aldi.
"Dia memang pantas mendapatkan itu, Enak sekali dia menyakiti wanita, Kau itu lelaki nak" bentak Erdin lagi dengan mengguncang bahu Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan memilih untuk diam karna berbicara pun tidak ada guna nya saat ini makanya dia memilih diam dan menggerakkan rahang nya karna sedikit sakit dan sedikit mengeluarkan darah itu. Hal seperti ini sudah biasa bagi Aldi saat ayah nya menampar nya tapi hal itu sudah sangat jarang terjadi saat Aldi bergaul dengan Naisa dan Andini baru sekali ini melihat Erdin menampar Aldi karna setiap Erdin bertengkar dengan Aldi, Andini tidak pernah menyaksikan nya dan dia kadang berada di dalam kamar Karna sudah istirahat dan kadang dia tidk ada di rumah Makanya dia kaget melihat Erdin yang menampar Aldi padahal itu sudah hal yang biasa.
"Terserah" teriak Aldi dan langsung berlalu dari sana dan keluar dari ruangan itu. Naisa tidak tenang akan Aldi yang langsung kabur itu. Saat Aldi keluar dia berpapasan dengan Azlan dan juga Fany yang baru saja kembali dari kantin karna kelaparan.
"Bagaimana dengan Naisa...." ucap Fany yang ingin bertanya kepada Aldi tapi terpotong akibat Aldi yang terus melajukan kaki nya tanpa henti dan berjalan cepat.
Naisa yang ingin menyusul Aldi pun berusaha bergerak dari sana dan menurunkan satu kaki nya dna mengambil satu tongkat yang entah punya Siapa yang ada di dalam ruangan itu. "Nak kau mau kemana?" tanya Andini yang menghentikan tangis nya dan melihat Naisa yang berusaha ingin keluar dengan menggunakan tongkat.