
"Pakai ini" ucap Aldi sambil menyodorkan topi yang ia bawa tadi kepada Naisa tanpa menatap Naisa dan memandang ke sembarang arah dengan wajah datar nya itu. Aldi memang selalu datar jika berbicara kepada Naisa tapi dia sangat perhatian dengan Naisa buktinya saja dia memberikan topi kepada Naisa supaya Naisa tidak kepanasan.
Naisa menoleh ke arah topi yang di berikan Aldi dan setelah itu baru melihat Aldi. Naisa tidak menjawab atau pun mengambil topi yang di berikan Aldi kepadanya itu dan itu membuat Aldi sedikit kesal. Aldi yang kesal akan itu pun langsung berjongkok dan mengenakan topi itu ke kepala Naisa. Naisa yang kaget pun melototkan matanya tanpa berkedip sedikit pun, Dia menatap Aldi yang tidak menatap nya dan fokus mengenakan topi untuknya.
Aldi yang sadar akan Naisa yang menatap nya pun langsung melepaskan tangannya dan kembali berdiri. "Maaf" ucap Aldi yang sudah berdiri dan nampak sekali jika dia itu tegang.
"Terima kasih" ucap Naisa dan membenarkan topi yang belum selesai betul di kenakan oleh Aldi tadi. Aldi tidak menjawab nya dan duduk di sebelah Naisa. Naisa menegrti akan Aldi yang duduk di samping nya itu diapun memulai merangkai bunga tanpa bersuara.
Aldi fokus ke rangkaian nya dan melihat dengan jelas bagaimana Naisa membuat karangan bunga itu dan sesekali dia mencuri pandang menatap wanita yang ada di hadapannya itu dan saat Naisa melihat nya dia langsung mengalihkan pandang nya.
"Bapak sudah mengerti?" tanya Naisa karna dia ingin membawa beberapa bunga buatannya ke depan. Aldi mengangguk mengiyakannya tanpa menatap Naisa yang menatap nya.
"Saya akan ke depan" pamit Naisa dan langsung berlalu. Aldi yang sudah tidak melihat kaki Naisa pun menatap kepergian Naisa. Senyum di wajah tampannya mengembang saat melihat wanita itu berlalu ntah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Kak, Ini" ucap Naisa dengan menyodorkan bunga rangkaian nya kepada Asma, Asma menerimanya dan memberikannya kepada pembeli yang memesannya dan nampak sudah sedikit lengang di toko itu karna mana yang sudah mendapatkan bunga sudah berlalu.
Brakkk
Seorang lelaki yang tidak di ketahui siapa itu pun menendang pintu kaca toko itu sampai pecah dan serpihan kaca itu terkena Naisa. "Kenapa kalian menjual bunga seperti ini hah?" bentak lelaki itu. Naisa menahan sakit nya dan nampak jelas darah bercucuran di tangannya.
"Ada apa pak?" tanya Naisa yang mendekat ke arah lelaki tadi.
"Kenapa kalian menjual bunga layu seperti ini? kalian tau akibat dari bunga kalian ini pacar saya hampir memutuskan saya karna dia merasa jijik karna ada juga ulat yang keluar dari bunga ini" bentak lelaki tadi. lelaki tadi adalah salah satu pelanggan di toko itu tapi setau Naisa bunga di toko tempatnya bekerja itu bagus bagus dan tidak ada ulat nya. Aldi yang mendengar kerusuhan di luar pun bergegas keluar dan melihat seorang lelaki memarahi Naisa.
"Maaf pak ini sepertinya bukan dari toko ini" jawab Naisa karna dia tidak pernah merangkai bunga seperti yang di tunjukkan oleh lelaki tadi.
"Tapi kata pekerja saya dia membelinya disini" bentaj lelaki itu lagi.
"Ada apa ini?" tanya Aldi yang baru sampai dan tidak melihat tangan Naisa yang terluka dan boleh di katakan tidak ada yang melihatnya.
