I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 51



"Astaga Naisa jangan memegang ku" guman Aldi yang jantung nya selalu berdetak lebih cepat saat Naisa menyentuh nya.


"Tunggu lah di sini, Aku hanya sebentar" ucap Aldi.


"Tapi pak, Saya ingin ikut" ucap Naisa dengan wajah memelas nya berharap Aldi mengizin kan nya untuk ikut bersama dengan nya.


"Baik lah, Mari" ucap Aldi karna percuma dia melarang Naisa jika Naisa memang ingin ikut dengan nya. Naisa mengangguk mengiyakan nya dan turun dari ranjang.


"Hati hati" ucap Aldi saat melihat Naisa turun dari ranjang. kaki Naisa tersandung di selimut dan dia pun terjatuh di pelukan Aldi, Aldi menyambut nya dan memegang punggung nya.


"Astaga kenapa dengan ku?" guman Naisa karna jantung nya kembali berdetak tak karuan saat dia di dada bidang Aldi.


Deg..Deg


Naisa bisa mendengar detak jantung Aldi yang juga berdetak kencang itu karna telinga nya tepat berada di dada bidang itu bagian jantung. Naisa menoleh ke arah Aldi yang nampak sedikit salah tingkah tapi dia berusaha terlihat datar.


"Maaf pak" ucap Naisa dan langsung tegak tegap kembali dan dia langsung menundukkan kepala nya. Naisa langsung berlalu keluar ruangan itu tanpa menunggu Aldi karna dia sedikit malu dengan Aldi dan nampak wajah nya sedikit memerah.


"Huh" Aldi mendengus lega sambil memegang dada nya. "Hampir saja terlepas" guman Aldi dengan tangan yang masih memegang dada nya karna jantung yang berdetak tidak karuan itu.


Aldi langsung menyusul Naisa dan mengikuti Naisa dan akhirnya mereka pun sampai di kantin rumah sakit itu. "Kau mau makan apa?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Apa saja yang penting bisa membuat kenyang" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya menatap Aldi. Aldi memesan makanan untuk nya dan juga Naisa sedangkan Naisa masih berdiri di samping Aldi dan mata nya mebelalak kemana mana.


"Apa golongan darah kakak A+?" tanya seorang anak kecil kepada orang yang sedang makan di kantin itu dan itu terdengar oleh Naisa. Naisa menghampiri anak kecil tadi dan Aldi bisa melihat nya dan membiarkan nya.


"Hey kau kenapa?" tanya Naisa saat melihat anak kecil tadi menangis mungkin karna tidak mendapatkan golongan darah yang ia ingin kan.


"Ibu ku sedang sakit dan memerlukan satu kantong darah kak" jawab anak tadi.


"Memang nya golongan darah ibu mu apa?" tanya Naisa lembut kepada anak tadi dengan berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi tubuh mereka.


"A+ kak" jawab anak tadi.


"Golongan darah kakak B bukan A+" jawab Naisa.


"Kau kenapa di sini?" tanya Aldi yang tiba tiba datang dengan Naisa.


"Ini pak, Ada anak kecil yang mencari golongan darah kata nya ibu nya kekurangan satu kantong darah" jelas Naisa. Aldi menoleh ke arah anak kecil yang di hadapan Naisa itu dan berjongkok di hadapan anak itu.


"Memang nya memerlukan golongan darah apa?" tanya Aldi sangat lembut kepada anak kecil tadi.


"A+ kak" jawab anak kecil tadi.


"Oh A+, Yasudah mari kita ke ruangan ibu kamu" ajak Aldi yang kembali berdiri tegak, Naisa menatap bingung akan Aldi karna dia tidak tau golongan darah Aldi apa makanya dia bingung.


"Bapak mau kemana?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Mendonorkan darah untuk ibu.. siapa nama kamu?" tanya Aldi karna dia tidak tau siapa nama anak kecil tadi.


"Untuk ibu nya Syiren" jawab ucap Aldi lagi kepada Naisa.


