I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 103



"Jangan bekerja" ucap Aldi dengan wajah serius nya kepada Naisa.


"Pak Aldi, Mohon bersikap lah sewajarnya dengan bawahan" ucap Naisa. Aldi terdiam dan tidak lagi menjawab, Dia menatap lekat wajah Naisa yang sedang berada di hadapan nya itu. Naisa melepaskan tangan nya dari Aldi meskipun sedikit susah tapi akhirnya dia bisa melepaskan tangan nya itu.


Naisa langsung berlalu dari sana dan membantu Elka menyusun karangan bunga itu. "Ada apa dengan nya? apa masalah nya ada kaitan nya dengan ku?" guman Aldi yang sangat bingung melihat tingkah Naisa apa lagi saat dia mendengar ucapan Naisa yang memanggil nya pak tadi.


"Ah sudah lah, Lebih baik aku ke ruangan ku saja" guman Aldi dan berlalu dari sana dan keluar dari area belakang dan menuju ke depan, Asma yang melihat Aldi pun menyapa.


"Sudah bertemu dengan pujaan hati mu?" tanya Asma tanpa menatap Aldi dan pokus ke pekerjaan nya. Aldi tidak menjawab atau pun memperdulikan nya dia langsung masuk ke dalam ruangan nya.


Brakk


Aldi membanting pintu itu, Asma yang sedang pokus ke pekerjaan nya pun kaget dan menoleh ke arah pintu ruangan Aldi begitupun dengan banyak nya pekerja yang ada di sana yang juga kaget mendengar suara pintu yang di banting oleh Aldi. "Kenapa anak itu?'' guman Asma dengan tatapan bingung menatap pintu ruangan Aldi.


"Mbak" panggil pembeli yang sedang berada di hadapan Asma. Asma menoleh ke depan dan melihat pembeli dan setelah itu baru dia melayani pembeli itu.


Aldi mendudukkan tubuh nya di atas kursi bos nya bukan di atas kursi sofa yang ada di dalam kamar nya. "Naisa" ucap Aldi dan menatap langit langit ruangan nya itu.


"Kau selalu saja menghantui pikiran ku" ucap Aldi dan duduk seperti semula.


"Aku baru kali ini merasakan sayang terhadap wanita seperti ini" ucap Aldi yang sadar jika dia sangat mencintai dan menyayangi Naisa.


"Aku ingin dia menjadi milikku seutuh nya" ucap Aldi lagi dan langsung menghempaskan tubuh nya di sandaran kursi nya itu. Aldi memejamkan mata nya dan pikiran nya selalu di hantui oleh bayangan Naisa, Tawa Naisa selalu terbayang di pikiran nya tapi tiba tiba dia terbayang dan teringat akan Naisa yang menangis tadi.


"Apa masalah yang ia miliki?" guman Aldi yang berpikir apa masalah yang di miliki oleh Naisa.


"Apa ada hubungan nya dengan ku?" guman Aldi kembali dan kembali duduk sempurna seperti tadi.


"Ah tidak" ucap Aldi dan langsung membuka laptop nya dan melihat cctv yang terhubung di laptop itu dan dia pun langsung mencari keberadaan Naisa. Setelah dia menemukan keberadaan Naisa dia menatap lekat wanita yang sedang membuat karangan bunga itu, Senyum di wajah wanita itu sama sekali tidak terpancar selama Aldi melihat cctv itu.


"Ada apa ini? biasa nya dia selalu tersenyum kepada siapapun" guman Aldi saat sadar jika sedari tadi dia memperhatikan Naisa, Naisa sama sekali tidak tersenyum atau pun berbicara, jika pun itu berbicara Elka yang mengajak nya berbicara dan wajah nya nampak datar sedari tadi.


Beberapa jam Aldi menatap Naisa dari cctv akhirnya Naisa beranjak dari sana karna sudah selesai. "Mau kemana dia?" guman Aldi saat melihat Naisa berlalu dari sana, Aldi langsung keluar dari cctv d belakang dan melihat ke cctv lain kemana pergi nya Naisa. Naisa pergi ke ruang loker, melepaskan celemek yang ia gunakan dan mengambil barang barang nya dari dalam loker tempat nya.


"Dia mau kemana lagi?" guman Aldi saat melihat Naisa sudah mengenakan tas dan berlalu dari sana. Aldi kembali keluar dari cctv loker dan melihat kemana arah Naisa pergi dan ternyata Naisa pergi ke dekat Asma.


