
"Sudah lah, Ayo aku antarkan kau pulang" ucap Aldi lembut dengan memegang bahu Naisa. Naisa mengangkat kepala nya dan melihat Aldi, Nampak sekali jika wanita itu baru saja menangis mata sembab hidung dan wajah yang memerah akibat menangis.
"Mari" ajak Aldi dengan membimbing Naisa untuk berdiri karna dia tau pasti tubuh Naisa terasa lemah. Aldi membimbing Naisa berdiri sedangkan semua orang sudah bubar saat melihat Aldi sudah berhenti memarahi Asanti dan pak Asmawi hanya menatap Aldi dan menatap Asanti dengan tatapan tajam nya.
Aldi membimbing Naisa berjalan melewati banyak nya wanita di dalam perpustakaan itu dan banyak juga wanita yang menunduk seperti tidak mengetahui apa apa dan Aldi tidak memperdulikan itu dan terus berjalan hingga keluar dari perpustakaan.
"Kau tunggu di sini" ucap Aldi saat sudah sampai di depan kelas mereka karna dia ingin mengambil tas milik Naisa dan juga milik nya. Naisa mengiyakannya dan berdiri di depan kelas itu sambil menunggu Aldi. Setelah selesai mengambil barang barang Naisa, Aldi langsung kembali ke dekat Naisa.
"Kenapa kau mengambil barang barang ku?" tanya Naisa kepada Aldi dengan suara rendah akibat menangis.
"Aku akan mengantarkan mu pulang" jawab Aldi.
"Tapi ini belum waktu nya pulang sekolah dan nanti jika guru marah bagaimana?" tanya Naisa.
"Siapa yang berani memarahi ku di sini?" tanya Aldi kepada Naisa, Aldi sebenarnya tidak pernah sombong tapi dia selalu membantah.
"Guru" jawab Naisa yang tidak tau jika Maya dan Aldi itu bersaudara.
"Dia memang tidak tau atau pura pura tidak tau?" guman Aldi yang heran akan jawaban Naisa dan menatap lekat Naisa yang juga menatap nya dengan tatapan bingung.
"Tadi aku sudah meminta izin" jawab Aldi berbohong.
"Dengan siapa? tadi kenapa kau bilang 'siapa yang berani memarahi ku?'" tanya Naisa dengan meniru bicara Aldi.
"Iya, Kan aku sudah meminta izin tadi dengan pak Asmawi jadi siapa yang memarahiku kalau aku sudah meinta izin" jelas Aldi. Naisa nampak ingin berbicara lagi tapi dengan segera Aldi menyambung ucapan nya.
"Sudah lah jangan membahas ini lagi, Ayo aku antarkan kau pulang" ucap Aldi saat melihat Naisa ingin berbicara. Naisa mengangguk mengiyakan nya dan berjalan bersamaan dan sejajar dengan Aldi.
Naisa nampak seperti orang menahan sakit akibat erbuatan Asanti tadi kepada nya. "Apa sesakit itu kepala mu?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Tidak" jawab Naisa berbohong padahal kepala nya sangat terasa sakit.
"Kita ke dokter saja jika kepala mu masih sakit" ajak Aldi.
"Tidak usah, Aku baik baik saja" jawab Naisa lagi dengan berusaha bersikap seolah olah dia tidak kesakitan.
"Yasudah, Aku tidak bisa memaksamu, Tapi aku harus mengantarkan mu pulang" ucap Aldi.
"Tapi ini belum jam pulang, Aku bisa pulang sendiri, Bapak kembali lah ke kelas" jawab Naisa.
"Aku tidak menawar kan diri" jawab Aldi dan langsung masuk ke dalam mobil karna mereka sudah sampai di parkiran.
"Masuk" perintah Aldi kepada Naisa. Naisa terpaksa mengiyakan nya dan masuk ke dalam mobil Aldi itu.
"Kasihan sekali Naisa tadi" ucap salah satu murid yang sedang berjalan di depan kelas dan itu terdengar oleh Renald dan juga Maya yang baru keluar kantin.
"Iya ya, Untung saja ada Aldi tadi jika tidak mungkin kepala Naisa sudah berdarah akibat Asanti" jawab murid lain.
"Aku tidak pernah melihat Aldi marah seperti itu dan mungkin ini pertama kali nya dia marah seperti itu bukan?" tanya murid itu lagi.
"Kenapa lagi dengan Naisa?" guman Renald yang menjadi hawatir akan Naisa.
