I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 36



Aldi yang baru saja masuk dan melihat ibunya nampak tersenyum melihat Naisa dan itu membuat nya bingung melihat itu tapi tidak dengan Erdin yang berjalan mendekat ke arah istrinya dan juga Naisa. "Jadi benar Naisa" ucap Erdin yang juga ikut tersenyum melihat Naisa yang terlelap itu, Andini menatap suami nya itu dan Aldi berjalan ke arah mereka.


"Papa dan mama kenal dengan Naisa?" tanya Aldi dengan wajah bingung nya melihat itu.


"Dia anak pak Adam" jawab Andini.


"Siapa pak Adam?" tanya Aldi kepada ibu nya itu dengan tatapan bingung karna dia tidak tau siapa nama ayah Naisa.


"Ayah Naisa" jawab Andini.


"Memang nya mama dan papa kenal dengan ayah Naisa?" tanya Aldi kembali. Saat Andini ingin menjawab Naisa pun terbangun dari tidur nya.


"Ah kepala ku sakit sekali" ucap Naisa sangat pelan dengan memegang kepala nya karna terasa sangat sakit dalam keadaan masih berbaring dan itu terdengar oleh Andini.


"Nak kamu Kenapa?" tanya Andini dengan memegang tangan Naisa.


"Kepala ku sakit sekali" ucap Naisa lagi dan terdengar oleh Aldi dan Erdin apa lagi Andini.


"Al panggilkan dokter" perintah Andini kepada Aldi. Aldi mengiyakan nya dan langsung menghubungi dokter pribadi keluarga nya yakni dokter Aisya. Setelah selesai menelpon Aisya Aldi kembali ke dalam kamar dan duduk di samping Naisa.


"Nai tenang lah" ucap Aldi dengan memegang bahu Naisa.


"Kepala ku sangat sakit" ucap Naisa dengan memegang kepala nya yang terasa sangat sakit mungkin akibat di tarik oleh Asanti tadi.


"Iya aku tau, Tenang lah dulu tahan sebentar" jawab Aldi yang mencoba menenangkan Naisa dengan memegang kedua tangan Naisa suapaya Naisa tidak menarik rambut lagi. Naisa terus terusan menangis karna kesakitan dan Andini juga mencoba menenangkan nya begitupun dengan Erdin.


Beberapa saat akhirnya Aisya pun datang dan masuk ke dalam kamar tamu dan melihat Aldi yang memegang tangan Naisa tapi dia tidak memperdulikan itu dia langsung duduk di tempat Andini tadi dan Andini meminggirkan tubuh nya. "Sakit sekali kepala ku" ucap Naisa yang berusaha ingin memegang dan menarik rambut nya supaya tidak terlalu terasa sakit tapi tidak bisa karna Aldi menahan nya.


Aisya menyuntikkan bius penenang kepala Naisa dengan Aldi yang memegang dan menahan Naisa supaya tidak bergerak, Naisa sudah mulai tenang dan Aisya pun langsung memeriksa Naisa dan dia memegang kepala Naisa dan Naisa hanya terisak seperti orang yang baru selesai menangis.


Setelah selesai memeriksa Naisa Aisya langsung berdiri dan Aldi juga ingin berdiri tapi tangan Naisa yang menggenggam erat baju nya membuat nya menghentikan niat nya. Aldi menatap wajah Naisa yang sembab dan memerah itu akibat menangis dan dia pun mengurungkan niat nya untuk mengikuti Aisya.


"Ada apa dengan Naisa?" tanya Andini hawatir kepada Aisya.


"Seperti nya rambut nya baru saja di tarik atau di sakiti bagian kepala karnasangat terasa bengkak di kepala nya makanya dia bisa menangis seperti itu tadi" jelas Aisya panjang lebar kepada Andini.


"Apa benar itu penyebab nya?" tanya Erdin yang kurang yakin.


"Iya, Karna jika terbentur tidak akan sampai ke bagian atas ini bengkak nya dan pasti di sini bengkak nya" jelas Aisya dengan menunjuk bagian atas kepala atau ubun ubun dan bagian belakang kepala yang di dekat tengkuk.


