
"Kemana sayang?" tanya Andini kepada Aldi sedangkan Erdin hanya diam.
"Hanya berkeliling komplek, Kami berangkat" jawab dan pamit Aldi secara bersamaan dan langsung mendorong kembali kursi roda Naisa.
"Jika seperti itukan bagus, Kau sopan kepada kedua orang tua mu" ucap Naisa dengan senyum yang mengembang dan kepala yang menatap ke atas menatap Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan memilih melajukan jalan nya dan keluar dari pekarangan rumah nya tersebut.
Aldi membawa Naisa berjalan berkeliling komplek perumahan nya dengan Naisa duduk di atas kursi roda dan Aldi yang mendorong nya. "Kenapa rambutmu di ikat seperti ini?" tanya Aldi saat melihat rambut Naisa yang terikat bundar.
"Aku menyukai ikatan ini" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Kenapa kau menyukainya?" tanya Aldi dengan dahi yang mengerut menatap kepala Naisa karna dia sangat tidak menyukai leher Naisa terbuka seperti itu.
"Hem, Tidak tau, Aku merasa nyaman saja" jawab Naisa lagi akan pertanyaan Aldi. Aldi tidak menjawab nya lagi dan melepaskan ikat rambut wanita itu hingga membuat rambut nya yang lembut itu langsung terjatuh dan sama sekali tidak kusut dan tetap rapi.
Aldi berpindah ke hadapan Naisa, Dia menjongkokkkan tubuh nya di hadapan Naisa dan merapikan rambut Naisa itu hingga menutup dada nya karna memang rambut Naisa itu panjang. "Jika keluar jangan mengikat rambut mu ini, Aku tidak suka jika lehermu di lihat banyak orang" ucap Aldi dengan tangan yang masih merapikan rambut Naisa.
Naisa terdiam dan menatap lekat wajah Aldi yang ada di hadapan nya itu dan itu terlihat sangat jelas dan dekat. "Dia memang sangat tampan" guman Naisa yang baru sadar akan ketampanan Aldi saat melihat Aldi yang merapikan rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aldi menatap ke arah Naisa yang menatap lekat dirinya dengan tersenyum, Dahinya sedikit mengerut saat melihat senyuman wanita itu tapi dia tidak mau senyum itu menghilang.
"Pasti dia menatap ketampanan ku" guman Aldi dan langsung membenarkan rambutnya yang sudah rapi itu. Naisa tersadar akan lamunan nya saat melihat Aldi merapikan rambut nya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naisa dan sontak langsung mendorong Aldi hingga terduduk di atas aspal atau jalanan di sana.
"Shht wanita ini" umpat Aldi yang kesal karna ini pertama kali nya ada yang berani mendorong nya hingga dirinya terjatuh di tambah lagi dia kesal karna dia merasa baju nya kotor akibat duduk di atas aspal itu padahal tidak terlalu kotor.
"Berani nya kau mendorong ku" ucap Aldi sedikit dengan nada yang meninggi dan menatap Naisa.
"Kau yang terlalu dekat di hadapan ku makanya aku sontak langsung mendorong mu" jawab Naisa yang tak mau kalah dan juga ikut menggunakan nada tinggi.
"Ya kau tidak usah mendorong juga" ketus Aldi.
"Aku kan sudah bilang jika itu sontak saja aku lakukan tanpa berpikir" jawab Naisa yang juga dengan nada tinggi.
"Makanya berpikir sebelum berbuat" ketus Aldi lagi. Naisa terdiam dan tidak bisa lagi menjawab ucapan Aldi dan hanya menatap kesal ke arah Aldi tapi dia sadar akan jika memang dia yang salah, Naisa langsung menundukkan kepala.
"Maaf, Aku tidak sengaja tadi" ucap Naisa dengan nada pelan kepada Aldi dengan kepala yang masih menunduk. Aldi yang awal nya menoleh ke sembarang arah pun langsung menoleh ke arah Naisa saat mendengar permintaan maaf Naisa. Aldi beranjak berdiri dari duduk nya tadi dan menatap lekat Naisa yang masih menundukkan kepala itu.
