
Sedangakn Maya dia membawa mobil Aldi dan Renald membawa mobil nya sendiri. Andini sedari tadi menangis saat melihat anak nya yang di kenakan alat membantu pernapasan (Oksigen) di tambah lagi darah yang nampak mengalir sedikit dari kepala Aldi.
Di dalam mobil Naisa, Asma tidak kalah hawatir saat melihat dahi Naisa juga terluka Mungkin karna di siksa oleh Asanti sebelum Aldi datang tadi.
Beberapa menit menempuh jalanan padat akhirnya kedua ambulance yang membawa Naisa dan juga Aldi sampai di rumah sakit yang tidak jauh dari sana, Para perawat pun langsung membawa roling yang di baringi oleh Naisa dan juga Aldi masuk ke dalam rumah sakit dengan segera dan memasukkan di ruangan yang berbeda.
"Mohon menunggu di luar" ucap para perawat saat Andini dan juga Asma ingin masuk ke dalam ruangan Aldi dan Naisa, Andini dan Asma tidak menjawab nya dan memilih untuk mendudukkan tubuh mereka di atas kursi yang ada di antara ruangan Aldi dan Naisa.
"Semoga mereka baik baik saja" guman Asma dengan mencoba menenangkan Andini supaya tidak menangis dan hawatir lagi.
Di dalam ruangan Naisa dokter memberikan oksigen dengan baik kepada Naisa karna nafas Naisa tadi hampir habis.
Huh, Huh
Naisa bernafas terengah engah karna paru paru nya sakit akibat menghirup asap terlalu banyak, Dokter kembali memberikan oksigen kepada Naisa. "Huh" dokter yang menangani Naisa mendengus lega karna pernafasan Naisa sudah kembali normal.
Di ruangan Aldi para dokter membersihkan luka di kepala Aldi bagian belakang dan Aldi kekurangan satu kantong darah dan untung nya di rumah sakit itu golongan darah yang sama dengan Aldi masih ada dua kantong makanya dokter langsung mentranfer darah itu kepada Aldi.
Ckleek
Pintu ruangan Naisa terbuka terlebih dahulu, Andini dan Asma langsung menghampiri dokter yang memeriksa Naisa itu. "Bagaimana keadaan Naisa?" tanya Asma sedangkan Andini dia tidak bisa berbicara akibat isakan tangis yang masih ada.
"Tidak ada masalah serius di tubuh pasien, Hanya saja pasien kehabisan oksigen karna menghirup asap terlalu banyak" jelas dokter itu.
"Syukur lah" ucap Asma yang lega.
"Yasudah kalau begitu saya permisi" pamit dokter itu, Andini dan Asma mengngguk mengiyakan nya dan dokter tadi pun langsung berlalu dari sana.
Ckleek
Pintu ruangan Aldi pun terbuka dan Asma, Andini pun langsung menoleh ke arah pintu ruangan Aldi itu dan berjalan ke arah sana. "Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Andini yang sangat hawatir kepada dokter yang memeriksa Aldi.
"Pasien kekurangan satu kantong darah akibat banyak nya keluar darah dari kepala beliau..." ucap dokter itu terpotong oleh Andini.
"Tapi anak saya baik baik saja kan dok?" tanya Andini hawatir.
"Saya belum selesai berbicara bu" ucap dokter itu sambil melebarkan senyuman nya kepada Andini dengan nada lembut karna dia tau kehawatiran Andini.
"Pasien sekarang sudah baik baik saja karna stok darah golongan yang sama dengan beliau masih ada, Hanya saja beliau belum bangun" jelas dokter itu.
"Kenapa anak saya belum bangun?" tanya Andini.
"Memang jika orang kehilangan darah akan lambat bangun dan kemungkinan akan koma" jelas dokter itu lagi, Andini kembali menangis.
"Bagaimana keadaan Al dan Naisa?" tanya Erdin yang baru sampai karna terjebak macet.
