
"Dasar bodoh, Lihat ini kaki mu jadi memar dan membengkak" ketus Aldi dengan menunjukkan kaki Naisa kepada sang pemilik, Naisa tidak memperdulikan kaki nya itu dan menatap lekat wajah Aldi yang seperti nya baru selesai menangis itu.
"Hey kau mendengar kan ku atau tidak?" ketus Aldi lagu kepada Naisa. Naisa masih belum menjawab dan memperhatikan wajah lelaki yang ada di hadapan nya itu.
"Kau tadi menangis?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi yang ada di hadapan nya. Aldi mengusap wajah bagian bawah mata nya saat Naisa bertanya seperti itu.
"Aku tidak menangis" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa dan kembali memegang kaki Naisa yang sedikit memar itu.
Naisa mendekat ke arah Aldi dan mengalihkan wajah Aldi menatap nya, Naisa menatap lekat wajah lelaki itu dan sangat jelas jika lelaki itu baru saja mengeluarkan air mata. "Kau menangis karna di tampar papa mu?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah lelaki yang sedang ada di hadapan nya itu. Aldi tidak menjawab dan menatap lekat wajah wanita yang ada di hadapan nya itu, Aldi merasakan kesejukan saat melihat mata indah Naisa yang menyejukkan hati nya di tambah lagi wajah Naisa yang sangat menyejukkan bagi nya. Aldi kembali menetes kan sedikit air mata nya karna dia memang dia sedih karna ayah nya tidak ingin mendengarkan penjelasan nya dan lebih mempercayai ucapan orang lain.
Naisa tersentak kaget saat melihat Aldi yang meneteskan air mata karna dia tau Aldi lelaki kuat dan dia juga tidak pernah melihat Aldi menangis malahan Aldi selalu menghibur, "Jangan menangis, Kau tidak salah di sini, Memang nya apa yang kau lakukan kepada Airin?" tanya Naisa karna dia belum tau apa yang di lakukan oleh Aldi kepada Airin sedangkan tangan nya mengusap lembut wajah lelaki yang sedang mengeluarkan air mata itu.
"Aku melakukan apa yang dia lakukan kepada mu" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa, Dahi Naisa mengerut mendengar jawaban itu.
"Mengmang nya apa?" tanya Naisa lagi yang berpura pura tidak tau akan apa yang Airin lakukan kepada nya.
"Dia yang menyebabkan kau tenggelam di sungai tadi dan aku balas dengan mencelupkan kepala nya di dalam bak toilet rumah sakit ini" jelas Aldi yang hanya tau itu yang dia lakukan karna memang itu dan dia tidak tau masalah dagu Airin yang terluka karna panjang nya kuku nya.
"Kau tau dari mana jika dia yang menyebabku tenggelam?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi dan ingin menurunkan kaki nya dari atas kaki Aldi tapi dengan segera Aldi melarang nya dan menahan kaki wanita itu.
"Aku mendengar Fany bercerita dengan Azlan makanya aku tau dan aku tidak terima ada orang yang manyakiti mu" jelas Aldi lagi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Entahlah apa aku harus senang atau tidak akan dia yang membela ku" guman Naisa yang tidak tau harus bahagia atau tidak akan Aldi yang melindungi dan membela nya.
"Benarkan dia yang mencelakakan mu hingga kau tenggelam?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa, Naisa melepaskan tangan nya dari wajah Aldi dam terdiam karna dia ragu harus menjawab jujur atau tidak.
"Jawablah dengan jujur, Tidak ada yang perlu kau takuti saat kau jujur karna tidak ada yang berani memarahi mu dan menyakiti mu lagi" ucap Aldi yang bisa melihat jika Naisa itu sedikit takut untuk bercerita. Naisa mengangkat kepala nya dan menatap lekat wajah Aldi yang ada di hadapan nya itu.
"Iya dia memang mendorongku tadi saat aku berada di tebing" jawab Naisa dengan menundukkan kepala nya. Aldi tidak membiarkan kepala wanita nya itu menunduk dan kembali mengangkat nya dan menghadapkan nya ke hadapan nya.
"Bagaimana bisa kau naik ke tebing itu?'' tanya Aldi lagi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Dia tadi meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan sesuatu di atas sana, Tapi sesampai di sana tidak ada apa apa dan dia mendekat ke arahku dan langsung mendorongku" jelas Naisa dengan sejujur jujur nya menatap Aldi.
"Dia bilang dia takut akan ketinggian makanya aku mau" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Bodoh sekali kau ini, dia tidak pernah takut akan ketinggian" ucap Aldi yang merasa Naisa telah di bodohi oleh Airin.
"Aku kan tidak tau jika dia membohongi ku" jawab Naisa dengan menatap kesal ke arah Aldi.
"Astaga Naisa, Kau tau, Kau hampir kehilangan nyawa akibat di bodohi oleh nya" ucap Aldi yang merasa Naisa sangat bodoh dan terlalu mudah percaya akan orang.
"Aku kan tidak tau" jawab Naisa dan menundukkan kepala nya.
"Akan aku balas dia" ucap Aldi yang masih geram akan Airin.
"Jangan, Kau tidak boleh menyakiti nya, Jika kau menyakiti nya apa beda nya kau dengan dia sama sama jahat" jelas Naisa yang mendengar ucapan Aldi tadi.
"Tapi dia sudah mencelakai mu dan membuat kaki mu ini patah" jawab Aldi akan ucapan Naisa itu.
"Ini hanya bersifat sementara nanti juga akan sembuh" jawab Naisa dengan menatap kaki nya yang ada di paha Aldi.
"Tapi dia hampir menghilangkan nyawa mu" ucap Aldi lagi.
"Aku sudah tidak apa apa, Lihatlah aku sehat saat ini" jawab Naisa akan ucapan Aldi. Aldi menatap lekat wajah wanita yang sedang berada di hadapan nya itu dengan tatapan lekat dan juga sedikit heran akan Naisa yang tidak mau membalas perilaku jahat orang kepada nya.
"Aku tidak pernah menemukan wanita yang tidak mengadu kepada ku jika dia menjadi kekasih ataupun teman wanita ku" guman Aldi yang sangat bisa merasakan jika Naisa itu memanglah wanita yang beda dari banyak nya wanita yang ia temui.
"Wajah mu masih sakit?" tanya Naisa yang melihat Aldi hanya termenung menatap nya tanpa mengeluarkan ucapan apapun. Aldi menggelengkan kepala nya karna tamparan dari ayah nya itu tidak sebanding dengan sakit hati nya kepada Airin yang sudah menyakiti Naisa.
"Aku pijitkan kaki mu ya?" tanya Aldi kepada Naisa dengan menatap lekat Naisa.
"Tidak usah" jawab Naisa dan memundurkan kaki nya.
"Kau malu di sini? yasudah ayo kita kembali ke ruangan mu" ucap Aldi dan menurunkan kaki Naisa dan langsung menggendong Naisa kembali ke ruangan nya dengan posisi sama seperti tadi. Naisa tidak menolak akan gendongan Aldi itu dan meilih diam dan menyembunyikan wajah nya.