
Aldi menghampiri Naisa ntah kenapa dia bisa perhatian kepada Naisa padahal Naisa bukan siapa siapanya. "Kau tidak apa apa?" tanya Aldi yang hawatir akan Naisa dengan memegang tangan Naisa.
"Saya tidak apa apa" jawab Naisa dan menepis tangan Aldi yang menyentuh tangan nya itu.
"Kenapa kau mendorong nya?" tanya Aldi kepada Syeri.
"Dia merebut mu dari ku" jawab Syeri dengan langsung berdiri.
"Sudah ku bilang dia tidak merebut ku dari mu dan ini semua kesalahan mu dan jangan kau bawa orang lain dalam masalah ini" jelas Aldi kesal dan langsung berlalu. Saat dia ingin keluar dia teringat akan Naisa yang terkena duri mawar tadi dan dia pun kembali ke belakang.
"Ayo" ajak Aldi kepada Naisa dengan menarik tangan Naisa.
"Lepaskan" ucap Naisa yang ingin melepas kan tangan nya dari Aldi. Aldi melepaskan tangan Naisa.
"Berjalan lah sendiri jika tidak mau di tarik" ketus Aldi. Naisa langsung menundukkan kepala nya karna dia sangat rapuh jika di bentak.
"Maaf kan saya" ucap Naisa dan langsung berlalu meninggal kan Aldi dan juga Syeri di taman belakang. Aldi menatap wanita itu dan ingin berlalu keluar juga tapi Syeri lebih dulu meraih tangan nya.
"Lepaskan aku" ketus Aldi dan menepis kasar tangan Syeri dan langsung berlalu meninggal kan Syeri sendiri di taman belakang.
"Kau sudah tergoda dengan nya bukan?" teriak Syeri yang membuat langkah kaki Aldi terhenti.
"Sudah ku bilang dia tidak asa hubungan nya di dalam masalah kita dan siapa yang mau dengan wanita murahan seperti mu ini hah?" bentak Aldi karna dia sudah emosi dengan Syeri yang selalu menyalah kan Naisa.
"Itu..." ucap Syeri ragu dan menunduk kan kepala nya saat mengingat Aldi yang memergoki nya.
"Kau tidak bisa menjawab bukan? kau terlalu mudah untuk bersetubuh dengan laki laki lain" ucap Aldi kesal.
"Pergi dari sini" bentak Aldi. Syeri tidak mau meninggal kan taman itu dan masih mematung di sana.
"Aku bilang pergi" bentak nya kembali. Syeri langsung berlalu dari taman itu dan keluar dan terlihat banyak sekali orang yang melihat nya tapi tidak dengan Naisa yang duduk untuk melepaskan duri bunga yang masih melekat di tangan nya itu.
Syeri menatap tak suka akan Naisa. "Akan aku pasti kan kau menderita" guman Syeri dan langsung berlalu naik ke dalam mobil nya dan setelah itu dia melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa dia tadi menatap ku seperti itu?" guman Naisa sedikit takut melihat Syeri menatap nya seperti tatapan tak suka dan ingin membunuh.
"Huh sudah lah" guman nya kembali dan kembali mengobati tangan nya yang luka itu.
"Naisa kau kenapa?" tanya Ari pegawai laki laki di sana saat dia melihat Naisa yang tengah terluka.
"Saya tidak apa apa kak" jawab Naisa dengan melebarkan senyuman nya.
"Apa nya yang tidak apa apa ini terkena duri mawar dan harus di obati" ucap Ari sedikit hawatir akan Naisa dan melihat ada bekas duri mawar di sana yang belum terlepas. Ari mengambil tangan Naisa itu dan mencoba mengobati nya.
"Pelan kak" rengek Naisa kesakitan saat Ari melepaskan duri bunga dari tangan nya.
