
"Kenapa kau melepaskan cardigan mu?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Celana ku kotor, Tidak mungkin aku pergi dengan celana kotor seperti ini" jawab Naisa. Aldi mengangguk mengerti akan itu.
"Yasudah aku pulang dulu" pamit Naisa kepada Aldi.
"Kenapa pulang? bukan nya kau ingin memeriksa perut mu dengan dokter?'' tanya Aldi kepada Naisa.
"Dia ini memang tidak tau atau bagaimana?" guman Naisa menatap Aldi.
"Aku tidak perlu di periksa" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Kenapa? apa tidak sakit lagi?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Tidak apa apa" jawab Naisa.
"Sudah sembuh? cepat sekali sembuh nya, Apa kau mempunyai cara ampuh untuk menyembuhkan skit perut tanpa obat dan melakukan apapun?" tanya Aldi dengan menatap lekat Naisa karna dia sama sekali tidak mengetahui masalah datang bulan.
"Huh, Kau ini banyak tanya sekali, Diam lah dan kembali beristirahat, Aku akan pulang" ucap Naisa yang sudah mulai kesal akan Aldi yang sedari tadi bertanya kepada nya.
"Kenapa kau jadi marah?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Ah" ketus Naisa yang sudah sangat kesal akan Aldi dan langsung berlalu dari sana keluar dari rumah sakit itu dan berjalan cepat menuju ke rumah nya yang lumayan jauh dari rumah sakit itu.
"Kenapa dia marah marah?" guman Aldi heran menatap Pintu yang sudah tertutup itu.
"Kau kenapa melamun?" tanya Andini yang baru saja masuk tapi tidak ada Erdin karna dia ada urusan di kantor makanya dia meninggalkan rumah sakit itu dan Aldi tidak menyadari kedatangan Andini.
"Naisa tadi marah marah dengan Al" jawab Aldi yang baru sadar akan Andini dan menatap Andini.
"Kenapa dia marah?" tanya Andini kepada Aldi.
"Tidak tau, Tadi aku mengatakan bahwa celana nya bagian belakang ada bercak darah saat dia berdiri tadi aku melihat nya, Awal nya dia bilang sakit perut dan ingin memeriksa perut nya itu ke dokter tapi setelah itu tidak jadi dan aku bertanya kenapa tidak jadi, Nah dia menjawab nya dengan marah marah" jelas Aldi panjang lebar kepada Andini, Andini tersenyum mendengar cerita yang jelas kan oleh Aldi itu.
"Mama kenapa tersenyum?" tanya Aldi dengan tatapan bingung kepada Andini.
"Celana Naisa terdapat bercak darah?" tanya Andini kepada Aldi, Aldi mengangguk mengiyakan nya.
"Perut nya sakit?" tanya Andini kembali, Aldi kembali mengangguk mengiyakan nya.
"Perut nya sakit?" tanya Andini lagi, lagi lagi Aldi menganggukkan kepala nya.
"Itu tanda nya dia datang bulan, Makanya perut nya itu sakit dan marah marah kepada mu dan sakit perut itu tidak perlu di periksa ke dokter karna itu ciri khas wanita yang sedang datang bulan" jelas Andini kepada Aldi.
"Datang bulan?" ucap Aldi memikirkan apa itu datang bulan dan akhirnya dia teringat akan pelajaran yang pernah ia pelajari masalah itu dan memang itu akan terjadi terhadap perempuan setiap bulan nya.
"Perempuan datang bulan memang suka marah marah ya ma?" tanya Aldi kepada Andini.
"Perut sakit kenapa bisa?" tanya Aldi.
"Karna dinding rahim terkelupas makanya nya bisa mengeluarkan darah dan menyebabkan perut sakit" jelas Andini.
"Pasti sakit ya ma?" tanya Aldi karna dia membayangkan bagaimana sakit nya jika rahim terkelupas.
