I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 38



Hari ini adalah hari di mana Naisa dan teman teman sekelas nya naik ke bangku kelas tiga. Semua orang memilih bangku masing masing tapi tidak dengan Aldi yang memperhatikan Naisa. Saat Naisa sudah duduk di salah satu bangku baru dia menghampiri Naisa dan duduk di samping Naisa. "Bapak masih duduk di dekat saya?" tanya Naisa kepada Aldi, panggilan bapak dari Naisa untuk Aldi tidak pernah hilang sampai saat ini, Naisa juga masih bekerja di toko bunga milik ibu Aldi makanya panggilan itu melekat di benak nya dan dia juga sudah terbiasa dengan panggilan itu.


"Memang nya ada tulisan tertulis di sini jika tidak boleh di duduki?" tanya Aldi datar kepada Naisa.


"Saya kan cuma bertanya" ucap Naisa kesal dan mengalihkan pandangan nya ke depan dan mengacuhkan Aldi. Satu tahun ini mereka sudah semakin dekat dan Naisa juga jika berbicara dengan Aldi tidak lagi menundukkan kepala seperti dulu karna dia sudah merasa dekat dengan Aldi sebagai sahabat.


Aldi menanggapi wajah kesal wanita itu dengan senyuman dan setelah itu ikut menoleh ke arah papan tulis. Naisa nampak fokus belajar begitupun dengan Aldi meskipun sesekali dia melirik ke arah Naisa yang sedang fokus dan sama sekali tidak melirik nya itu. "Ah bosan sekali" ucap Aldi yang ingin merangkul pundak Naisa tapi dengan segera Naisa menundukkan kepala nya dan terhindar dari tangan Aldi.


"Kenapa kau menunduk?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa tidak menjawab nya dan masih fokus ke pelajaran nya tapi tidak dengan Aldi yang hanya menatap Naisa sedari tadi.


"Astaga kenapa dia menatap ku Seperti itu?" guman Naisa yang tidak nyaman akan tatapan Aldi kepada nya itu. Aldi bisa melihat jika Naisa tidak nyaman dan dia pun kembali membenarkan posisi duduk nya seperti semula.


"Huh" Naisa mendengus lega akan Aldi yang sudah duduk semula.


"Kenapa kau mendengus?" tanya Aldi kepada Naisa karna dia bisa mendengar dengusan Naisa.


"Memangnya ada tulisan tidak boleh mendengus hah?" tanya balik Naisa dengan melototkan kedua matanya kepada Aldi dan setelah itu kembali pokus ke belajar nya. Aldi menanggapi itu hanya dengan senyuman dan ikut kembali pokus ke pelajaran.


Renald yang sedari tadi memperhatikan Aldi dan juga Naisa hanya menahan sesak di dada nya melihat itu. "Seharusnya aku yang ada di sana" guman Renald menatap sedih ke arah Naisa dan juga Aldi.


Kringgggg


Bel pulang pun berbunyi dan semua orang membereskan peralatan belajar mereka masing masing tanpa terkecuali. "Kau pulang bersama ku" ucap Aldi.


"Saya bisa pulang jalan kaki sendiri" jawab Naisa.


"Aku ini tidak menawar tapi aku mengatakan nya" ucap Aldi akan penolakan Naisa tadi.


"Saya tidak mau" tolak Naisa.


"Aku tidak meminta persetujuan dari mu" ucap Aldi.


"Tapi kau..." ucap Naisa terpotong oleh Aldi.


"Yasudah jika kau mau pulang jalan kaki" jawab Aldi dan langsung berlalu dari kelas dalam kelas itu tanpa menunggu Naisa. Naisa tidak memperdulikan nya dan langsung mengenakan tas nya dan langsung berlalu keluar dari kelas.


"Bawa mobil ku" ucap Aldi saat sampai di bawah kepada Renald dan juga Syar.


"Kau mau kemana?" tanya Renald.


"Aku ingin berjalan kaki" jawab Aldi. Naisa sudah sampai di bawah dan dia tidak memperdulikan orang dan hanya menundukkan kepala nya.


"Tumben sekali kau ingin berjalan kaki" ucap Syar.


"Apa aku memang harus mengikhlaskan nya bersama dengan Aldi?" guman Renald yang sudah menyerah mengejar Naisa.