"Memang nya golongan darah bapak sama?" tanya Naisa.


"Hem" jawab Aldi sambil menganggukkan kepala nya dengan senyum yang melebar.


"Yasudah ayo kita ke ruangan ibu kamu" ajak Aldi kepada Syiren dengan membawa dua kotak nasi yang sempat ia beli tadi.


"Biar saya saja yang membawa ini pak" ucap Naisa sopan, Aldi menoleh ke arah nya dan setelah itu baru memberikan kotak Naisa tadi kepada Naisa. Aldi berjalan mengikuti Syiren yang sudah terlebih dahulu berjalan itu dan Naisa mengikuti Aldi.


Sesampai di ruangan ibu Syiren Aldi langsung menemui dokter untuk mengambil darah nya dan Naisa pun menunggu di luar dengan perut yang terus berbunyi akibat kelaparan. Beberapa menit Naisa menunggu Aldi akhirnya dia selesai mengambil darah dan kembali ke dekat Naisa.


"Wajah mu kenapa pucat seperti itu?" tanya Aldi kepada Naisa saat sudah berada tepat di hadapan Naisa.


"Tidak apa apa" jawab Naisa.


"Kak, Terima kasih karna sudah membantu ibu saya" ucap Syiren kepada Aldi.


"Sama sama" jawab Aldi sambil melebarkan senyuman nya dan mengusap lembut kepala Syiren.


"Yasudah kalau begitu kakak pergi" ucap Aldi Syiren mengiyakan nya dan Aldi pun berlalu.


"Kamu jaga diri ya, Jaga ibu mu" ucap Naisa dengan mencium pucuk kepala Syiren dan setelah itu langsung menyusul Aldi.


"Aku akan mengingat kakak kakak yang sudah membantu ibu" guman Syiren dengan menatap kepergian Aldi dan juga Naisa.


Aldi dan Naisa berjalan menuju ke ruangan Naisa tapi Naisa menghentikan langkah kaki nya. "Pak" panggil Naisa saat Aldi masih terus berjalan. Aldi menghentikan langkah kaki nya dan menoleh ke belakang.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Aldi kepada Naisa tanpa mendekat ke arah Naisa.


"Bagaimana jika kita makan di ruangan Rafli saja?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Di ruangan mu saja" jawab Aldi.


"Tapi pak...." ucap Naisa terpotong oleh Aldi yang mendekat dan mengeluarkan suara.


"Kau ini suka sekali membantah, Ayo" ajak Aldi dengan menarik tangan kecil Naisa itu.


"Tapi pak..." ucap Naisa terpotong lagi oleh Aldi.


"Kau mau berjalan sendiri atau aku gendong?" tanya Aldi kepada Naisa, Naisa terpaksa mengiyakan nya dan mengikuti Aldi dari pada dia di gendong oleh Aldi lebih baik dia mengiyakan nya saja.


Sesampai di ruangan mereka Naisa dan Aldi langsung masuk ke dalam ruangan itu dan tidak lupa mengunci pintu ruangan itu. "Lapar sekali" ucap Naisa yang sudah duduk di atas ranjang nya. Naisa membuka kantong kresek yang berisi dua kotak makanan dan mengambil satu untuk nya.


"Ini pak" ucap Naisa sambil menyodorkan nasi kotak satu lagi kepada Aldi, Aldi menerima nya dan membuka nasi kotak itu sedangkan Naisa dia sudah terlebih dahulu melahap makanan itu tanpa menunggu Aldi.


Naisa nampak sangat lahap menyantap makanan itu dan Aldi sedari tadi menatap nya dengan senyum yang mengembang di wajah nya. "Dia jika lapar seperti nya urat malu nya langsung hilang" guman Aldi dengan senyum yang melebar menatap Naisa yang makan sangat lahap itu dan tidak sama seperti wanita yang ia temui jika makan pasti anggun tapi Naisa dia tidak memperdulikan itu.