"Sangat sakit, Jadi kau tidak boleh menyakiti perempuan, Jika kau menyakiti perempuan sama saja kau menyakiti mama, Jadi jaga lah perempuan dengan baik mau itu dia buruk kah, Miskin kah, Atau apapun itu yang nama nya perempuan tetap harus di hargai dan di hormati dan tidak boleh di sakiti" jelas Andini kepada Aldi dengan senyum yang mengembang. Aldi mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang mengembang juga karna dia tidak pernah meragukan ucapan ibu nya itu dan dia sangat percaya jika datang bulan itu memang lah sakit.
"Yasudah istirahat lah kembali" ucap Andini lagi.
"Baiklah" jawab Aldi dan membenarkan posisi nya untuk tidur dan Andini menolong nya.
Di tempat Naisa.
Naisa sudah berjalan hampir sepuluh menit tapi dia masih belum sampai karna memang jarak dari rumah nya dan juga rumah sakit Aldi lumayan jauh. Beberapa menit akhirnya dia sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam rumah nya, Naisa tidak mau menaiki kendaraan umum karna takut cardigan nya itu akan ikut kotor makanya dia memilih untuk berjalan kaki menuju ke rumah nya.
"Astaga malu sekali aku di lihat oleh Aldi" ucap Naisa yang sudah berada di dalam kamar mandi dan melepaskan cardigan nya dan menatap celana bagian belakang nya dari kaca. Naisa dengan segera membersihkan celana nya itu dan setelah itu mengenakan pembalut yang sudah ia ambil tadi sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Ah sakit sekali perut ku" ucap Naisa saat dia sudah selesai mengenakan celana bersih yang ia bawa. Naisa dengan segera keluar dari kamar mandi itu dan menuju ke kamar nya.
Naisa mendudukkan tubuh nya di atas ranjang dengan tangan yang sedari tadi memegang perut, "Sakit sekali" ucap Naisa lagi dengan memegang perut nya dan hampir menangis karna kesakitan perut nya itu.
"Huh" Naisa menarik nafas panjang dan mencoba memejamkan mata nya karna setelah selesai tidur sebentar sakit perut nya akan hilang karna itu kebiasaan nya jika sakit perut. Naisa pun tertidur dengan tangan yang masih memegang perut nya.
Di tempat Renald dan juga Maya.
Mereka berdua memang selalu bersama dan sekarang mereka sedang berliburan di amerika bukan liburan tepat nya adalah mereka mencari tempat untuk di tinggal karna mereka akan kuliah di sana.
"Kau tau, Aku sangat bahagia setelah mendapatkan mu, Apa lagi kau sudah mencintai ku" ucap Maya dengan bersandar di bahu Renald sambil menikmati indahnya pemandangan sore hari di amerika.
"Benarkah?" tanya Renald kepada Maya.
"Hem, Sangat benar, Aku sangat mencintai mu dan aku harap kau tidak pernah mencintai orang lain dan hanya mencintai ku" jawab Maya dengan mendonggakkan kepala menatap Renald sekilas dan setelah itu kembali menatap pemandangan sore hari di amerika.
"Aku juga bahagia karna aku sudah menemukan cinta sejati ku yakni kau dan bukan Naisa" ucap Renald.
"Syukur lah jika kau sadar, Karna Naisa hanya untuk Al dan kau hanya untuk aku" jawab Maya dengan merangkul bahu kekar Renald.
"Hem, Aku mencintai mu" ucap Renald dengan mencium pucuk kepala Maya.
"Aku juga mencintai mu" jawab Maya dan menambah erat pelukan nya terhadap Renald.
Di toko bunga Andini flowers.
Asma nampak sedang termenung karna pelanggan sudah berhamburan pergi, "Huh" Asma mendengus kasar dan memainkan pena yang ada di tangan nya dan lebih tepat nya lagi terletak di antara jari tengah dan telunjuk nya.