I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 31



Naisa berjalan ke dekat pintu dan membuka sedikit pintu dan terlihat sangat gelap di luar. Naisa kembali menutup pintu itu dan menghadap ke arah Aldi.


"Ada apa?" tanya Aldi kepada Naisa yang nampak sedikit ketakutan iu.


"Emmm" jawab Naisa yang sedikit ragu dan menundukkan kepala nya dengan tangan yang di taruh di belakang.


"Emmm" ucap Aldi yang menirukan Naisa dan menatap Naisa yang menunduk itu.


"Saya tidak berani keluar sendiri karna gelap" jawab Naisa jujur dan merasa sedikit malu. Aldi tertawa terbahak bahak mendengar jawaban dari Naisa itu dan Naisa kembali menundukkan kepala nya karna merasa malu akan Aldi.


"Astaga tawa nya sangat menyakitkan" guman Naisa dengan menahan malu nya terhadap Aldi. Aldi menghentikan tawa nya dan menatap Naisa yang masih menundukkan kepala itu.


"Kau benar takut?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Aku tidak takut, Hanya saja aku..." jawab Naisa yang masih malu.


"Aku apa?" tanya Aldi yang penasaran.


"Hanya saja aku tidak berani" jawab Naisa dan kembali menundukkan kepala nya.


"Sama saja dengan takut" jawab Aldi.


"Bukan" bantah Naisa.


"Ayo kita keluar" ajak Aldi kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakannya dan mengikuti Aldi dari belakang. Saat sampai di luar ruangan Aldi Naisa sangat ketakutan dia pun memegang baju bagian tangan yang di kenakan oleh Aldi.


Aldi sedikit kaget akan itu tapi dia membiarkan nya. "Gelap sekali" ucap Naisa dengan nada rendah tapi terdengar oleh Aldi.


"Jelas saja gelap lampu di matikan" jawab Aldi akan perkataan Naisa tadi. Naisa menoleh ke arah nya dan Aldi juga menoleh ke arah Naisa.


"Ayo kita keluar" ajak Naisa kepada Aldi dengan masih memegang baju Aldi. Aldi berjalan terlebih dahulu keluar dari toko itu dan untung nya toko itu belum di kunci karna kunci dengan Asma dan Asma menunggu Naisa di cafe depan toko itu.


Saat sampai di luar dan sudah mendapatkan penerangan Naisa langsung melepaskan genggamannya terhadap baju Aldi. "Nai" panggil Asma yang baru sampai di dekat nya.


"Kakak dari mana saja?" tanya Naisa kepada Asma sedangkan Aldi dia hanya diam.


"Dari cafe di sana" jawab Asma sambil menunjuk ke cafe sebrang toko bunga itu.


"Ayo kita pulang" ajak Naisa kepada Asma. Asma mengangguk mengiyakannya. baru saja Naisa melangkah kan kaki nya Aldi sudah menarik tangan nya.


"Ada apa pak?" tanya Naisa yang sudah terbiasa berbicara dengan Aldi dan tidak menundukkan kepala lagi tapi malahan dia menatap Aldi.


"Masuk ke dalam mobil ,Biar aku yang mengantarkan kalian" jawab Aldi.


"Tidak usah pak, Saya dan kak Asma bisa berjalan kaki, Lagi pula rumah saya kan tidak jauh dari sini" tolak Naisa sopan.


"Aku tidak menawar tapi aku mengajak" jawab Aldi.


"Tapi kami tidak mau pak" tolak Naisa lagi.


"Aku tidak menerima penolakan cepat masuk" perintah Aldi dan langsung masuk ke dalam mobil nya sedang kan Naisa menatap ke arah Asma dan Asma mengangguk mengiyakannya. Asma dan Naisa berjalan dan ingin masuk ke dalam mobil bagian belakang tapi saat Naisa masuk suara Aldi menghentikan nya.


"Duduk di depan" perintah Aldi.


"Tapi pak...." ucap Naisa terpotong oleh Aldi.


"Jika kau tidak mau di depan suruh kak Asma yang duduk di depan dan kau duduk sendiri di belakang" potong Aldi. Naisa sebenar nya sangat takut jika duduk sendiri di belakang dan diapun terpaksa berpindah duduk di depan.


Naisa membanting keras pintu mobil Aldi saat masuk ke dalam nya karna dia kesal dan baru pertama kali kesal. "Hey jangan membanting pintu mobil itu, Nanti terlepas" ucap Aldi. Naisa tidak menjawab nya dan hanya diam. Aldi ingin melajukan mobil nya tapi Naisa belum memasang sabuk pengaman dan Aldi pun mendekat ke Naisa dan membuat Asma kaget begitupun dengan Naisa.


"Mau apa kau?" teriak Naisa tepat di telinga Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan mengenakan sabuk pengaman untuk Naisa.


"Kenapa kau berteriak di telinga ku?" tanya Aldi yang sudah selesai mengenakan sabuk pengaman untuk Naisa dan kembali duduk seperti semula.


"Saya pikir bapak akan macam macam dengan saya" jawab Naisa dan menundukkan kepala nya karna malu akan Aldi dan Asma. Aldi tersenyum kecil mendengar jawaban Naisa dan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Naisa. Asma melihat Aldi yang sedari tadi tersenyum dan Naisa yang sedari tadi menundukkan kepala.


"Seperti nya Aldi benar benar suka dengan Naisa" guman Asma karna dia tau betul Aldi yang tidak mudah tersenyum dan susah untuk membuat nya tersenyum. Asma menatap Naisa yang menundukkan kepala itu.


