
"Pulang lah kau, Nanti kau di cari oleh mama dan papa" perintah Asma kepada Aldi.
"Aku tidak mau, Aku ingin menjaga Naisa di sini, Kau saja yang pulang" jawab Aldi datar. Asma ingin menjawab perkataan Aldi tapi Naisa menggelengkan kepala menandakan untuk tidak menjawab dan meladeni ucapan Aldi lagi.
"Kakak akan ke kantin sebentar, Kau pasti belum makan" ucap Asma, Naisa mengangguk mengiyakan nya dan Asma pun langsung berlalu dari ruangan itu dan menuju ke ruangan Rafli bukan ke kantin.
"Pak" panggil Naisa saat Aldi hanya diam dan duduk di atas kursi di samping nya, Aldi pun menoleh ke arah nya tanpa menjawab kata kata apapun.
"Bapak dan Rafli sudah kenal lama?" tanya Naisa yang sedikit ragu tapi dia memberanikan diri untuk menanyakan nya.
"Hem, Dia anak teman mama" jawab Aldi yang jujur, Aldi jika berbicara dengan Naisa memang selalu jujur dan berbicara apa ada nya.
"Jadi kenapa bapak dan dia seperti nya tidak berteman dan malah seperti musuh?" tanya Naisa dengan nada yang sangat lembut, Naisa jika berbicara serius dengan Aldi memang selalu menggunakan nada lembut dan itu membuat hati Aldi yang keras bisa melunak oleh nya.
"Kami memang sejak kecil tidak pernah akur, Dia selalu bermain ke rumah ku dan itu membuat perhatian mama dan papa teralih kepada nya dan melupakan ku, Makanya aku tidak menyukai nya di tambah lagi dia pernah merebut kekasih ku dulu sewaktu masih SMP kelas satu dan aku sekarang tidak akan membiarkan nya merebut mu dari ku" jelas Aldi yang memang jujur dan mengeluarkan semua isi hati nya kepada Naisa. Naisa yang mendengar itu sedikit aneh akan kata kata terakhir yang di ucapkan oleh Aldi yang mengatakan tidak akan membiarkan Rafli merebutnya dari Aldi tapi dia tidak mau ambil pusing dan menganggap angin lalu saja ucapan Aldi tadi.
"Mungkin tante Andini memperhatikan nya karna dia hanya sesekali ke rumah bapak makanya saat Rafli ke rumah bapak selalu di perhatikan, Tapi saya tidak yakin jika tante Andini mengacuhkan bapak secara kan bapak anak kandung nya" jelas Naisa lagi dengan menatap lekat Aldi yang juga menatap nya dengan tatapan sayu.
"Tapi saat dia di rumah aku sama sekali tidak di anggap ada oleh mama dan papa" jawab Aldi.
"Itu pasti karna bapak tidak mau bermain dengan nya dan tante Andini tidak enak dengan orang tua Rafli makanya mengajak Rafli bermain atau melakukan hal bersama" jelas Naisa lagi.
"Aku memang tidak pernah bermain dengan nya karna dia lelaki lemah dan ingin bermain mainan perempuan" ucap Aldi.
"Itu kesukaan nya Mungkin pak, Meskipun bapak tidak suka bermain permainan perempuan setidak nya bapak harus menghargai nya, Jadi berdamai lah dengan Rafli dia orang baik, Bapak juga orang baik dan nampak nya pemikiran kalian sejalan" jelas Naisa dengan senyum yang melebar menatap Aldi.
"Aku tidak mau, Dia sudah merebut Asanti waktu itu dari ku dan aku masih sakit hati dengan nya dan Asanti dan aku juga belum balas dendam dengan nya" bantah Aldi dengan tangan yang menggepal saat mengingat perselingkuhan Asanti dan Rafli dulu.
"Lupakan saja pak itu juga sudah lalu, Jika bapak ingin membalas dendam apa bedanya Bapak dengan nya? Jadi sekarang saya harap bapak bisa berteman dengan Rafli" jawab Naisa yang kembali mencoba membujuk Aldi. Aldi menatap lekat Naisa yang tengah tersenyum seperti membujuk nya itu.
