
"Di mana sendal nya?" guman Naisa saat sudah masuk ke dalam rungan itu dan mencari cari keberadaan sendal yang di katakan oleh Aldi tadi, Naisa mencari ke dekat meja Aldi tapi dia tetap saja tidak menemukan nya.
"Tidak ada sendal di sini" ucap Naisa yang belum melepaskan sepatu nya.
"Astaga aku lupa melepaskan sepatu ku, Pantas saja sangat dingin" ucap Naisa degan menoleh ke arah sepatu nya.
Naisa mendudukkan tubuh nya di atas kursi sofa di dalam ruangan Aldi dan dia melepaskan sepatu nya dan juga kaos kaki nya, Setelah itu dia kembali tegak dari duduk nya tadi dan mencari cari sendal yang di katakan oleh Aldi. Naisa sudah mencari ke seluruh tempat tapi dia tetap tidak menemukan sendal di dalam ruangan Aldi.
"Ah tidak ada sendal di sini" ketus Naisa karna sekarang kepala nya masuk ke dalam lemari bagian bawah yang ada di dalam ruangan Aldi.
"Sedang apa kau di sana?" tanya Aldi yang baru saja masuk dan berdiri tepat di belakang Naisa. Naisa yang mendengar suara Aldi pun terkejut sontak kepala nya terbentuk dengan bagian atas lemari.
"Auuu" rengek Naisa dengan mengeluarkan kepala nya dari dalam lemari itu dan mengusap kepala nya yang sakit itu.
"Kau tidak apa apa?" tanya Aldi yang sedikit hawatir akan Naisa.
"Saya tidak apa apa" jawab Naisa yang kembali profesional.
"Apa nya yang tidak apa apa, kepala mu ini terbentur ke lemari" ucap Aldi dengan memegang kepala Naisa yang terbentur itu.
"Itu gara gara kau yang mengagetkan ku" jawab Naisa dengan pandangan ke bawah dan tangan nya mengusap kepala nya yang tidak terlalu sakit itu.
"Kenapa kau jadi menyalahkan ku?" tanya Aldi yang tidak terima jika di salah kan oleh Naisa.
"Kau mengejutkan ku makanya kepala ku terbentur tadi" jawab Naisa.
"Itu salah mu sendiri, Lagian apa yang kau lakukan sampai kepala mu masuk ke dalam lemari?" tanya Aldi kepada Naisa, Naisa langsung berjalan menuju sofa dan mendudukkan tubuh nya di sana begitupun dengan Aldi yang mengikuti nya.
"Aku sedari tadi mencari sendal yang kau katakan tapi aku tidak menemukan nya" jawab Naisa yang sudah duduk di atas kursi sofa itu.
"Kau mencari sendal sampai ke dalam lemari?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan nya dan itu membuat Aldi langsung tertawa akan kebodohan Naisa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Naisa kepada Aldi. Aldi belum menjawab karna dia masih nyaman akan tawa nya.
"Hey kenapa kau ketawa?" tanya Naisa dengan menyenggol kepala Aldi menggunakan jari telunjuk nya.
"Astaga Naisa, Sendal di belakang pintu itu, Bukan di dalam lemari bodoh" jawab Aldi sambil menunjuk ke arah sendal yang ada di belakang pintu dan di samping lemari, Naisa menoleh ke arah tempat yang di tunjuk oleh Aldi dan benar saja di sana ada sendal.
"Aku tidak tau makanya aku mencari sampai ke dalam lemari" jawab Naisa.
"Dasar bodoh" ucap Aldi dengan menatap lekat Naisa dengan senyum yang mengembang, Naisa tidak menjawab nya atau pun menatap Aldi dia langsung berlalu untuk mengambil sendal yang ada di belakang pintu dan di samping lemari itu.
Ckleeekk
Sahlan orang yang membuka pintu itu pun menoleh ke belakang pintu sedangkan Aldi dia terkekeh melihat ekpresi Naisa yang nampak sangat lucu jika terjepit itu. "Oh Naisa" ucap Sahlan dan langsung menutup kembali pintu ruangan Aldi.
"Lelaki ini" guman Naisa yang sudah lepas dan menatap sedikit tak suka akan Sahlan.
"Kau ini hampir saja aku menjadi gepeng karna kau" ketus Naisa karna dada nya sedikit sakit akibat menempel di dinding tadi.
"Maaf, Aku tidak tau jika kau ada di sana" jawab Sahlan. Naisa tidak menjawab nya dan menoleh ke arah Aldi.
"Kenapa kau tertawa?" teriak Naisa kepada Aldi yang tertawa dan untung nya tidak ada yang mendengarkan teriakan Naisa karna ruangan itu kedap suara. Naisa memang Seperti jika sudah mengenal dekat pasti sifat asli nya keluar (Sama kayak author).
"Aku pikir dia pendiam" guman Sahlan yang bisa mendengar sangat jelas teriakan Naisa itu.
"Kau kenapa berada di belakang pintu?" tanya Sahlan kepada Naisa.
"Bukan urusan anda" jawab Naisa dan langsung berlalu keluar dari ruangan itu tanpa membawa sepatu basah nya yang berada di depan Aldi. Sahlan langsung menuju ke dekat Aldi tanpa menutup pintu karna pintu Sudah di tutup oleh Naisa.
"Ada apa kau kesini?" tanya Aldi kepada Sahlan.
"Kenapa memang nya?" tanya Sahlan kepada Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan memilih untuk diam.
"Kenapa dia bisa di ruangan mu?" tanya Sahlan kepada Aldi.
"Mengambil sendal" jawab Aldi.
"Kenapa dia mengambil sendal? apa dia tidak mengenakan alas kaki ke sini tadi?" tanya Sahlan dengan dahi yang mengerut.
"Sepatu nya basah terkena air untuk menyiram bunga makanya aku memberikan sendal kepada nya" jawab Aldi, Sahlan mengangguk mengerti, Aldi menoleh ke bawah dan melihat sepatu kets berwarna putih milik perempuan dan dia yakin jika itu sepatu kets Naisa.
"Pasti ini sepatu nya" guman Aldi dan beranjak berdiri dengan membawa sepatu Naisa. Aldi membuka jendela ruangan nya itu dan untung nya hari lumayan panas dan dia pun menjemur sepatu Naisa yang tidak di cuci itu di dekat matahari yang masuk menyinari ruangan nya itu.
"Kau nampak sangat menyukai nya ya?" tanya Sahlan yang berjalan ke arah Aldi yang sedang menjemur sepatu Naisa itu.
"Hem" jawab Aldi tanpa menatap Sahlan yang berada di samping nya. Sahlan melipat kedua tangan nya di atas perut nya dan menatap Aldi lekat.
"Kenapa kau tidak menjadikan nya sebagai pacar?" tanya Sahlan kepada Aldi, Aldi menoleh ke arah nya sekilas dan setelah itu dia menatap ke luar dengan kedua tangan yang ia letakkan di dalam saku celana nya.
"Aku tidak yakin jika Naisa akan menerima ku" jawab Aldi dengan nada seidkit sedih.
"Hah kau takut di tolak?" tanya Sahlan yang tidak percaya karna memang sedari dulu Aldi tidak pernah di tolak di karna kan dia tidak pernah menembak wanita dan wanita lah yang menembak nya sampai akhir nya dia mencintai perempuan itu tapi para perempuan yang pernah berpacaran dengan nya itu semua nya menghianati nya dan berpacaran dengan nya hanya karna harta.