I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 54



"Pak lepaskan" ucap Naisa karna dia malas di sangka yang tidak tidak oleh orang orang yang melihat Aldi menggandeng tangan nya.


"Makanya cepat lah ikut aku" jawab Aldi dengan melepaskan tangan nya dari Naisa dan kembali melanjutkan perjalanan nya. Naisa tidak menjawab nya dia pun mengikuti Aldi dari belakang.


"Lelaki ini sudah datar kasar lagi" guman Naisa yang kesal akan Aldi dan mengacung kan tangan nya yang menggepal ke kepala Aldi Seperti orang ingin memukul.


Aldi menoleh ke belakang dan dengan segera Naisa menurunkan kembali tangan nya dan berpura pura seperti orang tidak melakukan apa apa. "Apa yang kau lakukan?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa menoleh ke arah Aldi.


"Memang nya aku melakukan apa?" tanya balik Naisa kepada Aldi. Aldi tidak menjawab nya lagi dan kembali melanjutkan perjalanan nya menuju ke belakang begitupun dengan Naisa yang mengikuti nya.


"Ma" panggil Aldi yang sudah sampai di belakang dekat kolam renang. Andini, Asma dan juga Sahlan menoleh ke arah Aldi tapi Mereka tidak menemukan Naisa.


"Di mana Naisa?" tanya Asma kepada Aldi. Sedangkan Andini dan juga Sahlan kakak sepupu Aldi menoleh ke arah nya. Sahlan adalah anak dari kakak ayah Aldi dan dia seumuran dengan Asma dan mungkin lebih tua satu tahun dari pada Asma.


"Hey, Kenapa kau bersembunyi?" tanya Aldi kepada Naisa yang berada di belakang nya tanpa menoleh dan menghadapkan tubuh nya ke belakang.


"Siapa yang bersembunyi?" tanya balik Naisa kepada Aldi.


"Menyingkirlah dari belakang ku" ucap Aldi. Naisa pun meminggir kan tubuh nya dan berdiri di samping Aldi.


"Kau sudah sembuh nak?" tanya Andini kepada Naisa.


"Sudah tante" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya.


"Maafkan kakak tidak menjenguk mu pagi ini" ucap Asma kepada Naisa. Asma tidak pulang ke rumah Naisa atau pun menjenguk Naisa di rumah sakit karna Andini tidak mengizinkan nya karna Sahlan tadi malam datang ke rumah itu karna hari libur dan dia merindukan Aldi si adik kecil nakal nya itu. Sahlan tinggal di california amerika serikat saat ini karna memang ibu nya orang sana dan ayah nya juga memiliki banyak bisnis di sana makanya dia tinggal di sana dan pulang ke indonesia hanya sesekali.


"Ah tidak apa apa kak, Pak Aldi juga ada menemani ku tadi" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya menatap ke Asma.


"Wanita ini cantik juga" guman Sahlan menatap Naisa yang tersenyum kepada nya itu. Sahlan memang mata keranjang saat melihat wanita cantik dan bening pasti dia akan menyukai wanita itu. Aldi tau jika Sahlan menatap Naisa dan dia juga tau jika Sahlan itu mata keranjang.


"Hey kenapa kau menatap Naisa seperti itu?" tanya Aldi kepada Sahlan. Naisa dan yang lain nya menoleh ke arah Sahlan dan juga Aldi secara bergantian.


"Siapa yang menatap nya?" elak Sahlan.


"Kau pikir aku buta tidak melihat mu melihat Naisa?" tanya Aldi kepada Sahlan. Mereka saling menyayang tapi sikap mereka dan cara bicara mereka seperti orang membenci. Sahlan tidak menjawab perkataan Aldi lagi dan memilih untuk diam.


"Ini pasti pacar Al" guman Sahlan yang putus asa.


"Sini nak, Duduk di sini" ucap Andini mempersilahkan Naisa duduk di samping nya dan lebih tepat nya lagi di tempat Sahlan.


