I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 141



Drittt


Ponsel Azlan berbunyi saat dia baru saja ingin keluar, Azlan menggantikan sebentar langkah kaki nya dan langsung mengambil ponsel nya yang ada di dalam saku celana nya dan melihat siapa yang menghubungi nya.


"Mang Dadang" nama yang tertera di layar ponsel nya itu.


Azlan langsung mengangkat telpon itu. "Halo mang" ucap Azlan saat telpon sudah di angkat.


"Halo den, Ini mamang udah ambil semua barang den Azlan, Apa mamang langsung pulang?" tanya mang Dadang kepada Azlan.


"Kalau gitu mamang jemput Azlan di rumah sakit cempaka melati yang dekat dari tempat mamang ambil barang Az tadi, Az ada di sini" jelas Azlan kepada mang Dadang.


"Baik den" jawab mang Dadang dan langsung mematikan telpon begitupun dengan Azlan yang juga sama sama mematikan telpon.


"Siapa?" tanya Fany kepada Azlan.


"Mang Dadang" jawab Azlan akan pertanyaan Fany tadi, Fany mengangguk mengerti dan langsung keluar dari ruangan itu.


"Kau sudah di bolehkan pulang nak?" tanya Erdin kepada Naisa.


"Al bilang Dokter sudah mengizinkan Naisa untuk pulang" jawab Naisa akan pertanyaan Erdin itu.


"Dia sudah di bolehkan pulang oleh dokter dan dia akan tinggal bersama kita" jawab Aldi yang masih memasang wajah nya, Naisa menoleh ke arah nya dan menatap datar juga ke arah Aldi. Aldi bisa melihat jika Naisa melihat nya tapi dia tidak memperdulikan nya dan langsung melajukan jalan nya sambil mendorong kursi roda Naisa keluar dari rumah sakit itu, Andini, Erdin, Azlan dan juga Fany mengikuti Mereka berdua keluar dari rumah sakit itu.


Aldi menghentikan langkah kaki nya dan melihat di mana latak mobil nya dan untung nya dua melihat mang Jony satpam sekaligus sopir pribadi di rumah nya dan lebih tepat nya pengawal kedua orang tua Aldi dan satpam yang di rumah itu ada dua begitupun dengan sopir yang ada tiga di rumah Aldi itu. "Di mana mobil mang?" tanya Aldi kepada mang Jony, mang Jony yang sedang bersantai pun menoleh ke arah Aldi.


"Eh den Al" ucap mang Jony saat melihat Aldi.


"Non Naisa" sapa mang Jony saat melihat Naisa. Naisa membalas senyuman dari mang Jony dengan senyum tulus nya tapi tidak dengan Aldi yang hanya memasang wajah datar nya.


"Di mana mobil mamang?" tanya Aldi lagi karna dia tidak mendapatkan jawaban tadi dari mang Jony.


"Ah itu den, Ayo" ucap mang Jony yang baru sadar akan pertanyaan Aldi dan mempersilahkan Aldi dan Naisa menuju ke dekat mobil, Mang Jony berjalan terlebih dahulu untuk membuka pintu. Mang Jony membuka pintu untuk Aldi dan juga Naisa masuk ke dalam mobil, Aldi kembali menggendong Naisa karna Naisa tidak bisa naik sendiri ke dalam mobil itu.


"Kita di belakang saja, Biarkan mama dan papa mu yang du tengah" ucap Naisa kepada Aldi saat Aldi mendudukkan tubuh nya di kursi tengah.


"Al ayo kita berpindah ke belakang saja" bisik Naisa yang tidak enak akan Andini dan Erdin.


"Kenapa ingin berpindah? duduk lah kalian di sinu" ucap Erdin karna dia bisa mendengar bisikan Naisa kepada Aldi.


"Om dan tante tidak apa apa jika Naisa duduk di depan?" tanya Naisa.


"Tidak apa apa, Tidak usah hawatir" jawab Andini dan mengusap lembut kepala Naisa, Naisa merasa lega akan jawaban itu dan juga kelembutan Andini kepada nya, Andini pun masuk ke dalam mobil itu dan mendudukkan tubuh nya di tempat duduk bagian belakang begitupun dengan Erdin.