"Hey, Ayo masuk" ajak Syar kepada Renald yang termenung itu. Renald mengangguk mengiyakan nya dan masuk ke dalam mobil Aldi karna dia dan Syar berangkat bersama dengan Aldi dan Maya tidak sekolah hari ini karna dia masih di amerika dan besom baru pulang ke indonesia dan bersekolah kembali.


Aldi mengikuti Naisa dari belakang tanpa di ketahui oleh Naisa. "Kenapa dia tidak memperhatikan ku?" guman Aldi saat melihat Naisa sama sekali tidak memperhatikan nya. Aldi berjalan melewati Naisa lewat samping kanan Naisa tanpa di ketahui Naisa sama sekali dengan langkah kaki yang sangat pelan supaya Naisa tidak menyadari nya.


"Huh, Aku merindukan ayah" guman Naisa dengan menundukkan kepala nya dan berjalan lemas.


Brukkk


"Ah" ucap Naisa dengan kepala nya yang tertabrak sesuatu dan yang ia tabrak itu adalah dada Aldi sedangkan Aldi dia hanya melihat Naisa dengan senyum yang mengembang.


Naisa melihat ke bawah dan melihat kaki yang di balut sepatu berwarna biru dongker itu dan setelah itu dia langsung mengangkat kepala nya untuk melihat siapa orang yang ia tabrak itu. "pak Aldi?" ucap Naisa yang keget dan sedikit bingung akan Aldi yang tiba tiba muncul di depan nya. Aldi melebarkan senyuman nya dengan menatap Naisa yang juga menatap nya itu.


"Bapak kenapa bisa muncul tiba tiba di sini seperti hantu?" tanya Naisa yang bingung dengan kembali membuang tatapan nya dari Aldi.


"Apa jangan jangan bapak memang hantu?" tanya Naisa dengan kembali menghadap ke arah Aldi.


"Hem? memang nya ada hantu setampan aku?" tanya balik Aldi kepada Naisa.


"Dih, Siapa yang mengatakan bapak tampan?" tanya balik Naisa.


"Banyak wanita yang mengatakan jika aku ini tampan" jawab Aldi dengan nada sombong dan dada yang membusung ke depan. Naisa tidak menjawab nya lagi dan kembali melanjutkan perjalanan nya ke tujuan awal yakni rumah nya. Aldi tidak tinggal diam dan dia pun mengikuti Naisa dengan sedikit berlari karna ingin berjalan sejajar dengan Naisa.


Saat sampai di dekat Naisa, Naisa menoleh sebentar dan setelah itu kembali membuang pandangan nya dari Aldi. "Bapak kenapa mengikuti saya?" tanya Naisa tanpa menghentika langkah kaki nya dan tidak menatap Aldi.


"Siapa yang mengikuti mu?" tanya kembali Aldi kepada Naisa.


"Jadi bapak mau kemana?" tanya Naisa yang tidak menjawab pertanyaan Aldi tadi.


"Pulang ke rumah" jawab Aldi dengan menatap Naisa yang tidak menatap nya itu. Naisa tidak menajwab nya lagi dan kembali berjalan santai sampai akhirnya dia sampai di dekat rumah nya.


Saat sampai dan ingin masuk pekarangan rumah nya Aldi juga ingin mengikuti nya dan itu membuat langkah kaki nya terhenti."Bapak mau kemana?" tanya Naisa kepada Aldi yang berdiri di belakang nya dan dia menoleh ke arah Aldi. Aldi melihat jika dia sudah sampai di depan rumah Naisa karna sedari tadi dia mengikuti langkah kaki Naisa makanya dia sampai tidak sadar jika ingin mengikuti Naisa masuk ke dalam rumah.


"Apa?" tanya balik Aldi dengan memundurkan langkah kaki nya dan berpura pura tidak tau jika tadi dia mengikuti Naisa.


"Huh" Naisa mendengus kasar karna Aldi yang selalu bertanya kembali saat dirinya bertanya.


"Bapak tadi mengikuti saya saat saya ingin masuk ke rumah" jawab Naisa dengan nada rendah tapi kesal.


"Benarkah?" tanya Aldi yang berpura pura tidak tau lagi.