
Di dalam mobil Naisa nampak sedikit gugup dan menundukkan kepala dan tidak seperti biasanya, "Astaga ada apa dengan jantung ku ini?" guman Naisa dengan memegang dada nya karna sedari tadi jantung nya berdetak tak karuan saat Setelah Aldi mengenakan sepatu untuk nya.
Aldi menoleh ke arah Naisa yang sedang memegang dada itu dengan dahi yang mengerut. "Kau kenapa?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Ha?" tanya balik Naisa yang tidak menyadari ucapan Aldi.
"Kau kenapa? apa kau sakit?" tanya Aldi dengan menatap lekat Naisa dengan mobil yang sudah berhenti. Wajah Naisa kembali memerah akibat tatapan tajam Aldi terhadap nya.
"Tampan sekali" guman Naisa yang termenung melihat wajah Aldi dengan tatapan lekat nya itu.
"Hey" ucap Aldi dengan mengibaskan tangan nya ke depan wajah Naisa. Naisa langsung tersadar dan menundukkan kepala nya.
"Astaga apa yang aku pikirkan?" guman Naisa dengan memukul pelan kepala nya karna dia sama sekali tidak pernah memuji pria lain selain ayah nya mau itu secara langsung atau pun tidak.
"Hey, Naisa?" panggil Aldi karna dia belum mendapat jawaban akan pertanyaan yang ia lontarkan kepada Naisa tadi.
"Em?" jawab Naisa dengan kembali menoleh ke arah Aldi.
"Kau kenapa?" tanya Aldi lagi kepada Naisa.
"Tidak" jawab Naisa dengan menggelengkan kepala nya.
"Tapi tadi kau..." ucap Aldi yang terpotong oleh Naisa.
"Ah ini sudah sampai ya, Terima kasih sudah memberi ku tumpangan" potong Naisa sopan dan langsung keluar dari dalam mobil Aldi. Aldi menatap punggung Naisa yang sudah mulai menghilang itu dengan tatapan bingung.
"Ada apa dengan nya?" guman Aldi dengan dahi yang mengerut melihat kepergian Naisa. Aldi pun langsung turun dari mobil dan saat dia turun sebuah mobil yakni mobil Renald terparkir di hadapan nya.
Renald dan Maya keluar dari mobil itu dan Aldi bisa melihat nya karna dia belum berlalu dari sana. "Hey" sapa Maya kepada Aldi dengan senyum yang melebar sedangkan Aldi dia hanya menatap datar ke arah Maya.
"Baru sampai?" tanya Renald kepada Aldi.
"Hem" jawab Aldi datar dengan satu tangan yang memegang tas dan yang satu nya lagi di masukkan di dalam kantong celana nya.
"Kau sombong sekali sekarang" ucap Maya dengan menyenggol bahu Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan dia pun langsung berlalu dari sana.
"Aldi memang tidak pernah berubah, Dari dulu hingga sekarang selalu saja datar" ucap Renald kepada Maya dengan menatap kepergian Aldi.
"Hem, Tapi jika dia bersama dengan Naisa nampak berbeda" jawab Maya dengan senyum yang melebar karna dia juga memperhatikan apa saja yang di lakukan oleh Aldi dan Naisa dan jika bersama Naisa pasti Aldi lebih banyak tersenyum dari pada datar. Renald menoleh ke arah kekasih nya itu.
"Aku tau jika kau belum sepenuh nya melupakan Naisa makanya kau menatap ku seperti itu bukan? tapi kau harus tau Aldi seperti nya suka dengan Naisa dan aku juga akan mendukung mereka" jelas Maya yang sadar jika Renald menatap nya. Pikiran Maya sebenar nya sangat dewasa tapi dia itu egois makanya jadi seperti itu.
"Kenapa kau mendukung hubungan mereka? bukan kah kau membenci Naisa?" tanya Renald dengan tatapan bingung menatap kekasih nya itu.
"Aku tidak pernah membenci nya hanya saja aku tidak menyukai nya saat dia dekat dengan mu" jelas Maya.