Naisa mendongakkan kepala nya karna dia tidak mendapatkan jawaban dari Aldi. "Apa kau memaafkan ku?" tanya Naisa dengan wajah sejuk nya menatap Aldi.
Aldi yang melihat wajah itu pun langsung membuang pandang nya. "Berjanjilah untuk tidak keluar dari rumah dengan rambut yang di ikat bundar Seperti tadi" ucap Aldi dengan pandangan entah kemana dan kedua tangan yang ia lipat di atas perut nya.
"Kenapa aku harus berjanji?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi.
"Karna itu akan menjadi milikku dan tidak boleh ada yang melihatnya kecuali aku" jawab Aldi dengan wajah datar nya menatap Naisa.
"Aku ikuti atau tidak ya?" guman Naisa yang bingung mengiyakan atau tidak ucapan Aldi itu.
"Bagaimana?" tanya Aldi dengan menatap Naisa.
"Aku ikuti saja, Lagi pula itu juga baik untukku bukan?" guman Naisa karna memang menurutnya itu baik.
"Baiklah, Aku akan menuruti ucapan mu" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Awas saja jika kau melanggar janji itu" ucap Aldi dan kembali berjalan ke belakang dan kembali melanjutkan mendorong kursi roda yang di duduki Naisa. Aldi mendorong kursi roda wanita itu dengan pelan supaya Naisa bisa menghapal tempat tempat di sana.
"Perumahan di sini bagus bagus dan mewah mewah yah" ucap Naisa yang merasa tidak percaya diri jika hidup bersama Aldi nanti.
"Hem, Ini memang perumahan elit" jawab Aldi akan ucapan Naisa.
"Pasti mereka memiliki istri atau suami yang kaya bukan?" tanya Naisa kepada Aldi.
"Tidak juga" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa itu karna setau nya ada beberapa orang yang memilih menikah dengn kalangan biasa saja.
"Apa nanti kau yakin akan menikah dengan ku? aku ini tidak memiliki apa apa dan ayah dan ibuku juga sudah tidak ada" ucap Naisa tanpa menatap ke arah Aldi dan hanya menatap ke depan.
"Jelas saja yakin, Aku tidak memperdulikan kau dari kalangan mana mau itu orang kaya atu tidak aku akan menikahi mu bila perlu sekarang, Jadi kau tidak usah berpikir jika kau tidak layak untukku, Seharus nya aku yang berkata seperti itu karna aku yang tidak layak untuk orang baik seperti mu sedangkan aku pendosa seperti ini, Aku sngat beruntung bertemu dengan mu" jelas Aldi dan menatap ke arah Naisa dengan senyum yang melebar. Naisa menatap lekat ke arah Aldi yang juga menatap nya itu, Entahlah wanita itu tidak tau apa yang ia rasakan sat ini, Di satu sisi dia sangat beruntung memiliki Aldi yang selalu ada untuk nya dan di sini lain dia merasa jika dia tidak pantas untuk Aldi karna kasta mereka sangat berbeda dan malah jauh.
"Jangan berpikir yang aneh aneh" ucap Aldi dan mengusap lembut kepala Naisa. Naisa hanya tersenyum dan Aldi pun kembali melanjutkan langkah kaki nya dengan mendorong kursi roda milik Naisa.
Di rumah Aldi.
Dritttt
Ponsel Asma yang berada di samping tempat tidur nya berbunyi dan itu menandakan jika ada yang menghubungi nya, Asma yang masih tertidur pun terbangun dan meraba raba di mana letak ponsel nya. "Halo ada apa?" tanya Asma saat meletakkan ponsel di dekat telinga nya karna ponsel nya itu akan terangkat otomatis jika ada yang menelpon dan di letakkan di dekat telinga.
"Halo As, Kau di mana? aku di rumah mu tapi kau tidak ada di rumah dan rumah juga kosong" terdengar suara lelaki dari balik telpon itu, Asma langsung melihat siapa yang menelpon nya dan terlihat nama Angga tertera di layar ponsel nya.
"Astaga" guman Asma dan langsung membuka sempurna mata nya dan langsung duduk dari tidur nya.