"Ini sudah pelan nai" jawab Ari dan kembali fokus ke tangan Naisa. Aldi yang baru saja keluar dari taman belakang melihat Ari dan Naisa sedang duduk di atas kursi sofa yang ada di dalam toko itu.
"Auuu" rengek Naisa yang sangat kesakitan akibat duri bunga tadi.
"Sakit ya?" tanya Ari. Naisa mengangguk mengiyakan nya dan nampak wajah Naisa memerah akibat menahan sakit.
"Kenapa kalian bersantai?" tanya Aldi kepada Naisa dan juga Ari. Naisa dengan segera menyembunyi kan tangan nya yang luka itu.
"Berikan tangan mu" perintah Aldi yang tidak melihat luka sedikit pun di tangan Naisa.
"Saya akan kembali bekerja" ucap Naisa dengan menunduk kan kepala nya dan langsung berlalu.
"Nai tangan mu itu belum di obati" teriak Ari yang melihat Naisa berlalu. Naisa tidak memperdulikan nya dan kembali ke belakang untuk menyusun kembali bunga yang belum tersusun tadi.
"Kenapa Naisa ri?" tanya Asma yang mendengar teriakan Ari.
"Tangan nya terkena duri mawar kak" jawab Ari karna memang Asma lah yang tertua bekerja di sana.
"Mana dia?" tanya Asma.
"Dia kembali ke belakang dan tidak mau di obati setelah pak Aldi datang" jawab Ari sedikit ragu karna Aldi masih berada di dekat nya.
Asma menatap ke arah Aldi dan Aldi mengangkat kedua bahu nya tanda tidak mengetahui apa apa. Asma berlalu untuk ke taman menemui Naisa dan terlihat Naisa yang masih menyusun bunga di belakang.
"Nai" panggil Asma.
"Iya kak" jawab Naisa dan menoleh ke arah Asma.
"Kenapa tangan mu tidak di obati?" tanya Asma kepada Naisa.
"Ini hanya luka kecil kak tidak apa apa" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya wajah Naisa nampak pucat dan Asma pun meletakkan tangan nya di dahi Naisa.
"Kau sakit nai" ucap Asma yang merasakan hangat di dahi Naisa.
"Nai tidak apa apa kak" jawab Naisa yang sudah merasa dekat dengan Asma.
"Kau pulang saja istirahat" ucap Asma.
"Nai tidak apa apa kak" jawab Naisa lagi dengan melebarkan senyuman nya.
"Kau ini demam ayo" ajak Asma dan menggandeng tangan Naisa untuk keluar. Asma memepaskan celemek yang di kenakan oleh Naisa dan meletakkan nya di dalam loker milik Naisa dan setelah itu dia mengambil tas Naisa dan mengenakan nya kepada Naisa sedangkan Naisa dia sedari tadi bersin dan sangat nampak jika wajah wanita itu sangat pucat.
"Kak nai tidak apa apa" ucap Naisa saat di perlakukan sangat baik oleh Asma.
"Pulang lah kau ini sakit" jawab Asma karna dia juga sudah menganggap Naisa seperti adik sendiri di tambah lagi dia hidup di jakarta ini sendirian.
"Ari antar kan Naisa pulang" ucap Asma yang sudah berada di luar. Aldi yang masih berdiri di sana pun menatap ke belakang dan melihat wajah Naisa yang pucat itu.
"Kenapa kau?" tanya Aldi datar. Naisa tidak menajwab nya dan dia memilih untuk menunduk kan kepala nya.
"Dia sakit pak dan harus di bawa pulang" jawab Asma akan pertanyaan Aldi yang tidak di jawab oleh Naisa.
"Ayo nai" ajak Ari kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan nya.
"Tunggu" teriak Aldi kepada Naisa dan Ari. Mereka berduapun menghentikan langkah kaki mereka dan Ari melihat ke arah Aldi tapi tidak dengan Naisa.
"Ada apa pak?" tanya Ari kepada Aldi.