Mang Jony yang sudah melihat semua nya masuk ke dalam mobil pun langsung melajukan mobil keluar dari area rumah sakit itu. "Pakaian kita bagaimana Al?" tanya Naisa saat melihat mobil melaju ke arah berlawanan dengan tempat perkemahan mereka.


"Ada di mobil Az" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa, Naisa mengangguk mengerti akan itu dan menatap ke luar jendela menatap jalanan yang ia lewati. Sedangkan mobil yang di tumpangi oleh Azlan dan Fany mengikuti mobil mereka dari belakang.


Di dalam mobil Azlan, Azlan sedang tadi menggenggam erat tangan Fany dan tidak mau melepaskan nya karna menurutnya jarang jarang untung nya dan Fany bisa seperti itu dan berduaan seperti ini makanya dia terus terusan memegang tangan Fany. Fany juga tidak menolak anak Azlan yang terus memegang tangan nya itu malahan dia nyaman akan genggaman tangan hangat calon sang suami.


Sedangkan di dalam mobil yng di tumpangi oleh Naisa dan Aldi hanya ada keheningan, Aldi sedang malas untuk merayu dan menggoda Naisa karna ada kedua orang tua nya coba saja tidak ada mungkin mobil itu sudah sangat ribut dan rusuh akan perdebatan Aldi dan juga Naisa yang tak ada yang mau mengalah. "Papa" panggil Aldi yang terpaksa menyapa papa nya terlebih dahulu karna untuk meminta izin Naisa tinggal di rumah mereka.


Erdin menoleh ke arah Aldi begitupun dengan Andini yang juga menoleh ke arah anak nya itu, Erdin sedikit tak percaya akan Aldi yang menyapa nya karna selama ini sangat jarang sekali Aldi menyapa nya dan bisa di katakan tidak pernah. "Naisa akan tinggal di rumah papa, Apa papa mengizinkan nya?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah ayah nya itu dengan nada bicara yang juga terbilang sopan. Erdin menatap lekat wajah anak nya yang hanya selalu ia lihat saat bayi dan sekarang sudah tumbuh dewasa dan menjadi sangat tampan.


"Aku juga akan tinggal di rumah jika papa mengizinkan Naisa untuk tinggal di rumah" sambung nya lagi karna belum mendapatkan jawaban dari Erdin.


"Aku mohon izinkan Naisa tinggak ddi rumah" ucap Aldi yang memohon kepada ayah nya itu dengan wajah tulus dan nada sangat sopan.


"Aku tidak pernah melihat nya memohon kepada ku" guman Erdin saat melihat Aldi yang memohon kepada nya.


"Papa akan selalu mengizinkan Naisa tinggal di rumah kita" jawab Erdin dengan senyum yang mengembang menatap Aldi sedangkan Naisa dia hanya mendengarkan apa yang keluar dari mulut Aldi. Aldi tersenyum menatap ayah nya itu dengan senyum bahagia karna Erdin mengizinkan Naisa untuk tinggal di rumah nya.


"Terima kasih pa" ucap Aldi dengan kembali tersenyum tulus dan itu sangat jarang tampak di mata Erdin senyum anak nya itu. Erdin mengangguk dengan senyum yang mengembang juga menatap Aldi dan Aldi pun kembali mengalihkan tubuh nya ke depan.


"Memang benar kata wanita ini, Jika aku berbicara baik dengan ayah, Papa pasti juga akan berbicara baik kepada ku, Aku tidak pernah mendengar papa berbicara lembut kepada ku apa lagi senyuman nya yang aku juga tidak pernah melihat nya" guman Aldi yang sangat bahagia bisa melihat senyum di wajah ayah ny itu. Naisa menoleh ke arah Aldi karna dia senang akan Aldi yang berbicara sopan kepada ayah nya.


Aldi nampak tersenyum sendiri saat sudah berbicara dengan Erdin sang papa. Naisa juga ikut tersenyum melihat senyuman lelaki itu yang nampak sangat bahagia mungkin karna mendapatkan perlakuan baik dari ayah nya. Naisa mengalihkan pandang nya dan kembali menoleh ke luar jendela, Aldi menoleh ke arah Naisa dan melihat Naisa menoleh ke arah luar jendela.


"Terima kasih" guman Aldi dengan menatap lekat Naisa yang tidak menatap nya itu dengan senyum yang mengembang.