"As, Apa kau mendengarkan ku?" tanya Angga karna belum mendapatkan jawaban dari Asma.
"Bagaimana Angga?" tanya Merri ibu Angga kepada Angga.
"Sebentar ma" jawab Angga yang terdengar jelas oleh Asma.
"Halo" ucap Angga lagi dan melihat layar ponsel nya dan telpon nya masih terhubung kepada Asma.
"Iya, Ku tidak tinggal di rumah sementara ini" jawab Asma sedikit gelagapan saat sudah mendengar suara ibu Angga.
"Jadi kau tinggal di mana sekarang? aku datang bersama mama dan papa ku untuk...." ucap Angga yang terpotong oleh Merri.
"Jangan di katakan" ucap Merri karna untuk memberi kejutan kepada Asma. Asma selama Naisa dan Aldi pergi camping beberapa hari ini dia memang selalu bermain ke rumah Angga dan bertemu kedua orang tua Angga tapi dia tidak tau akan apa yang di maksud Angga saat ini.
"Aku tinggal di rumah mama angkatku, Mama Aldi" jawab Asma tanpa bertanya ucapan Angga yang terpotong tadi.
"Di mana alamatnya?" tanya Angga kepada Asma.
"Sebentar" jawab Asma dan mengirimkan alamat rumah Aldi kepada Angga.
Ting
Ponsel Angga berbunyi menandakan jika ada pesan masuk ke dalam ponsel nya, Angga langsung membuka nya dan terlihat itu pesan yang si kirimkan oleh Asma kepada nya dan itu pesan berupa lokasi.
"Sudah kau terima pesan nya?" tanya Asma kepada Angga.
"Hem, Baiklah aku akan ke sana" jawab Angga dan langsung mematikan telpon begitupun dengan Asma yang juga mematikan telpon.
"Hah, Apa yang akan dia lakukan ke sini? bersama kedua orang tuanya? apa dia ingin melamarku?" tanya Asma kepada diri sendiri berkali kali. Asma memikirkan apa yang akan di lakukan oleh Angga sampai ingin menemui nya bersama kedua orang tua nya.
"Ah, Tidak aku harus secepatnya mandi" ucap Asma dan langsung turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi tanpa sadar akan Naisa yang sudah tidak ada di dalam kamar nya. Asma bergegas mandi tapi dia tetap menggunakan sabun dengan bagus dan juga sikat gigi dengan bagsu. Setelah dia selesai mandi Asma langsung keluar dan menuju ke ruang ganti dan langsung mengganti dan memilih baju yang bagus untuk di kenakan.
"Ini?" ucap Asma dan milihat baju yang ia ambil tadi tapi dia tidak sesuai akan baju itu, Asma kembali mengeluarkan seluruh baju nya hingga beberapa kali memilih tidak ada yang cocok hingga akhir nya baju yang terakhir baru cocok untuk nya. Asma langsung mengenakan baju itu dan sedikit merias wajah nya.
Angga dan kedua orang tua nya baru saja sampai di depan rumah Aldi. "Apa benar ini alamat nya?" guman Angga yang merasa salah rumah. Angga langsung menghubungi Asma untuk memastikan apa benar atau tidak rumah yang ia singgahi itu rumah yang di tempati Asma.
"Halo" ucap Asma saat telpon sudah di angkat.
"Aku sudah berada di depan alamat yang kau berikan, Apa benar ini alamat nya?" tanya Angga kepada Asma.
"Sebentar" ucap Asma dan berlalu keluar dan benar saja Angga sudah datang karna dia bisa melihat mobil Angga yang ada di depan pagar.
"Iya kau sudah sampai" ucap Asma.
"Dia anak orang kaya" guman Angga yang merasa insecure dengan Asma yang berasal dari keluarga kaya meskipun dia juga terbilang kaya.
"Bagaimana nak?" tanya Merri kepada Angga.
"Ini benar alamat nya ma" jawab Angga. Mang Jony yang baru saja kembali dari toilet pun bisa melihat mobil Angga yang terparkir di depan pagar dan dia pun langsung keluar dan mengetuk kaca mobil itu.
"Mencari siapa tuan?" tanya mang Jony kepada Angga.