"Al masih belum sadar pa, Sedangkan Naisa dia sudah baik baik saja" jelas Asma kepada Erdin dan juga Maya, Renald yang juga sudah datang bersamaan dengan Erdin.
"Astaga" Erdin menyenderkan tubuh nya di dinding saat mendengar keadaan anak nya itu karna dia sangat hawatir kan anak nya itu. Roling yang berisikan Naisa pun keluar dari ruangan Naisa, Para perawat itu membawa Naisa ke ruang rawat dan setelah itu roling membawa Aldi juga keluar dan membawa Aldi ke ruang rawat juga.
"Pak, Biarkan anak saya satu ruangan dengan pasien itu" ucap Erdin saat melihat orang ingin membawa roling Aldi ke arah sebalik nya dari Naisa.
"Tapi pak..." ucap perawat itu terpotong oleh Erdin.
"Mereka berdua anak saya" potong Erdin.
"Yasudah baik ak" jawab perawat itu dan memutar balik roling Aldi dan membawa nya ke ruangan yang sama dengan Naisa. Erdin dan yang lain nya mengikuti mereka dan masuk ke dalam sana.
Naisa masih belum sadarkan diri dengan kepala yang beperban kecil begitupun dengan Aldi dengan kepala yang menggunakan gips. Maya dan Renald memilih ke dekat Naisa karna Erdin dan yang lain nya berada di dekat Aldi dan yang pasti mereka berada di antara Naisa dan juga Aldi.
"Kasihan sekali kau" guman Renald dengan menatap lekat wajah Naisa dengan mata yang terpejam dan mengenakan selang oksigen.
Andini mengusap lembut pucuk kepala Aldi. "Bangun lah nak" bisik Andini di telinga Aldi dengan air mata yang terus mengalir.
"Duduk lah" ucap Renald mempersilahkan Maya untuk duduk di kursi di samping Naisa, Maya mengiyakan nya dan duduk tepat di atas kursi itu.
"Cepat lah sembuh kalian" guman Maya dengan menatap Aldi dan juga Naisa secara bergantian dengan tangan yang mengusap lembut kepala Naisa.
Hari sudah malam, Maya sudah tertidur di samping Naisa dengan memegang tangan Naisa karna dia menyayangi Naisa sekarang sebagai saudara kandung nya, Sedangkan Renald dia duduk di atas sofa yang ada di sudut kanan dan tertidur di sana bersama dengan Erdin sedangkan Asma dia tidur di sofa sebelah kiri di dekat Aldi dan Andini tidur di samping Aldi dengan posisi sama seperti Maya.
Tangan Naisa bergerak menandakan jika dia sudah sadar, Maya bisa merasakan gerakan tangan Naisa itu pun terbangun dari tidur nya dan menatap tangan Naisa sudah bergerak. "Naisa sudah bangun" teriak Maya yang sangat senang melihat tangan Naisa bergerak, Semua orang di sana terbangun tapi tidak dengan Aldi yang masih belum sadarkan diri. Erdin dan juga Renald berjalan ke arah Naisa begitupun dengan Andini dan Asma.
Mata Naisa terbuka tapi belum sepenuh nya terbuka. "Kau sudah bangun sayang" ucap Andini yang senang akan Naisa yang sudah bangun. Naisa tidak menjawab nya dan melihat orang sekeliling nya dan tidak ada Aldi orang yang ia cari saat pertama bangun.
"Di mana Al?" tanya Naisa dengan nada sangat pelan dan itu membuat semua orang tida mendengar kan suara nya.
"Apa nak?" tanya Andini dengan nada lembut kepada Naisa.
"Al, di mana?" tanya Naisa lagi dengan nada yang masih rendah.
"Katakan lagi" perintah Maya dan mendekat kan telinga nya ke dekat mulut Naisa.
"Al, Dimana?" tanya Naisa lagi dengan suara rendah.