I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 102



Keesokan pagi nya.


Aldi masih tertidur lelap di atas kasur nya, Berbeda dengan kedua orang tua nya yang sudah terbangun. Kedua orang tua Aldi hanya bisa melihat Aldi dari cctv tersembunyi yang berada di dekat lemari Aldi karna mereka tidak bisa masuk karna di larang oleh Aldi.


"Dia masih tertidur" ucap Andini kepada Erdin.


"Yasudah bi nanti bilang kepada Aldi jika kami sudah berangkat" ucap Erdin kepada Andini.


"Baik tuan" jawab pelayan itu. Andini dan Erdin langsung berlalu dari sana dan tidak lupa mengirim pesan kepada Aldi.


Di rumah Naisa.


Naisa terbangun dari tidur nya saat jam tujuh karna kelelahan kemarin makanya bangun sedikit siang tidak seperti sebelum nya. "Ah aku kesiangan" ucap Naisa saat melihat jam yang ada di dinding kamar nya itu. Naisa bangkit dari tidur nya dan langsung keluar dari kamar nya itu dan dia tidak melihat Asma di dalam rumah, Naisa kembali masuk ke dalam kamar nya mengambil handuk dan baju ganti dan setelah itu kembali keluar dan menuju ke kamar mandi.


"Sudah ada makanan?" guman Naisa saat melihat sudah ada makanan di atas meja dapur nya itu. Naisa tidak terlalu memperdulikan nya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi Naisa langsung keluar dan langsung menuju ke kamar Asma untuk melihat apa Asma sudah bangun atau belum.


Tok..tok..tok


Naisa mengetuk pintu kamar Asma. "Kak" panggil Naisa dari luar tapi dia tidak mendapatkan jawaban. Naisa mencoba membuka pintu kamar Asma dan untung nya pintu kamar itu tidak di kunci dan lebih tepat nya tidak pernah di kunci.


"Di mana kak Asma?" guman Naisa karna dia tidak melihat Asma berada di dalam kamar.


"Apa kak Asma sudah berangkat?" ucap Naisa bingung dan kembali menutup pintu kamar Asma.


Naisa menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang tengah. "Baru jam tujuh" ucap Naisa yang melihat jam baru menunjuk pukul 07:30.


"Ah mungkin saja kak Asma sudah berangkat" ucap Naisa dan langsung masuk ke dalam kamar nya. Naisa langsung mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di dalam kamar nya itu dan langsung mengambil ponsel nya.


"Siapa yang mengecas ponsel ku?" guman Naisa karna setau nya ponsel nya tadi malam tidak di cas.


"Ah terserah" guman nya kembali dan langsung menyalakan ponsel nya itu. Saat dia menyalakan ponsel nya itu langsung masuk pesan dari Asma.


"Kakak sudah berangkat ke toko dan makanan yang di atas meja kakak yang memasakkan nya untuk mu, Jadi makanlah dengan banyak" isi pesan yang dikirimkan oleh Asma kepada Naisa.


"Tumben sekali berangkat pagi" ucap Naisa dan meletakkan ponsel nya ke atas meja dan langsung keluar dari kamar nya itu, Naisa menuju ke dapur dan memakan makanan yang sudah di masak oleh Asma unuk nya, Setelah selesai makan dia membereskan bekas makan nya itu dan kembali ke dalam kamar untuk bersiap siap.


Di toko Andini flowers


Alsi sudah sampai di sana tapi dia belum menemukan Naisa tapi dia menemukan Asma. Aldi berjalan menghampiri Asma. "Di mana Naisa?" tanya Aldi kepada Asma.


"Astaga, Kau ini mengagetkan ku saja" ucap Asma karna dia sedang pokus ke ponsel nya


"Memang nya apa yang kau lihat sampai aku menyapa mu kau keget?" tanya Aldi yang berusaha ingin mengintip apa yang di lihat oleh Asma.


"Kau ini kepo sekali" ketus Asma dan memundurkan ponsel nya dari Aldi supaya Aldi tidak melihat nya.


"Di mana Naisa?" tanya Aldi yang tidak menjawab perkataan Asma tadi dan langsung menanyakan Naisa.


"Dia masih di rumah" jawab Asma datar.


"Tumben sekali dia belum datang" ucap Aldi karna memang biasa nya saat dia sudah berada di toko pasti Naisa juga sudah ada.


"Mungkin dia kelelahan" jawab Asma. Asma menoleh ke arah Aldi karna baru teringat akan tadi malam.


"Kalian tadi malam kemana?" tanya Asma kepada Aldi.


"Hah?" ucap Aldi yang tidak terlalu mendengar ucapan Asma.


