
Azlan mendudukkan tubuh nya di samping Aldi begitupun dengan Ryhan yang mendudukkan tubuh nya di samping Azlan. "Bu tolong urus Airin di sana" ucap salah satu dosen lelaki yang menghampiri bu dosen yang ada di depan ruangan Naisa. Aldi yang mendengar nama Airin langsung menoleh ke arah siapa yang menyebut nama Airin dan melihat salah satu dosen lelaki yang menyebut nama Airin.
"Kenapa memang nya Airin pak?" tanya ibu dosen itu kepada pak dosen.
"Jangan menyebut nama wanita jahat itu di hadapan ku" ucap Aldi yang kesal sedari tadi mendengar nama Airin yang sangat membuat nya emosi saat ini, bu dosen dan pak dosen menoleh ke arah Aldi dengan bu dosen menatap heran sedangkan pak dosen biasa saja karna dia sudah tau apa yang terjadi.
"Kenapa memang nya Al?" tanya bu dosen itu kepada Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan memilih diam dan menatap ke sembarang arah.
"Bagaimana keadaan nya tuhan?" guman Aldi yang sedari tadi menunggu dokter keluar dari ruangan Naisa.
"Sudah bu, Ayo" ajak pak dosen tadi yang malas membuat keributan lagi di sana. Ibu dosen tadi mengangguk mengiyakan nya dan meninggalkan ruangan Naisa dan hanya tinggal satu ibu dosen yang masih menunggu di sana. Aldi beranjak berdiri dari duduk nya dan berusaha melihat ke dalam melalui kaca yang menutup ruangan Naisa itu.
Ckleekk
Pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah Dokter yang memeriksa Naisa tadi. "Bagaimana keadaan Naisa?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Naisa.
"Pasien hanya mengalami patah bagian tulang kaki dan kekurangan oksigen" jawab dokter tadi akan pertanyaan Naisa.
"Patah kaki? kenapa bisa?" tanya Aldi karna setau nya Naisa tenggelam bukan jatuh dari mobil atau motor.
"Iya, Pasien mengalami patah kaki dan sementara waktu tidak bisa berjalan dan harus menggunakan tongkat atau kursi roda" jelas dokter tadi kepada Aldi.
"Apa penyebab nya sampai dia patah kaki?" tanya Aldi.
"Mungkin tadi saat tenggelam pasien terjatuh dan tergelincir dari ketinggian dan saat tenggelam pasien masih menggerakkan kaki makanya kaki nya bisa sedikit parah" jelas dokter itu yang serba tau padahal tidak ada yang bercerita, Nama nya juga dokter.
"Jadi kapan dia akan sembuh dari patah kaki nya itu?" tanya Aldi kepada Dokter itu.
"Pengidap patah tulang baru dinyatakan sembuh apabila tulang yang patah sudah tersambung kembali, atau setelah garis-garis patah telah hilang" jawab dokter tadi akan pertanyaan Aldi.
"Jadi apa yang harus di lakukan?" tanya Aldi lagi kepada dokter tadi.
"Kapan akan melakukan nya?" tanya Aldi kepada dokter tadi lagi.
"Sudah di lakukan tadi tapi kami harap pasien tidak boleh menggerakkan kaki nya sebelum dokter menyatakan jika pasien sudah sembuh" jelas dokter tadi kepada Aldi. Aldi memahami dan mendengar semua perkataan dokter tadi.
"Huh baiklah, Apa saya bisa masuk?" tanya Aldi kepada dokter tadi.
"Silahkan tapi pasien sedang beristirahat dan masih berada dalam pengendalian bius" jawab dokter tadi, Aldi tidak menjawab nya dan berlalu masuk ke dalam ruangan Naisa. Fany juga ingin masuk ke dalam ruangan itu begitupun dengan ibu dosen tadi tapi dokter menghentikan mereka.
"Maaf yang bisa masuk hanya dua orang dan boleh bergantian dengan yang lain" ucap dokter itu menghentikan Fany dan juga bu dosen.
"Oh baiklah, Ibu silahkan masuk terlebih dahulu" ucap Fany mempersilahkan bu dosen masuk terlebih dahulu untuk menemui Naisa.
Aldi menatap lekat wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang itu dan mata nya teralih kepada kaki Naisa yang sudah di perban dan di keluarkan dari selimut mungkin karna dokter lupa untuk menutup nya. "Dasar wanita bodoh, Untung saja nyawa mu tidak ikut patah gara gara di bodohi oleh Airin" guman Aldi saat melihat kaki Naisa dan menyelimuti nya menggunakan selimut yang menyelimuti tubuh Naisa.
Setelah selesai menyelimuti kaki wanita itu Aldi mendudukkan tubuh nya di atas kursi di samping ranjang Naisa itu dan setelah itu menatap lekat wajah wanita itu. "Selalu saja kau ini meembuatku hawatir dan susah untuk meninggalkan mu sendiri" guman Aldi dengan menatap lekat wajah wanita yang awal nya memucat sekarang nampak sudah kembali normal akibat Sudah di berikan pertolongan. Aldi menggenggam tangan Naisa yang mengenakan infus itu dan menggenggam nya, Tangan satu nya naik dan mengusap lembut kepala rambut Naisa dengan penuh kasih sayang.
"Hey bangunlah" ucap Aldi dengan mengusap lembut kepala wanita itu. Ibu dosen yang baru saja masuk ke dalam ruangan pun bisa melihat jika Aldi sedang ingin berdua dengan Naisa, Ibu dosen tadi memilih untuk kembali keluar dari ruangan itu.
"Kenapa kembali keluar bu?" tanya Fany kepada bu dosen tadi.
"Aldi sedang ada di dalam dan ibu tidak ingin mengganggu nya" jawab bu dosen. Fany dan yang lainnya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu ibu akan ke ruangan Airin untuk memastikan apa yang terjadi" pamit ibu dosen itu. Fany dan yang lainnya mengangguk mengiyakan nya dan bu dosen tadi pun langsung berlalu dari sana dan menuju ke ruangan Airin.
"Kau jika mau masuk, Masuklah" ucap Azlan kepada Ryhan karna nanti dia akan masuk berdua dengan Fany makanya dia menyuruh dan mempersilahkan Ryhan untuk masuk terlebih dahulu.
"Ah tidak, Aku akan menemui Ressa saja yang berada di kantin" jawab Ryhan dengan senyum yang melebar karna memang Ressa sedang berada di kantin membeli makanan dan minuman hangat. Ryhan langsung berlalu dari sana dan menuju ke kantin untuk menemui Ressa.
"Apa yang terjadi dengan Airin? kenapa dia juga masuk rumah sakit dan ada di ruangan itu?" tanya Fany dengan menatap lekat wajah Azlan yang berada di atas kursi di sebrang nya itu.