I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 143



"Kau istirahat saja di sini, Jika memeperlukan apa apa telpon saja orang bawah menggunakan telpon ini" ucap Aldi kepada Naisa dengan menunjuk ke arah telpon rumah yang ada di atas meja di samping Naisa.


"Hem" jawab Naisa dengan melebarkan senyuman nya kepada Aldi.


"Aku akan keluar" pamit Aldi kepada Naisa sedangkan Azlan dan Fany sudah berlalu terlebih dahulu keluar dari kamar Naisa dan sudah kembali ke rumah mereka masing masing dengan Azlan yang mengantar Fany kembali ke rumah nya.


"Al" panggil Naisa saat Aldi ingin berlalu keluar dari kamar. Aldi menggantikan langkah kaki nya dan menoleh ke belakang melihat Naisa.


"Ada apa?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.


"Terima kasih" ucap Naisa dengan senyum yang melebar menatap Aldi. Aldi kembali berjalan mendekat ke arah Naisa tapi Naisa masih tersenyum lebar melihat nya sedangkan Aldi masih memasang wajah datar nya. Sesampai di dekat Naisa Aldi menundukkan tubuh nya dan mendekat ke arah Naisa.


Naisa takut akan itu dan menyampingkan tubuh nya. "M-Mau apa kau?" tanya Naisa sedikit gagu akibat ketakutan sedangkan senyuman nya tadi sudah pudar akibat takut akan Aldi. Aldi menatap lekat wajah wanita itu dengan tatapan datar dan terlihat sekali jika Naisa itu ketakutan.


Aldi kembali berdiri seperti semula dan tertawa melihat ekspresi lucu wajah Naisa yang sedang ketakutan itu. "Menggemaskan sekali kau ini" ucap Aldi dengan geram dan mencubit pipi Naisa.


"Sakit" ucap Naisa dan menepis tangan Aldi.


"Otak mu itu terlalu kotor, Mana mungkin aku ingin macam macam dengan wanita semanis ini" ucap Aldi dan kembali mencubit wajah Naisa.


"Y-Ya aku tidak tau akan hal itu, Nama nya juga orang takut" jawab Naisa dan setelah itu menoleh ke sembarang arah.


"Kau pegang janjiku ini, Aku tidak akan macam macam dengan mu sebelum kau menjadi istri ku" ucap Aldi dengan menatap lekat wajah wanita itu dengan kaki yang berdiri dan tubuh yang membungkuk. Naisa yang awal nya melihat ke sembarang arah pun menoleh ke arah Aldi.


"Hem, Percayalah denganku" ucap Aldi lagi dengan senyum yang melebar menatap Naisa. Naisa hanya diam dan tidak menjawab Karna dia tidak yakin akan janji.


"Sudah jangan menatapku seperti itu, Istirahatlah" ucap Aldi dan mengusap lembut kepala wanita itu. Naisa hanya menanggapi nya dengan senyuman dan anggukan kepala. Aldi tersenyum melihat itu dan kembali berdiri sepert semula dan kembali melanjutkan langkah kaki nya.


Naisa hanya bersender ke ranjang itu karna hari belum terlalu malam dan dia juga tidak mungkin istirahat saat jam enam sore. Aldi belum menutup pintu kamar Naisa itu dan masih mengintip Naisa yang nampak memikirkan sesuatu. "Pasti dia tidak percaya akan ucapan dan janji ku tadi" guman Aldi sambil menatap Naisa.


"Aku juga apa apaan malah berjanji seperti tadi, Seharusnya kau membuktikan nya Al, Tidak berjanji bodoh" guman Aldi dan memukul kepala nya akan kebodohan nya yang berjanji kepada Naisa.


"Ah sudahlah" ucap Aldi lagi dan langsung menutup pintu kamar Naisa, Naisa bisa mendengar jelas suara Aldi dan menoleh ke arah pintu tapi dia tidak menemukan siapapun di dekat pintu.


Asma masuk ke dalam kamar itu dengan membawakan nampan makanan untuk Naisa. "Ah kak Asma, Aku pikir siapa" ucap Naisa dan tersenyum menatap Asma.


"Kenapa kau seperti nya tegang sekali? kau takut?" tanya Asma yang bisa melihat wajah Naisa yang sedikit tegang itu sambil berjalan ke arah Naisa.


"Hem, Sedikit takut" jawab Naisa akan pertanyaan dari Asma. Asma mendudukkan tubuh nya di samping Naisa.


"Apa yang kau takutkan?" tanya Asma kepada Naisa.


"Takut kau meninggalkan aku sendiri di sini" jawab Naisa akan pertanyaan Asma tersebut.


"Aku tidak meninggalkan mu, Aku hanya ke bawah tadi" ucap Asma kepada Naisa. Naisa tidak menjawab nya dan melihat apa yang di bawakan oleh Asma untuk nya.


"Kakak membawa apa?" tanya Naisa kepada Asma.


"Membawa makanan untuk mu" jawab Asma akan pertanyaan Naisa itu. Naisa mengangguk mengerti dan dia juga tidak menolak akan Asma yang menyiapkan makanan untuk nya karna dia memerlukan bantuan dari orang orang sekitar nya.


"Makan lah ini" ucap Asma dan menyodorkan sendok yng sudah berisi makanan ke mulut Naisa.


"Tidak usah di suapi kak, Yang patah kakiku bukan tangan ku" ucap Naisa dan menurunkan makanan yang di sodorkan oleh Asma tadi dan kembali ke piring.


"Baiklah" jawab Asma dan memberikan makanan tadi kepada Naisa, Naisa menerima nya dengan senang hati dan mulai melahap makanan itu sedangkan Asma dia hnya melihat dan menunggu hingga Naisa selesai makan.


