I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 142



Aldi nampak tersenyum sendiri saat sudah berbicara dengan Erdin sang papa. Naisa juga ikut tersenyum melihat senyuman lelaki itu yang nampak sangat bahagia mungkin karna mendapatkan perlakuan baik dari ayah nya. Naisa mengalihkan pandang nya dan kembali menoleh ke luar jendela, Aldi menoleh ke arah Naisa dan melihat Naisa menoleh ke arah luar jendela.


"Terima kasih" guman Aldi dengan menatap lekat Naisa yang tidak menatap nya itu dengan senyum yang mengembang.


Beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga Aldi. Mang Jony turun terlebih dahulu dari mobil dan menurunkan kursi roda milik Naisa, Aldi beranjak turun dari dalam mobil dan keluar dari mobil itu dan kembali menggendong Naisa untuk keluar dan meletakkan wanita itu ke atas kursi roda dengan pelan. Aldi langsung melajukan langkah kaki nya dengan mendorong kursi roda milik Naisa masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan siapapun termasuk kedua orang tua nya.


"Di mana kamar yang bersih?" teriak Aldi sat masuk ke dalam rumah dan melihat para pelayan sedang bersih bersih.


"Semua kamar sudah di bersihkan tuan muda" jawab salah satu pelayan.


"Kau ingin tinggal di kamar atas atau di kamar bawah?" tanya Aldi dengan menatap lekat Naisa yang duduk di atas kursi roda itu.


"Di mana saja" jawab Naisa dengan melebarkan senyuman nya kepada Aldi. Aldi tidak menanggapi nya lagi dan langsung mendorong kursi roda yang di naiki Naisa itu dan masuk ke dalam lift. Erdin dan Andini yang baru saja masuk ke dalam rumah pun bisa melihat jika Aldi membawa Naisa masuk ke dalam lift.


Azlan dan Fany baru saja masuk dengan di ikuti oleh mang Jony dan juga mang Dadang yang membawa barang barang Naisa dan juga Aldi yang ada di tempat perkemahan. "Di mana Naisa dan Al om?" tanya Azlan kepada Erdin.


"Itu" jawab Erdin dengan menatap Aldi yang mendorong kursi roda Naisa di lantai dua. Azlan dan Fany menoleh ke atas dan memang benar Aldi dan Naisa sedang berada di atas.


"Untung saja cctv sudah aku cabut dari kamar Al" guman Andini karna memang dia sudah melepaskan cctv yang ada di dalam kamar Aldi.


"Ingin tidur bersama ku di dalam kamar ku?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.


Naisa menoleh ke arah Aldi dengan tatapan datar nya. "Enak saja kau, Aku tidur di kamar lain saja" jawab Naisa dengan wajah sedikit kesal akan ucapan Aldi.


"Jika saja kau mau" bisik Aldi di telinga Naisa. Naisa memukul kepala Aldi tapi tidak kena karna Aldi mengelak dan menjauh dari nya.


"Tidak kena" ucap Aldi dengan nada meledek nya kepada Naisa. Naisa masih menatap kesal tapi dia tidak mau meladeni Aldi karna takut terjatuh.


"Sudah lah" ucap Naisa dengan wajah datar nya, Aldi menoleh ke arah wanita itu dan melihat jika wanita itu sedang memasang wajah datar. Aldi tidak menjawab ataupun mengeluarkan suara, Dia kembali mendorong kursi roda Naisa dan masui ke dalam salah satu kamar tamu yang ada di lantai dua dan itu tepat berada di samping kamar nya.


Aldi dan Naisa masuk ke dalam kamar yang ada di samping kamar Aldi. "Kau akan di temani kak Asma di sini, Apa tidak apa kau tidur bersama kak Asma?" tanya Aldi kepada Naisa karna dia takut jika Naisa tidak nyaman di temani orang tidur bersama nya makanya dia bertanya seperti itu.


"Hem, Tidak apa" jawab Naisa dengan melebarkan senyuman nya kepada Aldi dan itu menandakan jika dia tidak apa apa tidur berdua bersama kak Asma.


