
Di belakang.
Aldi baru saja ingin keluar pintu belakang itu tapi dia mendengar gelak tawa dari belakang. Aldi menghentikan langkah kakinya dan mengintip ke belakang dan melihat Naisa yang sedang asik tertawa bersama dengan pekerja lainnya.
"Kenapa dia di sekolah sangat pendiam dan tidak pernah tersenyum?" guman Aldi heran dan membandingkan tingkah Naisa jika sedang di sekolah dan di tempat kerja.
"Hey, kau benar menyukainya bukan?" kejut Asma dari belakang dengan memukul bahunya. Aldi terkejut akan Asma yang mengejutkan nya itu.
"Kakak apa-apaan sih" ketus Aldi yang kaget dan tak terima akan ucapan Asma.
"Ngaku saja kau" ucap Asma. Naisa yang mendengar suara orang pun menoleh kr arah suara dan ternyata ada Asma dan juga Aldi.
"Kenapa mereka berdua?" guman Naisa menatap Aldi dan juga Asma yang nampak sedang berdebat.
"Sudah lah bukan urusan ku" guman Naisa kembali dan langsung berdiri karna dia sudah selesai merangkai bunga dan juga sudah selesai mengajari pekerja lainnya dan untungnya semuanya sudah mengerti dan bisa mengerjakannya sendiri.
Naisa berjalan menuju ke arah pintu dekat Aldi dan juga Asma dengan membawa beberapa buket bunga hasil nya dan ada satu karangan terbaru dan juga sudah dia ajari kepada yang lain untuk membuat yang baru itu. Naisa menundukkan kepala nya melewati Aldi karna biar bagaimana pun dia masih sedikit risih untuk menatap Aldi ntah kenapa dia seperti itu.
"Permisi pak, kak" ucap Naisa dengan menundukkan kepala karna dia sedikit kesusahan untuk lewat di antara Aldi dan juga Asma. Aldi dan Asma menoleh ke arah nya dan melihat Naisa yang sedikit kesusahan berjalan karna membawa buket bunga yang cukup besar itu.
"Biar aku bantu" ucap Aldi.
"Kau tidak bisa membawa nya sendirian sinikan" ucap Aldi dan merampas dua bunga dari tangan Naisa. Naisa tidak menjawab maupun membantah dan langsung berlalu keluar untuk menyusun bunga itu sebagai pajangan di luar.
Aldi juga mengikuti Naisa dari belakang dan menyusun bunga yang ia bawa tadi di depan. "Wah cantik sekali bunga-bunga nya" ucap seorang lelaki dan berdiri di belakang Naisa. Naisa membalikkan tubuhnya dan berniat ingin menyapa dan dia menabrak dada bidang lelaki yang berdiri di belakang nya itu. Aldi juga menoleh ke arah lelaki itu dan lelaki itu adalah Renald dan dia juga melihat Naisa yang menabrak dada Renald.
"Maaf tuan saya tidak sengaja" ucap Naisa dengan menundukkan kepala nya dan memegang dahinya yang sedikit sakit itu. Renald merasa tak asing akan suara itu dan berusaha melihat wajah wanita yang menabrak dada nya itu.
"Naisa" ucap Renald yang bisa menebak dari melihat wajah samping Naisa saja. Naisa mendongakkan kepala nya dan menatap siapa yang menyapa nya itu.
"Renald?" guman Naisa yang sedikit waswas karna takut ada Maya. Aldi bisa melihat Naisa yang waswas itu.
"Ada apa kau kemari?" tanya Aldi.
"Mama tadi bilang jika kau disini" jawab Renlad dengan mata yang masih menatap Naisa karna dia merindukan wanita itu dan sangat merindukan wanita itu.
"Kau ke rumah mama?" tanya Aldi. Renald mengangguk mengiyakannya tanpa menatap Aldi karna dia masih menatap Naisa.
"Biasakan jika orang berbicara dengan mu tatap orang nya" ketus Aldi dengan alis yang menaup karna dia tidak suka akan Renald yang selalu menatap Naisa seperti itu.