I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 7



"Kenapa sifat nya berubah seperti itu?" tanya Renald kepada diri sendiri saat melihat Naisa sudah masuk ke dalam rumah. Renald pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tanpa menatap spion lagi.


Di rumah Naisa sudah selesai membersihkan tubuhnya dan juga mengenakan pakaiannya Naisa memilih untuk memasak malam untuk dirinya sendiri tapi bahan bahan masakan sudah habis dan hanya ada kecap dan saus di dalam kulkas itu.


Naisa berjalan santai menuju ke warteg yang tidak terlalu jauh dari rumah nya itu sambil memikirkan bagaimana hari yang akan di lewati nya besok sampai akhirnya dia sampai di warteg tujuan awalnya tadi.


"Beli apa nak?" tanya bu Itun kepada Naisa karna memang dulu Naisa selalu membeli makanan di sana makanya bu Itun mengetahui siapa Naisa dan mengenal nya juga.


"Kayak biasa bu" jawab Naisa sambil melebarkan senyumannya. bu Itun mengangguk mengiyakannya dan langsung membuat pesanan Naisa.


"Ini nak" ucap bu Itun sambil menyodorkan nasi yang sudah di bungus kepada Naisa. Naisa menerimanya dan memberikan uang kepada bu Itun dan setelah itu berlalu karna uangnya pas.


Naisa kembali ke rumahnya dan langsung memakan nasi yang sudah ia beli tadi.


Keesokan paginya


Seperti biasa Naisa tengah bersiap siap untuk berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah Naisa langsung menundukkan kepalanya tidak sama saat dia ingin berangkat ntah kenapa wanita itu seperti itu.


Naisa menjalani hari ini tanpa ada masalah karna mungkin Maya dan kawan kawan tidak sekolah dan itu sebabnya dia aman hari ini. Setelah pulang sekolah Naisa langsung kembali ke rumahnya dan dengan segera mengganti pakaian nya.


"Ini hari pertama aku" ucap Naisa saat sudah membuka pintu rumahnya dengan menarik nafas panjang.


Naisa langsung berlalu dari rumahnya dan menuju ke toko bunga tempatnya bekerja dengan berjalan kaki untuk menghemat uang.


Tidak lama kemudian akhirnya diapun sampai di toko bunga dan langsung masuk dengan senyum yang mengembang. Naisa menyapa semua pekerja di sana dan kebanyakan pekerja itu adalah perempuan. Semua nya menanggapi sapaan Naisa karna Andini menyuruh mereka untuk menghormati Naisa dan menghargai Naisa.


Naisa menuju ke ruangan yang terletak loker dan dia masuk ke dalam nya dan membuka loker yang sudah menjadi miliknya dengan kunci yang di berikan oleh Asma kemarin. Naisa mengambil celemek di dalam itu dan mengenakannya dan setelah itu dia meletakkan tas yang ia bawa ke dalam loker itu dan kembali mengunci loker itu.


Naisa berjalan menuju keluar dan duduk di samping kasir dan kasir itu adalah Asma. Naisa hanya menunggu pelanggan dan hari ini tidak ada satupun pelanggan yang nampak masuk ke dalam toko itu dan itu membuat Naisa merasa bosan akan itu.


"Kak apa sebelum nya memang seperti ini toko ini?'' tanya Naisa kepada Asma.


"Iya nai sejak dua bulan lalu kata pelanggan pelanggan yang datang bunga bunga di toko ini hanya gaya gaya itu saja" jelas Asma karna memang toko di cabang ini sangat sepi beda dari toko toko yang lainnya.


"Kenapa tidak membuat kreasi buket yang baru kak atau gaya bunga yang baru?" tanya Naisa.


"Bukannya tidak mau nai tapi memang pekerja disini tidak ada yang memiliki seni tentang bunga dan hanya bu Andini lah yang selalu menunjukkan dan mengajarkan masalah bunga dan memberi ide tapi sekarang dia sudah sibuk akan urusan yang lain" jelas Asma panjang lebar. para pegawai di sana memang tidak ada yang memiliki jiwa seni dan hanya satu yak ni Ais tapi dia sudah di pindahkan ke cabang lain makanya tidak ada lagi yang bisa memberikan ide atau semacamnya.


"Ada pelanggan nai" ucap Asma yang menyadarkan Naisa dari lamunannya. Naisa langsung berdiri dan menyapa pelanggan yang datang itu dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Selamat datang di toko bunga Aldini" ucap Naisa sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Naisa dan menatap pelanggan yang berkunjung itu dan dia sedikit terkejut melihatnya.


"Bukannya dia...." guman Naisa yang tidak mengetahui siapa nama Aldi.


"Hey dia anak bu Andini" bisik Asma yang membuat Naisa langsung tersadar.


"Maafkan saya pak" ucap Naisa dan kembali menundukkan pandangnya. Aldi menatap heran akan wanita itu yang selalu menundukkan kepala.


"Kau bekerja disini?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakannya tanpa menatap Aldi.


"Sejak kapan?" tanya Aldi heran karna dia tidak pernah tau jika Naisa bekerja di toko sang ibu.


"Ini hari pertama saya bekerja di sini pak" jawab Naisa yang masih menundukkan kepalanya tanpa menatap Aldi. Aldi tidak menjwab ataupun menanggapinya dia langsung berlalu dari sana dan masuk ke dalam ruangan yang sudah di hususkan untuknya.


Semua pekerja menyapanya dan tidak ada satupun yang ia tanggapi dan hanya Naisa yang ia ajak bicara dan untungnya semua pekerja di sana sudah mengerti akan sikap Aldi yang memang terbilang cuek dan dingin terhadap orang tapi hatinya sangat baik.


"Kau mengenalinya?" tanya Asma kepada Naisa. Naisa menggelengkan kepala nya karna memang dia tidak mengenali Aldi dan mungkin dia juga tidak tau jika Aldi satu sekolah dengannya.


"Yasudah kembali lah bekerja" ucap Asma. Naisa mengangguk mengiyakannya dan kembali bekerja dan pekerjaannya hanya lah menunggu pelanggan datang.


"Astaga untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya bosan" keluh Naisa karna memang tidak ada satu pun orang yang datang ke toko itu.


"Jika kau tidak mau bosan coba lah berkreasi dan keluarkan ide mu untuk membuat bentuk bunga baru dan di sukai banyak orang" jawab Asma yang juga merasa bosan sama seperti Naisa.


"Iya juga ya kak" jawab Naisa. Asma mengangguk mengiyakannya dan Naisa langsung berlalu dari sana dan menuju ke ruangan loker tadi dan untungnya di sana ada meja dan kursi untuk menulis.


Naisa mencari cari kertas dan pulpen atau pensil tapi dia tidak menemukannya. Naisa berjalan keluar di tempat bekerja. "Kak ada pulpen sama kertas?" tanya Naisa kepada Asma.


"Tidak ada nai, di sini pulpen dan kertas hanya ada di ruangan kepala toko" ucap Asma sambil menunjuk ke ruangan yang di masukkan oleh Aldi tadi.