"Tante ini kan tempat duduk aku" ucap Sahlan.


"Menyingkir lah" ucap Andini.


"Kepala mu masih sakit nak?" tanya Andini kepada Naisa.


"Ini sudah tidak terlalu sakit tante" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya. Mereka bertiga pun berbicara dan bercanda gurau tanpa memperdulikan Aldi dan juga Sahlan yang ada di dekat mereka.


"Nampak nya wanita itu orang baik" guman Sahlan dengan senyum yang mengembang saat melihat Naisa dan setelah itu dia menatap Aldi yang juga tersenyum dengan mantap Naisa.


"Wanita ini sangat beda dari kekasih Al masa lampau" guman Sahlan yang kembali menatap Naisa. Sahlan menyetujui jika Aldi dengan Naisa tapi dia belum sepenuh nya menyetujui nya karna setiap kekasih Aldi akan dia uji saat bertemu.


"Aku akan menguji batas kesetian mu" guman Sahlan yang mengira jika Naisa itu adalah kekasih Aldi padahal tidak. Sahlan memang selalu menguji para mantan kekasih Aldi dulu dengan menggunakan uang dan menyuruh mereka untuk memutuskan Aldi dan itu mereka lakukan semua, Nah dari situ lah dia menguji semua kekasih Aldi.


"Dia memang sangat cantik apa lagi jika tersenyum seperti itu" guman Aldi yang senyum di wajah nya itu nampak sangat mengembang.


Beberapa jam mereka mengobrol dan bercanda ria akhir nya mereka mengakhiri obrolan mereka karna waktu sudah menunjuk waktu makan siang. Mereka semua menuju ke ruang makan dan makan siang tanpa Erdin karna Erdin dia pergi memeriksa pekerjaan di bogor dan pulang mungkin nanti malam.


Mereka mengambil makanan untuk masing masing dan setelah itu melahap makanan mereka. "Oiya nak, Apa kau mengenali Rafli?" tanya Andini kepada Naisa.


"Dia teman Naisa sewaktu SMP dulu tan" jawab Naisa.


"Oh" jawab Andini mengangguk mengerti.


"Kau bertengkar dengan Rafli karna apa Al?" tanya Sahlan yang tau jika Rafli dan Aldi bertengkar kemarin karna Andini yang menceritakan nya semalam.


"Mana aku bertengkar dengan nya?" tanya balik Aldi.


"Mama mu sendiri yang bilang jika kau bertengkar dengn nya semalam, Apa karna kalian merebut wanita ini?" tanya Sahlan yang belum mengetahui nama Naisa.


"Dia mempunyai nama" ucap Aldi.


"Siapa nama nya?" tanya Sahlan sedangkan Naisa dia tidak terlalu mendengar ucapan Sahlan kepada Aldi karna mereka berbisik.


"Naisa" jawab Aldi.


"Apa kau semalam bertengkar dengan Rafli karna merebut Naisa?" tanya Sahlan dengan nada tinggi supaya Naisa dan yang lain mendengarkan nya.


Uhukkk...uhukkk


Naisa langsung terbatuk mendengar perkataan Sahlan. Asma yang duduk di samping nya pun langsung menyodorkan air untuk Naisa dan memberikan nya kepada Naisa. Naisa menerima nya dan meminum air itu sampai separuh. Semua mata menoleh ke arah Naisa apa lagi Aldi yang menatap lekat Naisa.


"Apa apaan kau ini" ketus Aldi kepada Sahlan.


"Kenapa memang nya apakah salah? Rafli kan berteman dengan Naisa sejak SMP dan mungkin dia menyukai Naisa dan kau pacar nya bukan?" tanya Sahlan dengan menatap lekat Aldi. Dahi Naisa mengerut akan perkataan Sahlan, Dia sangat tidak menyukai ucapan yang keluar dari mulut Sahlan itu dan Aldi bisa mengerti akan raut wajah Naisa itu.