"Kau orang pertama yang membuat nya seperti ini Nai" guman Asma sambil melebarkan senyuman nya menatap Naisa. Aldi memang sering berpacaran tapi dia tidak terlalu seperti ini saat berpacaran dengan pacar pacar nya yang dulu dan sekarang dengan Naisa dia mudah tersenyum sendiri seperti saat ini.


Beberapa saat menempuh perjalanan akhir nya mereka pun sampai di rumah Naisa. Aldi memarkirkan mobil nya di halaman rumah Naisa itu tapi Naisa belum keluar dari mobil, Aldi menatap wajah Naisa yang tidak tampak akibat tertutup rambut dan kepala Naisa hampir saja terbentur ke bagian mobil yang di depan nya itu tapi untung nya Aldi meletakkan tangan nya di dahi Naisa dan menahan dahi wanita itu agar tidak terbentur. Naisa yang merasa jika ada yang menyentuh dahi nya pun langsung terbangun sedangkan Asma dia hanya melihat apa yang terjadi di depan nya itu sambil melebarkan senyumannya.


Naisa memegang lumayan lama tangan yang berada di dahi nya itu tanpa menatap pemilik tangan itu, "Astaga jantung ku kenapa?" guman Aldi saat Naisa memegang tangan nya. Naisa menurunkan tangan Aldi yang berada di dahi nya itu dan melihat ke arah Aldi dengan rambut yang masih menutup wajah nya tapi tidak menutup mata nya.


Naisa langsung membulatkan matanya akibat kaget dan langsung melepaskan tangan Aldi. "Kenapa tangan bapak di dahi saya?" tanya Naisa yang sudah sadar dan menatap lekat wajah Aldi.


"Dahi mu hampir terbentur tadi" jawab Aldi dan membuang muka nya dan menatap ke luar jendela.


"Ada apa dengan ku ini?" guman Aldi yang merasakan aneh di dada nya. Naisa menatap tajam Aldi yang sudah mengalihkan pandang itu.


"Pasti aku tertidur tadi" guman Naisa dan melihat jika dia sudah sampai di rumah nya. Naisa langsung turun dari mobil itu dan Aldi yang mendengar suara pintu pun langsung menoleh ke arah suara pintu itu dan melihat Naisa yang sudah turun dari mobil nya.


"Huh" Aldi mendengus kasar dan mengusap dada nya yang sudah berhenti berdetak cepat itu.


"Ehem" dehem Asma yang melihat Aldi memegang dada. Aldi kaget akan dehem Asma itu dan menoleh ke belakang dn melihat Asma masih ada di dalam mobil itu.


Tok..tok


Naisa mengetuk kaca mobil di bagian kemudi dan sedikit menundukkan tubuh nya. Aldi mengalihkan pandangannya dan nelihat Naisa yang mengetuk pintu mobil nya, Aldi membuka kaca mobil itu. "Ada apa?" tanya Aldi datar.


"Terima kasih sudah mengantarkan saya dan..." ucap Naisa terpotong karna baru sadar jika Asma tidak ada di dekat nya.


"Di mana kak Asma?" tanya Naisa yang menyongolkan kepala ingin melihat ke dalam mobil dan berdekatan dengan Aldi. Aldi keget dan jantung nya kembali berdetak tak karuan lagi.


"Kak Asma" panggil Naisa yang wajah nya berada tidak jauh dari dada Aldi.


Deg..Deg


Naisa mendengar suara detakan jantung Aldi dan dengan segera mengeluarkan kepala nya dari dari mobil itu.


Brukkk


"Auu" rengek Naisa dengan memegang kepala nya yang terbentur pintu mobil itu.


"Kau tidak apa apa?" tanya Aldi yang sedikit hawatir akan Naisa dan memegang kepala Naisa sedangkan Asma dia terkekeh melihat itu di belakang.


"Saya tidak apa apa" jawab Naisa dan mengeluarkan kepala nya dan berdiri tegak seperti semula.


"Naisa masuk terlebih dahulu kak" ucap Naisa dari luar karna dia tadi bisa melihat Asma tapi Asma tidak menjawab. Naisa langsung berlalu masuk ke dalam rumah nya dengan memegang kepala nya yang sedikit sakit itu.


"Wanita ini asik juga" guman Aldi yang baru mengetahui sifat asli Naisa. begitulah Naisa yang memang selalu bisa menghibur orang orang terdekat nya dan yang bisa merasakan itu hanya pegawai toko dan Asma jika yang lainnya mungkin tidak apa lagi teman sekolah nya.


"Kau baru tau ya jika Naisa sifat nya seperti ini sedikit ceroboh?" tanya Asma kepada Aldi.


"Iya, Karna di sekolah dia sangat pendiam dan tertutup" jawab Aldi dengan menatap Asma.


"Makanya coba lah berteman dan bersahabat dengan nya, Dia orang nya asik dan enak jika di ajak bergurau atau pun di ajak bercerita" jelas Asma yang sudah mengetahui sifat sifat Naisa, meskipun seperti itu sikap baik nya tidak pernah terubah di dalam jiwa Naisa.


"Baru baru ini saja dia mau berbicara dengan menatap ku, Dulu dulu dia tidak pernah menatap ku dan jika berbicara pun selalu menundukkan kepala" ucap Aldi kepada Asma.


"Berteman lah dengan nya, jaga dia jika perlu jadikan dia pendamping mu, lagi pula dia orang yang baik, mandiri dan sopan dan kau nampak nya menyukai nya benar bukan?" tanya Asma dengan menyenggol bahu Aldi menggunakan tangannya.