"Jadi selama ini?" tanya Renald kepada Maya.
"Kau memang tidak boleh membenci siapapun, Yasudah aku akan ke kelas ku" ucap Renald dengan mengusap lembut kepala Maya. Maya mengangguk mengiyakan nya dan Renald pun langsung berlalu masuk ke dalam kelas nya.
Saat masuk ke dalam kelas Renald langsung melihat Aldi yang sedang berbicara dengan Naisa, Senyum di wajah Renald mengembang saat melihat senyum di wajah Aldi mengembang. "Aku tidak salah" guman Renald dengan senyum yang masih mengembang dan langsung mendudukkan tubuh nya di kursi nya.
"Jangan mengganggu ku, Aku sedang membaca" ucap Naisa kepada Aldi yang sedari tadi menganggu nya.
"Baik lah aku akan berhenti" jawab Aldi karna guru mata pelajaran sudah masuk ke dalam kelas jika guru tudak masuk mungkin dia akan menganggu Naisa.
Semua murid di sekolah itu melaksanakan kewajiban mereka yakni belajar dengan baik begitupun dengan Aldi yang jarang bersekolah dan jarang menulis sekarang sudah menjadi rajin sekolah dan menulis. Setelah jam pelajaran selesai semua murid menuju ke kantin dan ada yang ke perpustakaan.
"Kau mau kemana?" tanya Aldi kepada Naisa saat melihat Naisa yang berjalan ke arah yang berbeda dari nya.
"Aku ingin ke perpustakaan" jawab Naisa dengan menoleh ke arah Aldi.
"Untuk apa kau ke perpus?" tanya Aldi yang sudah berada di samping Naisa.
"Ingin berjualan bakso" jawab Naisa yang sedikit kesal akan pertanyaa bodoh Aldi.
"Hah? kau berjualan bakso di perpustakaan? jika kau ingin berjualan di kantin, Perpustakaan untuk membaca" jelas Aldi kepada Naisa. Naisa menghentikan langkah kaki nya dan menghadap ke arah Aldi.
"Ada apa?" tanya Aldi kepada Naisa yang menatap nya.
"Kau sudah tau jika perpustakaan untuk membaca masih saja kau bertanya" ketus Naisa yang kesal akan Aldi.
"Aku memang tau" jawab Aldi.
"Jadi kenapa kau masih bertanya?" tanya Naisa kepada Aldi.
"Hanya bertanya, Dan kau kenapa menjawab ingin jualan bakso?" tanya Aldi lagi kepada Naisa.
"Ahh" ketus Naisa dengan mengacak rambut nya dan langsung berlalu masuk ke dalam perpustakaan tanpa menunggu Aldi. Aldi terkekeh melihat Naisa yang marah kepada nya itu dan dia tadi sengaja membuat Naisa marah, Aldi pun langsung menyusul Naisa masuk ke dalam perpustakaan.
Seperti biasa, Saat Aldi masuk ke dalam perpustakaan para wanita yang ada di dalam sana mengerumuni nya. Naisa yang bisa melihat itu tidak memperdulikan nya dan mencari buku yang ia perlukan. Setelah mendapatkan buku yang ia cari Naisa pun mendudukkan tubuh nya di salah satu bangku dan mulai membaca buku yang ia ambil tadi.
"Sudah" teriak Aldi yang sudah tidak kuat di kerumuni banyak wanita, Para wanita yang mengerumuni Aldi pun berhamburan pergi.
"Huh" Aldi mendengus lega karna sudah tidak ada lagi yang mengerumuni nya, Aldi langsung berjalan menuju ke dekat Naisa yang sedang membaca itu.
"Pokus sekali kau" ucap Aldi dengan mendudukkan tubuh nya di samping Naisa.
"Diam" ucap Naisa karna dia ingin membaca dengan pokus tanpa gangguan.
"Kau sedang membaca apa?" tanya Aldi kepada Naisa yang sedang pokus membaca itu.