"Apa yang terjadi?" guman Maya yang penasaran akan apa yang terjadi. Renald dan Maya pun masuk ke dalam kelas masing masing, Saat masuk ke dalam kelas Renald sudah tidak mendapatkan tas Naisa dan juga Aldi saat dia melihat ke arah bangku Naisa dan Aldi.
"Dimana Aldi dan Naisa?" tanya Renald.
"Aldi mengantarkan Naisa pulang" jawab salah satu murid perempuan yang mendengar pertanyaan Renald.
"Kenapa Naisa pulang?" tanya Renald lagi.
"Tadi saat di perpustakaan Asanti menarik rambut Naisa dan membuat Naisa kesakitan dan menangis, Untung nya tadi ada Aldi yang menghentikan Asanti dan membalas perbuatan Asanti kepada Naisa tadi makanya sekarang Aldi mengantarkan Naisa pulang, Kasihan sekali Naisa tadi" jelas murid erempuan tadi yang mendengar dan melihat kejadian sewaktu di perpustakaan tadi.
"Apa dia baik baik saja?" tanya Renald.
"Seperti nya dia tidak baik baik saja" jawab murid tadi lagi. Renald tidak menjawab nya lagi dan memilih untuk kembali duduk di bangku nya.
Saat duduk Renald langsung melihat Asanti lewat di depan kelas nya dengan wajah sembab dan rambut kusut dengan di temani oleh Hana. "Apa Aldi yang melakukan itu?" guman Renald dengan menatap Asanti yang lewat itu.
"Jika memang iya Aldi yang melakukan itu aku sangat bersyukur karna masih ada yang ingin melindungi Naisa" guman Renald dengan senyum yang mengembang di wajah tampan nya itu.
"Apa aku harus mencoba meluapakan Naisa?" guman Renald kembali dengan menoleh ke sembarang arah.
Di dalam mobil
Naisa dan Aldi baru saja sampai di depan rumah Naisa, Aldi memarkirkan mobil nya di depan rumah Naisa dan menoleh ke arah Naisa dan dia melihat jika Naisa sedang tertidur pulas dengan tubuh yang menyender dan kepala yang miring ke arah kaca.
Aldi menatap wanita yang sedang tertidur di bagian tempat duduk samping nya itu dengan tatapan sedih dan dada nya sedikit terasa sesak melihat itu. "Kenapa menjadi sesak seperti ini?" guman Aldi dengan memegang dada nya itu saat melihat wajah Naisa yang sembab dan rambut acak acakan itu.
Aldi tidak membangunkan Naisa dan dia membuka almamater yang ia gunakan dan menyelimuti bagian dada dan perut Naisa, setelah itu dia langsung keluar dari mobil tanpa menutup pintu mobil karna takut mengganggu Naisa yang sedang tertidur.
Aldi mengambil ponsel nya yang ada di saku celana nya itu dan menghubungi Asma dan berniat ingin menyuruh Asma pulang dan menjaga Naisa tapi nomor Asma tidak aktif dan dia mencoba berulang kali tapi hasil nya tetap sama dengan awal.
"Bagaimana ini? kak Asma nomor nya tidak aktif" guman Aldi dengan menoleh ke arah kaca mobil dan menampakkan Naisa yang sedang terlelap. Aldi kembali masuk ke dalam mobil nya itu dan menutup pelan pintu mobil itu.
"Aku tidak mau mengganggu tidur nya, Nampak sekali dari wajah nya jika dia kelelahan dan kesakitan" guman Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa yang sembab dengan tangan yang merapikan sedikit rambut Naisa yang acak acakan itu.
"Apa aku harus menunggu kak Asma?" guman Aldi kembali tanpa mengalihkan pandangan nya dari Naisa.
"Tidak mungkin, Itu terlalu lama" guman nya kembali.
"Apa aku bawa dia pulang ke rumah saja?" guman Aldi yang bingung.
"Tapi bagaimana jika mama atau papa marah dan berfikir jika aku menyakiti atau macam macam dengan Naisa?" guman nya kembali. Aldi sedang berbicara dengan fikiran nya sendiri saat ini.
"Atau aku bawa dia ke apartemen ku saja?" guman nya kembali. Aldi memiliki apartemen pribadi yang tidak pernah di kunjungi oleh siapapun dan itu dia beli dari hasil kerja nya sendiri dan dia sangat jarang menginap di sana tapi ada asisten pribadi nya yang ia izinkan tinggal di sana dan asisten nya itu sudah ia anggap seperti orang tua sendiri.
"Ah tidak mungkin aku membawa nya ke apartemen" guman nya kembali dengan menggelengkan kepala nya.