"Ucapan nya ada benar nya juga" guman Aldi karna sebenar nya dia tidak ingin memiliki musuh.
"Apa susah nya berteman dengan orang yang sudah menyakiti kita? bukan kah itu lebih baik berteman dari pada bermusuhan?" tanya Naisa dengan kembali menatap Aldi.
"Apa aku mengikuti kata kata nya?" guman Aldi dengan menatap kembali Naisa yang juga menatap nya itu.
"Siapa bilang aku tidak bisa move on dari Asanti" bantah Aldi yang tidak terima.
"Jadi kenapa bapak masih menyimpan dendam dengan Rafli dan Asanti?" tanya Naisa.
"Aku masih sakit hati" jawab Aldi.
"Pak jika bapak memang mencintai Asanti lebih baik bapak doa kan supaya dia bisa berbahagia dengan pasangan nya nanti ntah itu dengan siapa dari pada bapak membenci nya bukan kah itu hal bodoh? dan itu bisa merusak pemikiran kita jika membenci seseorang?" jelas Naisa kembali yang mencoba memberi penerangan di dunia Aldi yang seperti nya tengah gelap gulita itu.
"Hem" jawab Aldi dengan mencerna ucapan demi ucapan yang di katakan oleh Naisa.
Di kamar Rafli.
"Kau masih menyimpan dendam dengan Aldi raf?" tanya Asma yang sudah sedari tadi duduk di dekat Rafli tapi belum berani menanyakan hal itu.
"Siapa yang tidak akan membenci orang yang sudah membuli kita sejak kecil?" tanya Rafli yang juga membenci Aldi.
"Kakak paham akan perasaan mu waktu itu tapi sekarang kalian sudah dewasa dan bisa berfikir apa yang terbaik dan lebih baik kau dan Al berbaikan lah" jelas Asma yang mencoba membujuk Rafli, Naisa dan Asma tidak memiliki niat untuk menyatukan Rafli dan Aldi sebagai sahabat tapi ntah lah bagaimana mereka berdua bisa sepemikiran tanpa membuat rencana terlebih dahulu.
"Tapi kak, Kakak tidak ingat waktu aku masih kecil saat aku pergi dari rumah nya dia selalu saja menghajar ku" bantah Rafli yang tidak terima akan ucapan Asma.
"Kakak mengerti akan itu Raf, Tapi bukan kah lebih baik kalian berteman secara kan orang tua kalian juga berteman kan tidak mungkin jika anak anak mereka tidak berteman" jelas Asma dengan menatap lekat Rafli, Asma memang pernah tinggal di rumah Aldi tapi saat umur nya sudah menginjak enam belas tahun dia mulai hidup sendiri.
"Belajar lah melupakan masa lalu yang buruk dan mengenang yang indah dan mulai lah memaafkan orang yang telah menyakiti kita baik itu secara fisik atau pun hati, Kakak yakin kau ini orang yang pemaaf begitupun dengan Aldi tapi hati kalian sudah di kuasai oleh dendam makanya kalian sama sama tidak bisa memafkan satu sama lain" jelas Asma dengan senyum yang melebar.
"Kakak berharap kalian akan menjadi teman baik di tambah kalian berdua berteman dengan Naisa bukan?" tanya Asma kepada Rafli.
"Hem" jawab Rafli sambil mengangguk mengiyakan nya.
"Naisa tidak menyukai yang nama nya kebencian dan permusuhan, Apa kau mau jika Naisa menjauhi mu dan juga Aldi?" tanya Asma lagi. Rafli menggelengkan kepala nya.
"Jadi kakak mohon maaf kan kesalahan Aldi yang telah lampau dan kakak juga akan berbicara dengan Aldi untuk mencoba memaafkan kesalahan mu juga" jelas Asma dengan memegang bahu Rafli yang menatap lekat nya itu.