I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 76



"Di mana Al?" tanya Naisa dengan nada sangat pelan dan itu membuat semua orang tida mendengar kan suara nya.


"Apa nak?" tanya Andini dengan nada lembut kepada Naisa.


"Al di mana?" tanya Naisa lagi dengan nada yang masih rendah.


"Katakan lagi" perintah Maya dan mendekat kan telinga nya ke dekat mulut Naisa.


"Al, Dimana?" tanya Naisa lagi dengan suara rendah.


"Aldi di samping mu" jawab Maya yang bisa mendengarkan suara pelan Naisa itu. Naisa berusaha menoleh ke samping tapi dia tidak bisa melihat karna terhalang oleh Andini. Maya mengode Andini untuk sedikit bergeser dan Andini pun menggeserkan tubuh nya dan Naisa bisa nampak jelas Aldi yang berbaring di ranjang jarak lumayan jauh dari nya itu dengan gips di leher dan oksigen yang membantu pernapasan nya.


Air mata wanita itu mengalir seketika saat melihat kondisi lelaki yang ia cintai meskipun tidak memiliki hubungan apapun tapi hati nya sangat hancur dan sedih melihat Aldi terbaring lemah di samping nya. "Kau kenapa menangis sayang?" tanya Erdin kepada Naisa dengan mengusap lembut kepala Naisa, sedangkan Andini dia juga ikut menangis melihat Naisa menangis karna dia juga belum puas menangis jika Aldi sudah bangun.


"Al tidak apa apa kan om?" tanya Naisa kepada Erdin dengan nada sangat pelan dengan air mata yang mengalir sedikit sedikit di wajah nya.


"Dia tidak apa apa" jawab Erdin sambil melebarkan senyuman nya menatap Naisa dan mengusap lembut kepala Naisa itu.


"Jadi kenapa dia tidak bangun?" tanya Naisa lagi kepada Erdin dengan air mata yang kembali mengalir deras.


"Dia belum tau jika kau belum bangun, Makanya dia juga belum bangun" jawab Erdin. Naisa ingin berdiri dan berada di dekat Aldi saat ini tapi Andini dan yang lain nya melarang Naisa karna Naisa juga baru sadar dari sakit nya.


"Jangan banyak bergerak nanti kau tambah sakit nak" ucap Andini dengan mata bakub nya menatap Naisa lekat.


"Naisa ingin di dekat Al" jawab Naisa dengan tangis nya dan melepaskan alat bantu pernapasan nya.


"Istirahat lah, Nanti kau kembali sakit dan Al tidak mau melihat mu sakit" jelas Andini yang mencoba membujuk Naisa untuk kembali beristirahat.


"Tapi tan..." ucap Naisa terpotong oleh Maya.


"Jika kau tidak beristirahat dengan baik Aldi akan marah kepada mu saat bangun" potong Maya, Naisa menoleh ke arah Maya dan setelah itu kembali menoleh ke arah Andini, Andini mengangguk mengiyakan nya dan Naisa pun menuruti perkataan mereka dan Asma pun kembali mengenakan oksigen kepada Naisa.


"Istirahat lah" ucap Andini dan mencium pucuk kepala Naisa. Naisa pun mengiyakan nya dan kembali memejamkan mata nya untuk mencoba tidur dan beristirahat. Andini mengusap lembut kepala Naisa dengan penuh kasih sayang dan setelah itu dia mencium nya dan kembali ke tempat duduk nya di samping Aldi begitupun dengan yang lain nya yang juga kembali ke tempat duduk masing masing.


Keesokan pagi nya.


Maya terbangun terlebih dahulu karna merasakan sakit di pinggang nya akibat tidur duduk, Dia beranjak berdiri tapi saat dia beranjak berdiri Naisa juga ikut terbangun. "Kau terganggu dengan ku?" tanya Maya kepada Naisa dengan menatap lekat Naisa yang terbangun itu karna dia tau jika Naisa terbangun.


"Tidak, Aku ingin mengganti pakaian ku" jawab Naisa dan beranjak berdiri dari tidur nya.


"Kau belum sembuh betul, Tidak boleh keluar dari rumah sakit" jawab Maya.


"Aku mohon, Aku ingin menunggu Aldi dan tidak mungkin aku menunggu nya menggunakan pakaian ini" jelas Naisa kepada Maya.


"Yasudah kau tunggu lah di sini, Aku akan membawakan baju untuk mu nanti" jawab Maya dengan melebarkan senyuman nya karna dia juga tidak tega jika harus menolak. Naisa membalas nya dengan senyuman dan setelah itu Maya pun berpamitan untuk berlalu dan dia tidak membangunkan Renald karna Renald nampak tidur nyenyak jadi dia sendiri akan pulang menggunakan mobil Aldi yang ia bawa tadi.


Naisa menoleh ke arah Aldi yang masih belum sadarkan diri karna layar penghalang di sana di buka oleh Andini. "Hidup ku memang sangat merepotkan banyak orang" guman Naisa saat melihat Aldi yang belum sadarkan diri di tambah lagi melihat Andini dan juga Erdin yang juga ikut susah karna nya.


"Ayah, Naisa sudah membuat semua orang susah karna penculikan kemarin" guman nya kembali dan menoleh ke atas menatap langit langit kamar nya dengan air mata yang mengalir.


Renald terbangun dari tidur nya karna cahaya lampu yang lumayan terang di tambah lagi cahaya mata hari yang masuk dan menyinari wajah nya. Renald langsung menoleh ke Naisa dan dia melihat Naisa sedang menangis dan itu membuat nya heran dan bingung akan Naisa yang sedang menangis dengan menengadah.


Renald bangkit dari duduk nya itu dan berjalan ke arah Naisa, "Kau kenapa?" tanya Renald kepada Naisa saat dia sudah sampai di dekat Naisa. Naisa langsung membuka mata nya dan dengan segera menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi nya.


"Kau sudah bangun?" tanya Naisa kepada Renald dengan kepala yang masih menunduk.


"Aku bertanya, Kau kenapa menangis?'" tanya Renald lagi kepada Naisa yang sedang menundukkan kepala nya.


"Aku tidak apa apa" jawab Naisa dengan melebarkan senyuman nya dan mengangkat kepala nya menatap Renald.


"Jadi kenapa kau menangis?" tanya Renald lagi karna dia tidak yakin akan jawaban Naisa dan Naisa pasti berbohong kepada nya karna dia tau Naisa itu berbohong dan Naisa tipe tipe orang yang tidak bisa berbohong.


"Aku tidak menangis" jawab Naisa yang menatap lekat Renald supaya Renald percaya jika dia tidak menangis.


"Kau jangan berbohong, Kau ini baru selesai menangis, Jangan berbohong kepada ku, Aku tanya sekali lagi, Kau kenapa menangis?" tanya Renald lagi dengan menatap lekat Naisa yang juga menatap nya.