
"Apa apaan kau ini" ketus Aldi kepada Sahlan.
"Kenapa memang nya apakah salah? Rafli kan berteman dengan Naisa sejak SMP dan mungkin dia menyukai Naisa dan kau pacar nya bukan?" tanya Sahlan dengan menatap lekat Aldi. Dahi Naisa mengerut akan perkataan Sahlan, Dia sangat tidak menyukai ucapan yang keluar dari mulut Sahlan itu dan Aldi bisa mengerti akan raut wajah Naisa itu.
"Apa apaan lelaki ini, Siapa juga yang pacaran dengan Aldi" guman Naisa kesal dan sangat nampak sekali jika raut wajah nya tidak suka akan ucapan Sahlan.
"Bicara apa kau tadi?" tanya Aldi dengan melototkan mata nya kepada Sahlan karna dia tau Naisa tidak nyaman dan tidak suka akn ucapan Sahlan dan dia yakin jika Naisa bukan seperti kekasih lalu nya yang menjawab ucapan Sahlan makanya dia yang menjawab.
"Mungkin saja bukan ucapan ku tadi?" tanya Sahlan dengan senyum yang mengembang menatap Naisa.
"Anda kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Naisa kepada Sahlan. Andini dan Asma hanya melihat apa yang di lakukan oleh mereka semua.
"Siapa yang melihat mu? percaya diri sekali kau" ucap Sahlan dengan senyum menatap Naisa.
"Sudah sudah, jangan bertengkar di hadapan makanan tidak baik" ucap Andini.
"Tau nih si Sahlan sudah tua mulut sama seperti anak anak" ucap Aldi sedangkan Naisa dia kembali melanjutkan makan nya begitupun dengan yang lain nya.
Setelah selesai makan Naisa ingin membantu pelayan di rumah itu membersihkan piring tapi Andini melarang nya dan mengajak nya ke ruang keluarga dan terpaksa Naisa mengiyakan nya. Naisa, Andini dan juga Asma menuju ke ruang keluarga dan mereka mendudukkan tubuh mereka di kursi. Sedangkan Aldi dan juga Sahlan mereka memilih untuk ke kamar tamu karna Sahlan yang mengajak.
"Ada apa kau mengajak ku ke kamar?" tanya Aldi kepada Sahlan.
"Santai saja adik ku, Duduk lah, Kita ini sudah lama tidak bertemu dan saat aku pulang ke sini kau tidak ada dan tante Andini bilang jika kau di rumah sakit menunggu Rafli" jelas Sahlan dengan mendudukkan tubuh nya di atas kursi sofa yang ada di dalam kamar tamu itu. Aldi menatap nya dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana nya.
"Jadi?" tanya Aldi.
"Ceritakan kenapa kau dan Rafli berkelahi? apa benar karna Naisa?" tanya Sahlan. Sahlan memang lelaki yang sopan tapi ucapan nya menyakitkan bagi siapapun yang baru mengenal nya.
"Masalah lama" jawab Aldi datar dan menoleh ke sembarang arah.
"Masih masalah Asanti?" tanya Sahlan karna dia tau siapa itu Asanti.
"Bukan tapi dia mengatai ku sombong makanya aku marah kepada nya" jelas Aldi.
"Jadi kenapa kau bisa menjaga Naisa di rumah sakit? apa dia benar pacar mu?" tanya Sahlan kepada Aldi.
"Aku menyukai nya tapi kami tidak berpacaran dan aku di rumah sakit karna dia menyelamatkan aku dari pukulan Rafli yang seharus nya untuk ku tapi dia yang menghalangi nya dan malah terpukul ke kepala nya" jelas Aldi panjang lebar kepada Sahlan. Aldi memang selalu jujur dengan Sahlan dan selalu buka bukaan apa lagi tentang perasaan.