"Kenapa aku merasa dekat dengan nya?" guman Aldi dengan menatap wajah Naisa dengan tatapan lekat nya.


"Hati ku sakit sekali melihat wajah nya sembab Seperti ini" guman Aldi kembali dengan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Naisa itu.


"Kalau begitu Aisya pamit pulang" pemita Aisya keada Andini dan juga Erdin. Aisya sudah memberi salap untuk Naisa kepada Andini dan juga Erdin Tadi.


"Kenapa cepat sekali ingin pulang? nanti saja" ucap Andini.


"Masih banyak kerjaan di rumah sakit" jawab Aisya dengan melebarkan senyuman nya.


"Yasudah hati hati di jalan" ucap Andini yang juga tersenyum menghadap ke Aisya. Aisya mengangguk mengiyakan nya dan langsung berlalu dan dia menatap Aldi sekilas.


Andini kembali menatap Naisa yang matanya sedang terpejam itu dan mendudukkan tubuh nya di dekat Naisa. Andini memegang kepala Naisa dan sangat terasa bengkak di kepala nya itu. "Astaga kepala nya memang bengkak" guman Andini dan melepaskan tangan nya dari kepala Naisa.


"Aldi kenapa kepala Naisa bengkak seperti ini?" tanya Andini dengan nada rendah kepada Aldi.


"Hanya terbentur" jawab Aldi pelan tanpa menoleh ke arah orang tua nya itu.


"Itu bukan terbentur Al, Tapi..." ucap Andini dengan nada tinggi yang terpotong oleh Aldi.


"Jika mama ingin memarahi Al nanti saja" potong Aldi dengan nada rendah dan berusaha melepaskan tangan Naisa dari baju nya. Andini meredam emosi nya dan berlalu keluar dari kamar karna perkataan Aldi tadi ada benar nya juga dan Erdin juga ikut keluar.


Tangan Naisa sudah lepas dari baju Aldi, "Aku akan menjaga mu dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu" guman Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa dengan senyum yang mengembang.


Setelah itu Aldi langsung keluar meninggalkan Naisa sendiri di kamar tamu itu, Dia menutup pelan pintu kamar itu dan setelah itu dia membalikkan tubuh nya dan melihat kedua orang tua nya duduk di kursi tuangan tamu di rumah itu. "Duduk sini Al" perintah Erdin. Aldi tidak menjawab nya dan langsung berlalu mendekat ke arah tangga.


"Aldi" teriak Erdin yang kesal akan Aldi yang selalu membantah itu.


"Ada apa pa?" tanya Aldi datar dengan menghentikan langkah kaki nya tanpa menatap kedua orang tua nya itu..


"Kau tidak mendengar apa yang papa bilang tadi?" bentak Erdin.


"Aku ingin mengganti baju ku" jawab Aldi dan langsung menaiki anak tangga dengan cepat.


"Aldi" teriak Erdin lagi tapi Aldi sama sekali tidak memperdulikan nya dan menghetikan langkah kaki nya dan terus melangkah sampai akhirnya dia sampai di dalam kamar ny.


Sesampai di dalam kamar nya Aldi langsung mengganti pakaian nya dan setelah itu dia merebahkan tubuh nya di atas kasur king size di dalam kamar nya itu. "Hah" Aldi mendengus. Fikiran Aldi melayang entah kemana tapi fikiran itu tetap tertuju kepada Naisa.


"Kenapa aku memikirkan nya?" guman Aldi bingung dan mencoba membuat fikiran nya tentang Naisa tapi itu tidak bisa karna Naisa sudah menghantui fikiran nya saat ini.


"Apa aku mencintai nya?" guman Aldi kembali dengan duduk tegap dan menatap ke sembarang arah.


"Ah tidak mungkin aku mencintai nya, Aku hanya kasihan kepada nya" guman Aldi kembali dan menggelengkan kepala nya untuk mengelak hati yang sudah jatuh kepada Naisa, Tapi fikiran nya tidak menerima itu.