I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 49



"Naisa tidak menyukai yang nama nya kebencian dan permusuhan, Apa kau mau jika Naisa menjauhi mu dan juga Aldi?" tanya Asma lagi. Rafli menggelengkan kepala nya.


"Jadi kakak mohon maaf kan kesalahan Aldi yang telah lampau dan kakak juga akan berbicara dengan Aldi untuk mencoba memaafkan kesalahan mu juga" jelas Asma dengan memegang bahu Rafli yang menatap lekat nya itu.


Ckleeek


Pintu ruangan itu terbuka dan nampak Aldi masuk ke dalam ruangan itu dan di ikuti oleh Naisa di belakang Aldi dan sedikit tak nampak karna terhalang oleh tubuh kekar Aldi. "Cepatlah" ucap Naisa karna dia tidak melihat Aldi bergerak dari berdiri nya tadi dengan tangan yang mendorong tubuh Aldi.


"Sabar, Kau ini" ketus Aldi.


"Makanya cepat" jawab Naisa, Aldi tidak menjawab nya lagi dan langsung berjalan ke dekat Rafli dan juga Asma.


"Kenapa kau kesini?" tanya Asma kepada Aldi karna takut jika Aldi menyakiti Rafli kembali karna dia tidak tau jika Naisa sudah membujuk Aldi juga.


"Maafkan kesalahan ku di masa lalu" ucap Aldi datar tanpa menatap Rafli, dahi Naisa mengerut saat melihat Aldi yang meminta maaf seperti tidak ikhlas itu.


"Minta maaf lah dengan ikhlas" ucap Naisa dengan menyenggol bahu Aldi.


"Ini aku sudah ikhlas" jawab Aldi.


"Kau itu tidak ikhlas nampak sekali dari raut wajah mu" bisik Naisa di dekat tangan Aldi karna tinggi nya dan Aldi sangat berselisih jauh yakni Naisa yang tinggi 155cm dan Aldi yang tinggi 181cm makanya dia berbisik di dekat bahu Aldi.


"Cepat lah" perintah Naisa lagi dengan mendorong bahu Aldi.


"Maafkan kesalahan yang pernah aku perbuat" ucap Aldi dengan menyodorkan tangan nya dan menatap Rafli, Asma terkejut dan terdiam melihat itu tapi tidak dengan Rafli yang berfikir jika itu adalah rencana Naisa dan juga Asma.


Rafli hanya menatap lekat tangan Aldi yang di hadapan nya itu, Aldi sedikit letih mengangkat tangan nya dan ingin menurunkan nya tapi dengan segera Rafli menerima tangan Aldi itu. "Aku sudah memaafkan nya, Aku juga minta maaf karna sudah merebut Asanti dari mu dahulu" ucap Rafli dengan melebarkan senyuman nya dan tangan yang berjabat dengan Aldi.


Senyum di wajah Asma dan juga Naisa nampak mengembang melihat perdamaian Aldi dan juga Rafli, Aldi membalas senyuman Rafli itu dengan senyuman tulus nya. "Aku sudah melupakan nya, Lagi pula aku juga sudah tidak mencintai nya" jawab Aldi akan perkataan Rafli.


"Bagus lah jika kau tidak mencintai nya lagi, Dia bukan wanita baik" ucap Rafli dengan senyum yang melebar.


"Aku sudah tau itu" jawab Aldi datar. Naisa menyenggol bahu Aldi lagi supaya Aldi tidak bersikap datar dengan Rafli.


"Ada apa?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Kau jika berbicara dengan orang hilang kan wajah datar mu itu" jawab Naisa yang kembali berbisik.


Ckleek


Pintu ruangan itu kembali terbuka dan terlihat kedua orang tua Aldi dan Rafli datang ke rumah sakit itu karna Aisya yang mengabari mereka. Semua yang ada di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu dan melihat kedua orang tua Aldi dan Rafli datang.


"Mama, Papa" ucap Rafli saat melihat kedua orang tua nya sedangkan Aldi tidak menyapa dan hanya menatap datar.