"Kau dan Naisa tadi malam ke mana?" tanya Asma lagi dengan menatap lekat Aldi.


"Kau sendiri tadi malam ke mana dan siapa lelaki yang tadi malam?" tanya balik Aldi kepada Asma karna dia belum mendapat jawaban untuk pertanyaan Asma itu makanya dia belum menjawab dan malah kembali bertanya kepada Asma.


"Ya, Aku..." ucap Asma yang belum ingin mengatakan tentang Angga kepada siapapun.


"Hem, Aku apa?" tanya Aldi dengan menatap lekat Asma yang nampak sedikit ragu dan gelagapan ingin menjawab itu.


"Aku makan malam bersama dengan Elka" jawab Asma. Elka yang berada tidak jauh dari mereka pun menoleh ke arah Asma dan juga Aldi.


"Ada apa?" tanya Elka kepada Asma. Asma menggelengkan kepala nya dengan senyum yang melebar menatap Elka sedangkan Aldi dia masih menatap Asma.


"Kenapa aku tidak melihat Elka tadi malam?" tanya Aldi dengan menatap lekat Asma.


"Emm, Dia...." ucap Asma yang masih belum tau ingin menjawab apa.


"Dia apa?" tanya Aldi lagi.


"Dia tadi malam pulang terlebih dahulu" jawab Asma.


"Jadi lelaki yang tadi malam siapa?" tanya Aldi lagi kepada Asma.


"Dia teman Elka" jawab Asma datar dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


"Kau tadi malam pasti makan hanya berdua dengan nya bukan? bukti nya Elka saja tidak ada bersama mu tadi malam saat di rumah Naisa" ucap Aldi yang mencoba membuat Asma jujur kepada nya.


"Tidak, Kami tidak hanya makan berdua" jawab Asma tanpa menoleh ke arah Aldi.


"Berarti kau tau siapa lelaki yang tadi malam" ucap Aldi yang sadar akan jawaban Asma.


"Iya, Dia teman Elka" jawab Asma jujur.


"Dia pasti kekasih mu bukan?" tanya Aldi dengan menatap lekat Asma.


Bel pintu toko bunga itu berbunyi dan menandakan jika ada orang yang datang. Asma menoleh ke dekat pintu sedangkan Aldi dia masih pokus menatap Asma yang berada di depan nya. "Kau sudah datang Nai?" tanya Asma kepada Naisa. Aldi yang mendengar ucapan Nai keluar dari mulut Asma pun langsung menoleh ke belakang dan melihat jika itu memang benar benar Naisa.


"Hem" jawab Naisa dengan wajah di tekuk akan pertanyaan Asma, Naisa langsung berlalu dan menuju ke loker yang terletak di belakang. Dahi Asma mengerut saat Naisa hanya menjawab hem saja tidak ada basa basi lain.


"Ada apa dengan nya?" tanya Aldi dengan tatapan heran saat melihat wajah Naisa yang si tekuk.


"Hem" jawab Asma dengan tatapan bingung juga sambil mengangkat kedua bahu nya karna dia juga tidak tau Naisa kenapa. Aldi tidak menjawab atau pun merespon ucapan Asma dan dia pun langsung berlalu dari sana dan menuju ke dekat Naisa. Saat sampai di belakang Aldi langsung mencari keberadaan Naisa.


"Di mana dia?" guman Aldi yang tidak menemui Naisa di belakang.


"Di mana Naisa?" tanya Aldi saat melihat salah satu pekerja nya lewat di hadapan nya.


"Naisa di belakang pak" jawab pekerja tadi.


"Terima kasih" ucap Aldi dan langsung berlalu ke belakang di luar toko untuk menemui Naisa. Pekerja tadi juga ikut berlalu saat Aldi berlalu dari sana.


"Huh" Naisa mendengus kasar dan langsung mendudukkan tubuh nya di atas tanah belakang dan tidak memperdulikan kotor atau tidak nya tempat itu yang penting dia duduk saat ini.


Naisa memejamkan mata nya saat sudah duduk dan menghadap ke langit langit pagi hari. "Ayah" ucap Naisa dengan air mata yang mengalir sendiri di wajah nya dengan mata yang masih terpejam. Aldi baru sampai di belakang luar toko dan melihat jika Naisa sedang duduk di atas tanah.


"Apa yang dia lakukan? kenapa dia duduk di atas tanah?" guman Aldi saat melihat Naisa duduk di atas tanah dan belum mengetahui jika Naisa menangis.


"Aku merindukan ayah" ucap Naisa lagi dan langsung menundukkan kepala nya ke bawah dan kembali menangis.