"Kau menyukai nya?" tanya Sahlan yang tidak percaya karna setau nya Aldi susah jatuh cinta dengan orang lain dan bisa di katakan dia tidak pernah menyukai wanita terlebih dahulu karna wanita lah yang terlebih dahulu mencintai nya dan menyatakan perasaan nya dengan Aldi.
"Hemm" jawab Aldi sambil menganggui mengiyakan nya.
"Waw hebat sekali Naisa bisa membuat mu suka kepada nya" ucap Sahlan yang tidak percaya. Aldi hanya diam dan tidak menjawab atau pun merespon ucapan Sahlan.
"Tapi jika di lihat lihat Naisa memang cantik" ucap Sahlan lagi dengan mengingat saat Naisa tersenyum tadi.
"Jangan membayangkan nya aku benci itu" ucap Aldi dengan memukul kepala Sahlan.
"Kau ini keterlaluan sekali memukul kepala ku" ketus Sahlan dengan melototkan matanya kepada Aldi.
"Makanya jangan membayangi nya" ketus Aldi yang tidak mau kalah dari Aldi.
"Dia tidak sama dengan wanita lalu" jawab Aldi.
"Aku ingin mengetes nya" ucap Sahlan.
"Jangan mengetes apapun dengan nya" ucap Aldi.
"Terserah ku saja, Kan aku ingin memastikan jika calon adik nakal ku ini orang baik dan setia" jawab Sahlan dengan merangkul leher Aldi yang duduk di samping nya itu.
"Terserah kau saja, Tapi kau jangan macam macam dengan nya" ucap Aldi.
"Iya aku hanya menguji nya biasa tidak terlalu berlebihan" jawab Sahlan.
"Awas saja kau macam maca dengan nya" ucap Aldi dengan menunjuk ke arah Sahlan. Sahlan bisa melihat jika Aldi memang menyukai Naisa nampak dari raut wajah dan cara Aldi tadi saat menatap Naisa.
Di bawah
"Kak ayo kita pulang" bisik Naisa kepada Asma.
"Ada apa nak?" tanya Andini yang melihat Naisa berbisik dengan Asma.
"Nai ingin pulang ma" jawab Asma. Andini menoleh ke arah Naisa dan Naisa pun melebarkan senyuman nya menatap Andini. Saat Naisa menatap Andini dan nampak Aldi turun bersama dengan Aldi dari atas dan dia pun langsung mengalihkan pandang nya dari mereka.
"Tante kami pamit dulu ya" pamit Naisa kepada Andini.
"Loh kenapa cepat sekali pulang nya?" tanya Andini kepada Naisa.
"Naisa masih ada urusan yang belum Naisa kerjakan tante" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya.
"Kau mau kemana?" tanya Aldi yang sudah turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka. Naisa menoleh ke arah Aldi.
"Yasudah tante Nai pulang dulu" pamit Naisa.
"Nanti saja Nai" ucap Asma karna dia masih ingin bersama dengan Andini.
"Nai pulang dulu kak, Kakak jika masih ingin di sini nanti saja pulang tapi jangan terlalu lama Pulang nya" ucap Naisa kepada Asma dan setelah itu dia pun langsung berlalu dari rumah megah itu dan berjalan keluar.
"Al antar dia pulang" perintah Andini, Aldi dengan segera menyusul Naisa karna jika tidak di perintah oleh Andini pun dia pasti akan menyusul Naisa. Sahlan tidak mengikuti Aldi dan dia pun mendudukkan tubuh nya di samping Asma.
"Tante" panggil Sahlan.
"Hem" jawab Andini dengan menoleh ke arah Sahlan.
"Apa Al dan Naisa sudah kenalan lama?" tanya Sahlan kepada Andini.
"Sudah sangat lama" jawab Andini dengan senyum yang melebar menatap Sahlan.
"Sejak kapan?" tanya Sahlan dengan menatap bingung ke arah Andini begitupun dengan Asma yang juga penasaran karna setau nya Aldi dan Naisa kenal sejak di toko.