"Anda siapa?" tanya lelaki tadi.
"Saya pemilik toko ini" jawab Aldi.
"Ooh, Jadi anda pemilik toko ini?" ucap lelaki tadi dengan mengangguk.
"Lihatlah bunga yang kalian lihat nampak sangat jelek dan tidak bersih" bentak lelaki tadi dan memberikan bunga itu kepada Aldi. Aldi menerimanya dan dia menatap bunga itu dengan tatapan bingung karna dia tidak pernah melihat rangkaian bunga itu.
"Kami tidak menjual bunga seperti ini, Kami menjual bunga seperti ini" jawab Aldi dengan menunjukkan bunga yang ia rangkai tadi.
"Tapi pegawai saya tadi bilang dia membeli bunga nya disini" bentak lelaki tadi.
"Bapak mari saya ajak bapak untuk melihat taman bunga kami dan beberapa bentuk bunga yang di jual disini" ucap Naisa lembut dan sopan.
"Mari, Aku akan membuktikan jika toko ini tidak bersih dan bunga bunga nya juga tidak segar" jawab lelaki tadi.
"Mari" ucap Naisa sopan dan mendahului lelaki tadi. lelaki tadi mengikuti Naisa begitupun dengan Aldi dan Asma dan semua pekerja lain hanya mengintip dari pintu.
"Ini bunga yang kami tanam pak dan bisa bapak lihat jika bunga bunga ini segar segar dan di dalam rangakain bung yang bapak tunjukkan tadi ada satu yang toko ini tidak memiliki bunga nya" jelas Naisa yang memang sedari tadi menatap bunga yang di berikan oleh lelaki tadi.
"Yang mana?" tanya lelaki tadi datar dan meletakkan tangannya di dalam kantong celananya. Naisa meminta bunga yang di berikan oleh lelaki tadi dengan Aldi dan Aldi memberikannya.
"Yang ini pak" ucap Naisa menunjuk salah satu bunga yang ada di antara karangan karangan bunga campuran itu. Lelaki itu menatap bunga yang sudah layu itu dan setelah itu menatap Naisa.
"Silahkan bapak lihat, Disini tidak di tanam bunga seperti ini" ucap Naisa mempersilahkan lelaki tadi melihat bunga yang sama seperti yang di tunjuk Naisa tadi. Lelaki itu mencari bunga yang sama dan benar saja tidak ada bunga itu di tanam di sana.
"Tapi pegawai saya tadi bilang dia membelinya memng disini" jawab lelaki tadi meyakinkan Naisa.
"Apa pegawai bapak menyebut nama tokonya?" tanya Naisa kepada lelaki tadi. Lelaki tadi mengangguk mengiyakannya.
"Apa namanya pak?" tanya Naisa.
"Arini flowers" jawab lelaki tadi.
"Anda salah toko" jawab Aldi.
"Bukannya ini Arini flowers?" tanya lelaki tadi.
"Ini Andini flowers pak" jawab Naisa sopan sambil melebarkan senyumannya.
"Benarkah?" tanya lelaki tadi. Naisa mengangguk mengiyakannya sambil melebarkan senyuman ramahnya.
"Ini" ucap Aldi menyodorkan kartu toko itu kepada lelaki tadi. Lelaki tadi sangat merasa malu saat melihat nama toko itu.
"Maafkan saya, Saya salah toko" ucap lelaki tadi yang merasa malu dan bersalah.
"Tidak apa apa pak, Mungkin bapak ingin membeli bunga baru untuk pacar bapak?" tanya Naisa.
"Boleh mbak, bisa saya melihat jenis jenisnya?" tanya lelaki tadi. Naisa mengambil karangan bunga yang di rangkai oleh Aldi tadi dan memberi kan nya kepada lelaki tadi. lelaki tadi menerimanya dengan senang hati.
"Bagus sekali bunga bunga nya" puji lelaki tadi yang menyukai karangan bunga yang di sodorkan Naisa kepada nya.