"Kenapa dia?" guman Aldi yang sangat penasaran, Aldi tidak berpikir atau pun berguman lagi, Dia langsung menghampiri Naisa yang tengah duduk di atas tanah dan menundukkan kepala itu.


Hikss


Terdengar isakan saat Aldi berada tepat di hadapan Naisa tapi dia bbelum berjongkok. "Dia menangis?" guman Aldi yang bisa mendengar isakan wanita itu.


"Kau tidak boleh lemah" ucap Naisa dan kembali mengangkat kepala nya, Saat dia mengangkat kepala nya dia melihat kaki lelaki di hadapan nya. Naisa mendonggakkan kepala nya dan melihat jika Aldi lah lelaki yang berdiri di hadapan nya itu.


"Al" ucap Naisa dengan wajah yang sangat nampak sehabis menangis karna dia belum menghapus air mata yang sempat jatuh di wajah nya.


Aldi berjongkok di hadapan Naisa dan menatap lekat wanita itu. "Kau menangis?" tanya Aldi keada Naisa dengan menatap lekat Naisa yang ada di hadapan nya itu. Naisa langsung tersadar akan air mata nya yang belum di hapus dan dengan segera dia menghapus air mata nya itu.


Naisa menghapus air mata nya itu dengan cepat supaya Aldi tidak tau jika dia baru selesai menangis meskipun itu sangat terlambat karna Aldi sudah mengetahui nya. "Kau ada masalah?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Tidak, Aku tidak memiliki masalah" jawab Naisa menggelengkan kepala nya dengan masih menunduk.


"Jika kau tidak memiliki masalah tidak mungkin kau menangis" ucap Aldi lagi dengan menatap lekat Naisa yang tidak menatap nya itu dan menunduk kepala itu.


Naisa tidak menjawab ucapan Aldi itu dan masih menundukkan kepala nya. "Masalah apa yang sampai membuat mu menangis seperti ini?" tanya Aldi yang mencoba menatap wajah Naisa yang sedang tersembunyi di balik rambut nya itu.


"Tidak ada" jawab Naisa dengan suara rendah tapi Aldi masih bisa mendengar nya dengan sangat jelas.


"Tidak usah berbohong dengan ku, Jika kau tidak memiliki masalah kau tidak akan menangis Seperti ini" jawab Aldi yang tidak percaya akan jawaban Naisa dan mencoba memancing Naisa untuk bercerita jujur dengan nya.


"Hem, Aku..." ucap Naisa terpotong oleh Elka yang memanggil nya.


"Naisa" panggil Elka kepada Naisa, Naisa dan Aldi menoleh ke arah Elka.


"Tolong bantu kami untuk menyelesaikan karangan ini karna pelanggan menginginkan karangan ini sekarang dan kami tidak bisa menyelesaikan nya hanya berdua" jelas Elka kepada Naisa.


"Harus Naisa?" tanya Aldi kepada Elka.


"Iya pak karna pekerja lain sibuk" jawab Elka.


"Ayo Nai" ajak Elka kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan nya dan berdiri tegak tapi Aldi menghentikan nya.


"Kau tidak membantu mereka, Biar yang lain saja" ucap Aldi dengan memegang tangan kecil Naisa itu.


"Kau tidak dengar jika pekerja lain sedang melakukan tugas mereka masing masing?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Aku sangat mendengar nya" jawab Aldi.


"Jadi kau kenapa menghentikan ku?" tanya Naisa lagi kepada Aldi.


"Karna suasana hati mu saat ini sedang tidak bagus" jawab Aldi.


"Kau tau dari mana jika suasana hati ku sedang tidak bagus? kau bisa melihat hatiku?" tanya Naisa dengan menatap datar ke arah Aldi.


"Aku bisa melihat dari bentuk wajah mu" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa.


"Memang nya bentuk wajah ku seperti apa?" tanya Naisa kepada Aldi dengan menatap lekat Aldi.


"Wajah mu nampak murung" jawab Aldi.


"Jadi jika wajah ku murung?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Kau tidak usah bekerja" jawab Aldi.


"Tidak profesional sekali kau ini, Minggir" ketus Naisa dan menggeserkan sedikit tubuh Aldi ke tepi meskipun tidak tergeser. Aldi kembali menangkap tangan wanita itu dan beralih menatap wanita itu.


"Jangan bekerja" ucap Aldi dengan wajah serius nya kepada Naisa.


"Pak Aldi, Mohon bersikap lah sewajarnya dengan bawahan" ucap Naisa. Aldi terdiam dan tidak lagi menjawab, Dia menatap lekat wajah Naisa yang sedang berada di hadapan nya itu. Naisa melepaskan tangan nya dari Aldi meskipun sedikit susah tapi akhirnya dia bisa melepaskan tangan nya itu.