Naisa nampak makan dengan lahap makanan yang di berikan oleh Asma tadi hingga dia selesai makan. "Sudah?" tanya Asma kepada Naisa dan menyodorkan air kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan jika dia sudah selesai makan dan menerima minum dari Asma tadi. Setelah selesai Naisa makan Asma kembali turun ke bawah untuk meletakkan bekas makan Naisa itu, Saat Asma keluar dari kamar Naisa, Aldi masuk ke dalam kamar Naisa.


"Cepat sekali ke bawah nya kak" ucap Naisa tanpa melihat siapa yang masuk.


"Kau sedang apa?" tanya Aldi yang membuat Naisa sedang membaca buku pun menoleh ke arah nya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Menjenguk mu" jawab Aldi dan mendudukkan tubuh nya di samping Naisa. Naisa tidak menjawab nya dan memilih kembali membaca buku nya tanpa memperdulikan Aldi.


"Hem" jawab Naisa sambil mengangguk akan pertanyaan Aldi.


"Kau sedang membaca apa?" tanya Aldi kepada Naisa dan berusaha melihat apa yang di baca oleh Naisa itu. Naisa menoleh ke arah Aldi yang ada di samping nya dan berusaha melihat apa buku yang ia baca itu.


"Kau tidak bisa melihat ini?" tanya Naisa dengan menunjuk ke arah judul buku yang ia baca.


"Mana?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.


Naisa menutup buku nya. "Ini" jawab Naisa sambil menunjuk ke arah buku yang sudah ia tutup itu.


Aldi melihat dan membaca judul buku yang di tunjukkan Naisa kepada nya itu. "Oh" jawab Aldi mengangguk mengerti akan ucapan Naisa itu. Naisa kembali mengangkat buku itu dan kembali melanjutkan membaca nya.


"Besok kau kuliah?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Besokkan minggu Al" jawab Naisa, Aldi baru ingat jika besok hari minggu.


"Ah iya, Aku baru ingat" jawab Aldi.


"Kita jalan jalan saja besok bagaimana?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa menghentikan membaca buku nya itu dan menatap lekat wajah Aldi.


"Bagaimana ingin jalan jalan, Keadaan ku saja seperti ini sekarang" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.


"Kan ada aku, Aku bisa mendorong kursi roda mu besok, Kau hanya perlu duduk manis di atas nya" ucap Aldi.


"Tapi...." ucap Naisa yang terpotong oleh Aldi.


"Aku hanya mengajak mu, Jika tidak mau juga tidak apa, Aku tidak memaksa" potong Aldi dan menoleh ke sembarang arah. Naisa menatap lekat lelaki itu dan dia juga tidak tega harus menolak ajakan Aldi di tambah Aldi sudah sangat baik dan selalu ada saat dia kesusahan.


"Baiklah, Aku mau" jawab Naisa yang mengiyakan nya. Aldi kembali menoleh ke arah Naisa dan menatap Naisa dengan tatapan lekat dengan senyum yang mengembang.


"Benar?" tanya Aldi lagi yang mencoba memastikan nya.


"Iya" jawab Naisa dengan senyum yang mengembang menatap Aldi.


"Besok kita berjalan kaki saja mengelilingi daerah sini supaya kau hapal jalan sini dan orang orang sini" ucap Aldi kepada Naisa dengan senyum yang mengembang.


"Memang nya kau tidak lelah nanti berjalan sambil mendorong aku yang duduk di atas kursi roda?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi.


"Aku saja tadi menggendong mu hampir sampai rumah sakit, Dan tidak mungkin jika aku menolak dan kelelahan mendorong mu yang duduk di atas kursi roda keliling tempat di sini" jelas Aldi yang terlalu berlebihan adahal dia hanya menggendong Naisa hingga di tepi jalan bukan hingga sampai di rumah sakit.


"Benarkah kau hampir menggendong ku hingga rumah sakit?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi.


"Hem, Sangat benar meskipun sedikit berat tubuh mu ini" jawab Aldi yang memang berniat ingin menggoda Naisa padahal tubuh wanita itu sangat kecil dan jauh jika di banding dengan tubuh nya dan kemungkinan berat badan wanita itu hanya 40kg.


Naisa menatap kesal akan ucapan Aldi yang mengatai nya berat. "Kau mengataiku gendut?" tanya Naisa dengan menatap kesal ke arah Aldi.


"Mungkin" jawab Aldi dan menoleh ke sembarang arah.


"Sembarangan saja kau berbicara, Lebih besar tubuh mu dari tubuh aku, Kurus seperti ini di bilang gemuk" ketus Naisa dan melihat tubuh dari kaki hingga tangan nya. Aldi tersenyum saat Naisa memeriksa tubuh nya, Naisa kembali menoleh ke arah Aldi dan itu membuat Aldi kembali memasang wajah datar nya.


"Tapi apa benar aku gemuk?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi.


"Hem" jawab Aldi mengangguk mengiyakan nya dengan pandangan yang masih ke sembarang arah.


"Ah terserah, Mau gemuk atau tidak itu tidak penting" ucap Naisa dan kembali menyenderkan tubuh nya di sandaran ranjang tidur nya.


"Kau tidak memperdulikan itu?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa yang biasa saja itu.


"Tidak" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi dan kembali membaca novel milik nya.


"Kenapa tidak? bukannya wanita sangat memperhatikan bentuk tubuh mereka?" tanya Aldi lagi dengan menatap lekat wajah Naisa karna memang dia selalu saja di marahi oleh wanita sebelum nya saat dia membawa makanan yang mengandung banyak kalori atau lemak.