I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 57



"Benarkah?" tanya Asma yang belum percaya kepada Andini. Andini mengangguk mengiyakan nya sambil melebarkan senyuman nya.


"Tapi ma Al bilang dia kenal dengan Naisa baru dan saat menginjak kelas dua, Begitupun dengan Naisa yang mengenal Aldi saat bekerja di toko mama" jelas Asma tentang yang ia ketahui dan itu lah yang ia ketahui.


"Mungkin mereka sudah saling lupa" jawab Andini. Asma menatap bingung dan menoleh ke arah Sahlan yang juga menatap nya itu.


"Sahlan belum ngerti apa maksud tante" ucap Sahlan karna dia memang belum mengerti sedikit pun tentang apa yang di katakan oleh Andini.


"Naisa dan Aldi sudah mengenal sejak kecil dan mungkin saat mereka lahir karna ayah Naisa dan om Erdin itu berteman dekat dan saat Naisa lahir ibu Naisa meninggal dunia dan ayah Naisa jatuh bangkrut nah waktu itu tante dan om menawarkan bantuan kepada ayah Naisa tapi dia tidak mau dan memilih untuk mencoba usaha sendiri" jelas Andini panjang lebar.


"Tapi kenapa mereka berdua saat bertemu tidak saling kenal ma?" tanya Asma.


"Karna mereka sudah tidak bertemu satu sama lain semenjak berpisah semasa kecil dan jika ayah Naisa betemu dengan mama dan papa pun saat tidak sengaja bertemu" jelas Andini lagi.


"Berarti Naisa itu Eca?" tanya Sahlan karna memang dia sempat bertemu dan bermain sewaktu kecil dengan Naisa kecil.


"Hem" jawab Andini dengan mengangguk dan melebarkan senyuman nya. Asma tidak mengetahui nya karna dia mengenal Andini dan keluarga saat berumur enam belas tahun makanya dia tidak tau kehidupan lalu Aldi.


"Astaga kenapa aku tidak sadar jika dia adalah Eca" ucap Sahlan dengan memukul kepala nya.


"Itu lah kau" ucap Andini.


"Aldi tau masalah ini?" tanya Sahlan kepada Andini sedang kan Asma dia hanya mendengar kan ucapan mereka.


"Seperti nya sudah, Karna jika di lihat dari perhatian Aldi kepada Naisa dia nampak sudah mengenal Naisa lama" jelas Andini.


"Tapi ma seperti nya Aldi belum mengetahui nya" ucap Asma.


"Dari mana kau tau nak?" tanya Andini.


"Soal nya waktu Asma menanyakan tentang perkenalan nya dan Naisa dia menjawab jika mengenal Naisa sewaktu sekolah" jelas Asma.


"Naisa apa kah dia sudah tau?" tanya Sahlan lagi.


"Seperti nya Naisa juga belum tau karna dia mengenal Aldi saat bekerja di toko" jawab Asma.


"Harus di kasih tau ini kepada Al" ucap Sahlan.


"Jangan memberitahu nya biar saja dia tau dengan sendiri nya" tegah Andini.


"Betul kata bunda" sambung Asma yang mengangguk mengiyakan nya. Sahlan mengurung kan niat nya untuk menghubungi Aldi dan meletakkan kembali ponsel nya ke dalam saku celana nya.


"Yasudah ma, Asma pulang dulu" pamit Asma karna hari hampir petang.


"Sahlan antar kan Asma pulang ke rumah nya" perintah Andini. Sahlan mengangguk mengiyakan nya dan Asma juga tidak menolak nya karna Asma bukan Naisa yang suka berjalan kaki.


"Mobil siapa itu?" tanya Naisa saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di hadapan rumah nya.


"Seperti nya itu mobil rumah" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa yang tidak di lontar kan untuk nya. Naisa menoleh ke arah Aldi dan setelah itu kembali melihat mobil yang berhenti di depan rumah nya itu dan terlihat Asma keluar dari mobil itu.


"Oh kak Asma" guman Naisa saat melihat Asma keluar dari dalam mobil itu. Setelah Asma keluar, Keluar pula Sahlan. dahi Naisa mengerut saat melihat Sahlan keluar dan Aldi menoleh ke arah Naisa.


"Kenapa dahi mu mengerut?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Siapa yang mengerutkan dahi?" tanya balik Naisa kepada Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan menatap Asma dan Sahlan yang berjalan ke arah mereka.


"Pantas saja dahi nya mengerut" guman Aldi saat melihat Sahlan.


"Kenapa kau malah nongkrong di sini?" tanya Sahlan kepada Aldi.


"Kenapa kakak lama sekali pulang?" tanya Naisa kepada Asma.


"Biasa" jawab Asma sambil melebarkan senyuman nya.


"Wah ada makanan, Bagi" ucap Sahlan dan mengambil gorengan yang masih ada di dalam piring.


"Kau ini sudah besar tapi masih saja kelakuan seperti anak anak" ucap Asma kepada Sahlan.


"Biarkan saja" jawab Sahlan.


Di rumah Renald.


Renald sekarang berada di rumah dan Maya bermain ke rumah nya karna sudah pulang dari luar negri makanya dia langsung ke rumah Renald. Sudah sejak pagi Maya di rumah Renald tapi wanita itu sama sekali belum ingin pulang ke rumah nya dan orang tua Renald bisa mengerti akan itu dan mereka juga tidak memandang bulu mencarikan pendamping hidup untuk anak mereka.


"May pulang lah, Kau tidak lelah setelah pulang dari luar negri langsung ke sini dan sampai sore?" tanya Renald kepada Maya.


"Aku merindukan mu makanya aku langsung ke sini, Kau tidak merindukan ku?" tanya Maya kepada Renald.


"Besok di sekolah kita bisa bertemu, Sekarang pulang lah, Istirahat" ucap Renald.


"Baik lah, Aku akan pulang sekarang, Besok jangan lupa jemput aku di rumah" ucap Maya dan setelah itu dia langsung berlalu dan sebelum dia berlalu dia berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua Renald setelah itu baru dia langsung keluar dan masuk ke dalam mobil nya.


Renald langsung berlalu menaiki anak tangga karna sedari tadi dia duduk di luar kamar nya. "Huh" Renald langsung menghempas tubuh nya ke atas ranjang karna dia merasa lega saat Maya sudah tidak di rumah nya.


Renald menatap langit langit kamar nya dan setelah itu menoleh ke arah paper bag yang di berikan oleh Maya kepada nya yang belum dia buka dan belum dia ketahui apa isi paper bag itu. Renald kembali duduk dan mengambil paper bag berwarna coklat muda itu dan membuka nya.


Isi paper bag itu adalah jam tangan mahal yang harga nya ratusan juta dan itu asli dari prancis. "Dia memang baik, Tapi aku belum mencintai nya" guman Renald dengan menatap jam tangan yang di berikan oleh Maya kepada nya.


Dia kembali meletakkan jam itu kembali ke dalam kotak dan meletakkan nya di dalam lemari kecil di samping ranjang nya itu dan kembali merebahkan tubuh nya. "Apa aku harus mencoba mencintai Maya dan melupakan Naisa?" guman Renald dengan menatap langit langit kamar nya karna memang dia selalu teringat akan Naisa wanita yang sudah membuat nya jatuh hati dan susah untuk di luapakn.