I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 44



"Kau pikir aku Rafli yang dulu?" tanya Rafli kepada Aldi.


"Kau memang lemah" ucap Aldi.


"Dasar lelaki sombong pantas saja kau selalu di hianati oleh wanita mu, kau selalu sombong sama seperti dulu" ucap Rafli dengan senyum yang mengembang karna memang Rafli lah lelaki yang merebut Asanti dari nya dan sebab itu Aldi sangat tidak menyukai Rafli dan mengatai Rafli lemah karna jika berkelahi dengan nya selalu kalah.


"Apa yang kau katakan tadi hah?" bentak Aldi yang kesal akan ucapan Rafli.


"Memang benar bukan apa yang aku katakan?" tanya Rafli dengan menatap lekat Aldi. Aldi yang sudah emosi pun langsung memukul wajah Rafli karna dia memang mudah emosi. Naisa yang melihat itu langsung melerai mereka berdua tapi di antara mereka berdua tidak ada yang ingin mengalah dan untung nya cafe itu tidak ada pengunjung karna cafe itu seharus nya tutup saat jam delapan tiga puluh tapi Rafli membayar lebih makanya cafe itu masih terbuka.


"Rafli sudah lah" teriak Naisa kepada Rafli yang sekarang sudah melawan Aldi. tapi itu percuma karna Rafli sama sekali tidak mendengarkan nya.


"Pak sudah lah" teriak Naisa yang mencoba melerai mereka berdua tapi hasil nya nihil. Rafli sudah terduduk karna kalah akan Aldi dan di wajah lelaki itu lumayan banyak luka akibat pukulan Aldi begitupun dengan Aldi. biar pun seperti itu Rafli belum ingin menyerah dia kembali bangkit dan ingin memukul Aldi menggunakan botol kaca yang cukup tebal saat Aldi sedang lengah.


Preeenngggg


Terdengar suara pecahan gelas yang di pukuli oleh Rafli kepada Naisa, Rafli salah sasaran dan Naisa yang terluka karna itu Naisa tadi melihat jika Rafli ingin memukul Aldi yang sedang lengah makanya dia menghadang Rafli dan dia yang terkena pukulan itu. Naisa langsung tak sadarkan diri dan tergeletak di lantai, Aldi yang mendengar itu pun langsung membalikkan tubuh nya dan melihat Naisa yang sudah tergeletak di atas lantai dengan serpihan kaca yang berserakan di dekat nya, Mata Rafli membulat saat melihat orang yang ia pukuli itu adalah wanita yang ia cintai dan dia pun langsung membuang bekas gelas yang masih ada di tangan nya itu dan berjongkok di dekat Naisa.


"Nai" panggil Rafli yang hawatir dengan meletakkan kepala Naisa di atas paha nya dan memegang pipi Naisa. Emosi Aldi yang awal nya sudah meredam kembali muncul saat melihat wanita yang ia cintai tergeletak di atas lantai dan nampak banyak darah bercucuran dari kepala wanita itu.


Aldi mengambil kepala dan tubuh Naisa yang di atas paha Rafli dan dia pun langsung menggendong Naisa keluar dari cafe itu tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Wajah lelaki itu nampak cemas dan hawatir dan dia pun langsung masuk ke dalam mobil dan meletakkan Naisa di samping kemudi, Setelah itu dia langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan yang sangat cepat menuju rumah sakit terdekat.


Rafli juga ikut masuk ke dalam mobil nya dan mengikuti mobil Aldi dari belakang sedangkan Asma dia sudah pulang terlebih dahulu karna permintaan Naisa tadi. Aldi yang sudah sampai di rumah sakit pun langsung menggendong tubuh mungil Naisa masuk ke dalam rumah sakit dengab mobil yang masih terletak di depan pintu masuk rumah sakit itu dengan pintu yang msih terbuka.


Aldi berlari mencari roling untuk membawa Naisa dan nampak ada beberapa perawat yang menghampiri nya dan membantu nya. Naisa langsung di bawa ke IGD dan Aldi juga ingin masuk.


"Maaf tuan muda anda bisa menunggu di luar" ucap dokter yang datang untuk menangani Naisa, Rumah sakit itu memang milik keluarga Aldi dan itu jarak nya sangat dekat dengan rumah Aldi dan juga toko.


Aldi sedari tadi nampak mondar mandir di depan ruangan Naisa dengan baju yang kotor akibat darah yang mengalir dari kepala Naisa. "Aldi?" ucap Aisya yang melihat Aldi nampak gelisah. Aldi menoleh ke arah Aisya.


"Kenapa baju mu? apak kau terluka?" tanya Aisya kepada Aldi karna melihat baju Aldi yang berlumuran darah itu.


Siapa yang tidak kaget melihat Aldi seorang Lelaki yang selalu nampak kuat dan tegar saat ini mengekuarkan air mata. "Kenapa kau menangis?" tanya Aisya kepada Aldi.


"Aku menghawatirkan Nai" jawab Aldi dan kembali menangis sungguh hati nya sakit dan sedih sekali saat mengingat dan merasakan langsung darah yang mengalir dari kepala Naisa.


"Al bagaimana keadaan Naisa?" tanya Rafli yang baru sampai karna dia juga sangat hawatir akan Naisa. Emosi Aldi kembali memuncak saat mendengar suara Rafli, Dia bangun dari jongkok nya tadi dan langsung menghajar Rafli.


"Kenapa kau menyakiti nya hah?" bentak Aldi yang membuat semua perawat yang mendengar nya kaget tapi tidak ada yang berani menganggu karna takut kehilangan pekerjaan.


"Al ini rumah sakit" ucap Aisya karna hanya dia yang berani dan bisa meredam emosi Aldi.


"Aku tidak peduli" teriak Aldi.


"Berani sekali kau menyakiti nya" ucap Aldi yang geram akan itu dan kembali menghajar Rafli. Rafli tidak membalas atau pun melawan nya karna dia juga ingin memukul dirinya sendiri karna sudah melukai Naisa.


"Aldi sudah lah" teriak Aisya yang sudah kesal akan Aldi yang tidak mendengar ucapan nya.


"Lepaskan" bentak Aldi.


"Jika kau terus terusan memukul nya dia akan mati" ucap Aisya yang bisa melihat jika Rafli sudah lemah.


"Biar kan saja, Itu akibat jika dia berani menyakiti Naisa" teriak Aldi yang ingin memukul kembali Rafli tapi ada beberapa perawat lelaki yang memegang Aldi atas perintah Aisya.


"Obati dia" perintah Aisya kepada salah satu perawat yang ada di sana. Aisya juga tau jika mama Rafli dan mama Aldi itu berteman dan malahan dia juga mengenal dekat mama Rafli dan dia juga tau jika Aldi dan Rafli memang tidak pernah akur.


"Baik bu" jawab perawat tadi dan berjalan ke arah Rafli.


"Mari tuan" ajak perawat tadi dengan membawa kursi roda, Rafli langsung naik ke atas kursi roda yang di bawakan perawat tadi dan perawat tadi pun langsung mendorong kursi itu menuju ke salah satu ruangan yang ada di dekat itu.


"Kenapa kau memerintahkan orang mengobati nya?" tanya Aldi yang sudah sedikit tenang.