"Kau apa kan Rafli?" tanya Erdin kepada Aldi dengan wajah yang nampak marah dan Erdin tidak memikirkan tempat itu yang banyak orang.


"Erdin tanya lah dengan bagus kepada nya" ucap Hilma ibu Rafli dengan pelan karna perkelahian di antara Aldi dan Rafli sudah biasa dan tidak ada gunanya bagi dia.


"Om, Ini bukan salah Aldi, Ini salah Rafli sendiri" jawab Rafli akan pertanyaan Erdin untuk Aldi sedangkan Aldi dia hanya memasang wajah datar nya.


"Benarkah seperti itu Al?" tanya Erdin lagi.


"Hem" jawab Aldi datar.


"Lelaki ini kenapa ekspresi nya selalu datar?" guman Naisa yang heran akan Aldi yang selalu memasang wajah datar itu tapi jika saat bersama nya Aldi lebih banyak tersenyum.


"Bagus jika kalian sudah berteman" ucap Andra ayah Rafli dengan senyum yang mengembang karna anak nya dan anak sahabat nya yang dulu bermusuhan sekarang berbaikan. Rafli tersenyum mendengar ucapan ayah nya itu tapi tidak dengan Aldi yang sedari tadi memasang wajah datar nya dan tidak mengeluarkan satu patah kaya pun saat orang tua nya dan Aldi datang tadi.


"Nai kau kenapa nak?" tanya Andini kepada Naisa karna dia sedari tadi menatap perban yang melekat di kepala Naisa bagian belakang.


"Memang nya ada apa tante?" tanya Naisa kepada Andini.


"Kepala mu ini kenapa di perban?" tanya Andini lagi.


"Oh ini hanya terbentur tante" jawab Naisa dengan memegang kepala nya yang beperban itu.


"Wanita ini kenapa tidak asing sekali bagiku?" guman Andra dengan menatap lekat wajah Naisa karna bagi nya wajah Naisa sangat pamiliar di mata nya.


"Apa tidak apa apa nak?" tanya Erdin yang hawatir akan Naisa.


"Tidak apa apa om" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya.


"Dia selalu bisa menyembunyikan kesakitan dari siapapun" guman Aldi yang menatap Naisa yang sanggup tersenyum saat kepala nya sakit.


"Mama dan papa tau aku di sini dari siapa?" tanya Rafli kepada kedua orang tua nya.


"Tadi tante Andini telpon mama, Dia bilang kalo kamu dan Aldi di rumah sakit makanya mama dan papa ke sini" jelas Hilma panjang lebar.


"Tante Andini tau dari mana kita ada di sini?" tanya Rafli kepada Andini.


"Palingan kak Aisya yang telpon mama" jawab Aldi datar.


"Diam lah pak, Rafli tidak bertanya dengan bapak" bisik Naisa.


"Memang benar kan ma jika kak Aisya yang menghubungi mama?" tanya Aldi kepada Andini.


"Iya, Aisya yang menghubungi mama mengatakan jika kau, Rafli dan Naisa di sini" jawab Andini. Aisya sudah tau nama Naisa karna Aldi sudah pernah bercerita tentang Naisa tapi dia tidak menceritakan perasaan nya terhadap Naisa kepada Aisya.


"Astaga kepala ku kenapa sakit sekali?" guman Naisa yang merasakan sakit di kepala nya mungkin karna dia tidak beristirahat dan malah ke ruangan Rafli.


"Hey kau kenapa?" tanya Aldi kepada Naisa karna dia memperhatikan Naisa sedari tadi yang memejam kan mata. Naisa menggelengkan kepala nya tanpa mengekuarkan satu patah kata pun karna kepala nya sangat sakit.


"Bawa dia ke ruangan nya, Dia pasti kurang istirahat" ucap Hilma. Aldi mengiyakan nya.


"Ayo" ajak Aldi kepada Naisa, Naisa tidak menolak nya dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan di bimbing oleh Aldi.


"Sakit sekali" guman Naisa dengan memegang kepala nya yang terasa sangat skit itu.