"Benar?" tanya Aldi lagi yang ingin memastikan jika Naisa memang tidak masalah tidur bersama Asma.


"Iya benar, Jika bersama mu baru aku keberatan" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.


"Nanti jika kau sudah menjadi istriku kau juga akan tidur bersama dengan ku" ucap Aldi dan menatap ke sembarang arah.


"Lebih baik aku tidak menanggapi nya" guman Naisa yang malas untuk menjawab ucapan Aldi lagi.


"Kak Asma itu tidur nya kemana mana, Bagaimana jika kak Asma tidur menindih atau menendang kaki Naisa?" guman Aldi karna dia tau jika Asma itu tidur seperti jam berputar kesana kemari.


"Kau tidak apa apa?'' tanya Asma dan berjalan mendekat ke arah Naisa.


"Tidak apa apa" jawab Naisa sambil menggelengkan kepala nya dengan senyum yang mengembang.


"Jelas jelas kaki mu itu patah di bilang tidak apa apa" sambung Aldi akan jawaban Naisa.


"Diam kau" ketus Naisa yang malas mendengar Aldi berbicara saat ini.


"Kak, Kau tinggal bersama Naisa di sini, Tapi beda ranjang" ucap Aldi, Meskipun dia belum tau di mana akan mendapatkan ranjang untuk Asma.


"Kenapa harus berbeda ranjang?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi.


"Kau mau kaki mu itu tidak sembuh sembuh karna tidur dekat nya hem?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.


"Memang nya...." ucap Naisa yang terpotong oleh Asma.


"Iya kami akan pisah ranjang, Tidak apa Nai" ucap Asma karna dia sadar akan dia yang tidur tidak bisa diam di tempat. Naisa ingin bertanya lagi tapi dengan segera Aldi berbicara supaya Naisa tidak bertanya.


"Ikuti saja ucapan ku" ucap Aldi saat melihat Naisa yang masih ingin bertanya.


"Terserah kalian saja" jawab Naisa dan mendorong kursi roda sendiri menggunakan kedua tangan nya.


"Mana ranjang untukku?" tanya Asma kepada Aldi.


"Sebentar" jawab Aldi dan beranjak keluar dari kamar dan untung nya saat keluar dari kamar dia melihat ada mang Jony dan mang Dadang yang baru saja naik ke atas.


"Mang, Tolong Al boleh?" tanya Aldi terlebih dahulu.


"Minta tolong apa tuan?" tanya mang Jony.


"Tolong Al membawa ranjang di kamar ini ke kamar Naisa" jawab Aldi dan membuka pintu kamar nya karna memang di dalam kamar nya itu terdapat satu ranjang berukuran sedang yang belum ia keluarkan.


"Ah baik tuan" jawab mang Jony, Aldi membuka pintu kamar nya dan terpaksa menyuruh mang Jony dan mang Dadang masuk ke dalam kamar nya itu, Sedangkan koper tadi Azlan yang mengambil alih nya.


Mang Jony dan juga mang Dadang mengangkut ranjang untuk Asma dan membawa nya ke dalam kamar Naisa, Fany meminggirkan kursi roda Naisa karna takut tertabrak. Setelah selesai mang Jony dan mang Dadang berpamitan untuk kembali ke bawah dan Aldi dan Azlan mengizinkan mereka untuk berlalu.


"Ini tempat untuk mu" ucap Aldi kepada Asma.


"Baiklah" jawab Asma yang juga tidak masalah tidur di atas ranjang itu meskipun ranjang bekas Tapi itu masih sangat bagus dan bersih. Kasur milik Asma dan Naisa berjarak tidak terlalu jauh tapi kasur milik Naisa jauh lebih besar dari pada milik Asma dan Asma tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kau istirahat saja di sini, Jika memeperlukan apa apa telpon saja orang bawah menggunakan telpon ini" ucap Aldi kepada Naisa dengan menunjuk ke arah telpon rumah yang ada di atas meja di samping Naisa.