"Kak aku akan pulang" ucap Naisa datar dan sangat tidak nampak jika dia bersemangat.


"Cepat sekali, Bukan nya kau hari ini tidak kuliah?" tanya Asma kepada Naisa karna memang hari ini jadwal nya libur kuliah.


"Aku lelah dan ingin istirahat makanya aku pulang sekarang" jawab Naisa dengan melebarkan senyum malas nya.


"Yasudah, Hati hati, Jika ada apa apa cepat hubungi kakak" ucap Asma, Naisa tidak menjawab nya dan langsung berlalu dari dekat Asma.


"Mau kemana lagi dia?" ucap Aldi saat melihat Naisa berjalan ke arah pintu keluar masuk toko itu. Naisa keluar dari toko itu dan berjalan kaki meninggalakan toko itu. Aldi langsung mematikan komputer tadi dan langsung keluar dari ruangan nya itu.


"Mau kemana Naisa kak?" tanya Aldi kepada Asma.


"Hem" jawab Asma dan mengangkat bahu nya menandakan jika dia tidak tau jika Naisa ingin kemana karna Naisa juga tidak mengatakan dia ingin kemana kepada Asma.


"Bukannya dia berbicara atau berpamitan dengan mu?" tanya Aldi kepada Asma dengan menatap lekat Asma.


"Dia hanya berpamitan kepada ku" jawab Asma datar.


"Kemana?" tanya Aldi lagi.


"Dia tidak bilang ingin ke mana" jawab Asma datar. Aldi tidak menjawab nya lagi dan ingin keluar tapi dia tidak ingin membawa mobil karna ingin mengikuti Naisa dengan berjalan kaki.


"Bawa mobilku pulang" ucap Aldi kepada Asma dan memberikan kunci mobil nya kepada Asma, Asma tidak menjawab nya dam menerima kunci mobil Aldi karna memang dia tau menyetir mobil. Aldi langsung keluar dari toko itu dan mengikuti Naisa dari belakang diam diam.


Seerti dugaan Aldi, Naisa pasti berjalan kaki, Aldi tidak menyapa atau pun memanggil Naisa dia hanya mengikuti Naisa dari belakang tanpa sepengatahuan Naisa. "Loh ini kan makam orang tua nya?" guman Aldi saat mengikuti Naisa dan melihat nama pemakaman yang di masuki oleh Naisa.


"Dia merindukan orang tua nya?" guman Aldi dan langsung masuk ke dalam makam itu. Saat Aldi masuk dia langsung menyusul Naisa, Naisa nampak berjongkok di antara makam kedua orang tua nya, Dia meletakkan dua bunga yang ia buat sendiri tadi di toko.


"Bunga?" guman Aldi karna dia tidak tau jika Naisa membawa bunga.


"Sudah dua tahun ayah meninggalkan Naisa" ucap Naisa dengan mengusap lembut batu nisan ayah nya itu. Aldi bisa mendengar jelas ucapan Naisa itu karna dia lumayan dekat jarak nya dengan Naisa.


"Hari ini hari di mana ayah meninggal?" guman Aldi dan mengingat ingat kapan ayah Naisa meninggal dan baru teringat.


"Nai sangat merindukan ayah" ucap Naisa dan langsung terisak di antara makam kedua orang tua nya.


"Kalian kenapa tidak pernah menemui Naisa? Naisa sangat merindukan kalian" ucap Naisa yang sudah terisak karna dia sangat merindukan kedua orang tua nya. Aldi bisa mendengar dan melihat jelas Naisa yang sedang menangis di antara pusaran kedua orang tua nya.


"Oh iya" ucap Aldi yang baru ingat jika hari ini hari kepergian ayah Naisa. Naisa menghentiakn tangis nya karna mendengar suara orang yang sangat jelas di telinga nya. Naisa menghapus air mata nya dan menoleh ke belakang.


"Al?" ucap Naisa saat melihat Aldi yang berdiri di belakang nya. Aldi langsung tersadar akan suara nya yang kencang sampai Naisa mendengar suara nya. Aldi mendekat ke arah Naisa dan menjongkokkan tubuh nya di hadapan Naisa di samping makam ayah Naisa.


"Kau merindukan ayah?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Sudah tau masih saja bertanya" ketus Naisa dan menghapus bekas air mata di wajah nya.


"Kenapa kau tidak memberitahu ku jika kau merindukan ayah?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Untuk apa aku memberitahu mu?" tanya Naisa kepada Aldi dengan wajah yang masih sedikit sembab akibat menangis.


"Supaya aku menemani mu" jawab Aldi dengan senyum menatap Naisa. Naisa menoleh ke arah Aldi.


"Aku tidak perlu, Kau kan juga sering ke sini" ucap Naisa dengan wajah kembali datar.


"Kau sangat perlu, Aku memang sering ke sini untuk berkunjung tapi sekarang hari ayah pergi meninggalakan kita aku akan meminta izin kepada ayah dan ibu mu" jelas Aldi dengan menatap lekat Naisa.


Naisa menoleh ke arah Aldi dengan tatapan bingung. "Minta izin ingin kemana?" tanya Naisa dengan menatap Aldi.


"Meminta izin untuk menikahi mu" jawab Aldi dengan melebarkan senyuman nya kepada Naisa dan setelah itu menatap pusaran kedua orang tua Naisa. Naisa tidak menjawab dan hanya menatap datar dan biasa saja ke arah Aldi meskipun hati nya tidak biasa saja.


"Tenanglah" guman Naisa sambil memegang dasa nya karna jantung nya berdetak lebih cepat akibat ucapan Aldi.


Aldi beranjak berdiri dan berjalan mendekat ke arah Naisa, Aldi berjongkok di hadapan Naisa yang sedang berada di antara kedua makam orang tua nya itu. "Aku memang sering ke sini tapi hanya untuk berkunjung tapi saat ini aku akan meminta izin dengan ayah dan juga ibu untuk menikahkan Naisa" jelas Aldi dengan menatap lekat kedua pusaran yang ada di antara nya itu.


"Aldi ingin meminta restu dari ayah dan ibu untuk menikahi Naisa, Biar pun bukan sekarang atau dalam waktu dekat karna Naisa belum yakin akan Al" jelas Aldi kembali dengan menatap kembali makam kedua orang tua Naisa itu Sedangakn Naisa dia bisa melihat jelas wajah Aldi yang tersenyum di hadapan nya itu.


"Al sangat mencintai anak ayah dan ibu, Jadi Al akan menunggu sampai anak ayah dna ibu menerima Al meskipun bertahun tahun" ucap Aldi lagi dengan senyum kecewa nya karna mengingat Naisa menyuruh nya menunggu saat selesai kuliah. Wajah Aldi nampak sangat serius berbicara dan berbincang dengan kedua makam orang tua Naisa itu dan Naisa bisa melihat keseriusan dari mata Aldi dan cara berbicara dan senyum Aldi.


"Al akan berusaha membuat Naisa yakin akan Al yang memang bukan orang baik ini yah, bu" ucap Aldi lagi dengan wajah kecewa menatap kedua makam orang tua Naisa.


"Tatapan, Bentuk wajah dan cara bicara nya nampak sangat serius ingin menikahi ku, Tapi aku belum yakin akan diri nya, Apa dia benar benar mencintai ku atau hanya menginginkan hal lain" guman Naisa yang masih belum bisa yakin akan Aldi. Aldi terus berbincang dengan kedua makam orang tua Naisa itu Sedangakn Naisa hanya menatap dan memperhatikan nya sampai air mata nya terjatuh sendiri saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Aldi.


"Hey, Kau kenapa malah menangis?" tanya Aldi yang menyadari jika Naisa sudah mengekuarkan air mata di hadapan nya.


"Entah lah, aku sedikit tersentuh akan ucapan mu dan aku juga tidak percaya akan kau yang bisa berbicara sedewasa ini" jelas Naisa dengan menatap lekat Aldi dengan air mata yang kembali mengalir.


"Hey, Aku tidak menyuruh mu menangis" ucap Aldi dan mendekat ke arah Naisa dan menghapus air mata wanita itu. Naisa sedikit tertawa saat Aldi menghapus air mata nya dan Aldi juga ikut tersenyum saat melihat tawa Naisa.


"Al akan menjaga Naisa dengan baik" guman Aldi dengan senyum yang melebar menatap kedua makam itu dan setelah itu kembali menatap Naisa.


.


.


.


.


Halo reader maaf jika cerita nya kurang menarik karna otak author sangat tidak tau ingin menulis cerita tentang apa karna author saat ini sedang berada di dalam masa ujian semester jadi mohon di mengerti ya reader tercinta. Terima kasih❤


Satu lagi, Kalian para reader bisa tulis username instagram kalian karna instagram author sedang error jadi nanti author akan DM kalian buat minta nomor ponsel kalian untuk hadiah karna udah setia baca novel author.