I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 45



"Mari tuan" ajak perawat tadi dengan membawa kursi roda, Rafli langsung naik ke atas kursi roda yang di bawakan perawat tadi dan perawat tadi pun langsung mendorong kursi itu menuju ke salah satu ruangan yang ada di dekat itu.


"Kenapa kau memerintahkan orang mengobati nya?" tanya Aldi yang sudah sedikit tenang.


"Diamlah kau" jawab Aisya yang tidak mau membuat emosi Aldi kembali memuncak.


Cklek


Pintu ruangan yang di tempati Naisa terbuka dan keluarlah dokter yang menangani Naisa tadi. "Bagaimana keadaan Naisa dok?" tanya Aldi yang hawatir akan Naisa.


"Pasien tidak apa apa tuan" jawab dokter tadi.


"Apa nya yang tidak apa apa? jelas jelas kepala nya tadi mengelurakan banyak darah" ketus Aldi karna dia sangat menghawatirkan Naisa.


"Luka nya itu di kepala tuan muda makanya banyak darah yang keluar" jawab dokter itu.


"Sudah kalian obati?" tanya Aldi kepada dokter tadi.


"Sudah tuan" jawab dokter itu, Aldi tidak menjawab nya lagi dan langsung masuk ke dalam ruangan Naisa. Dokter tadi yang memeriksa Naisa sudah tau akan sifat Aldi pun tidak mengambil hati dan berpamitan dengan Aisya untuk berlalu dan Aisya mengangguk mengiyakan nya.


Saat masuk Aldi langsung melihat wajah Naisa yang sedikit pucat dan seperti nya bagian belakang kepala nya yang terluka tadi sudah di perban karna nampak ada sedikit perban di dekat leher nya. Aldi mendekat ke arah Naisa dengan tatapan sedih dan hawatir nya, Aldi mengusap lembut kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang. Naisa yang sudah sadar bisa merasakan sentuhan tangan Aldi dan dia pun langsung membuka mata nya.


Aldi langsung melepaskan tangan nya dari kepada Naisa dan wajah nya kembali datar, "Kau sudah sadar?" tanya Aldi datar kepada Naisa dengan meletakkan kedua tangan nya di atas perut nya.


"Bapak lihat sendiri bagaimana?" tanya balik Naisa. Aldi tidak menjawab nya lagi dan memilih untuk mendudukkan tubuh nya di atas kursi di samping ranjang Naisa itu. Naisa pun duduk dari tidur nya tadi dan Aldi membantu nya untuk duduk setelah membantu Naisa untuk duduk dia kembali duduk di kursi nya tadi.


"Di mana Rafli?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Untuk apa kau mencari nya?" tanya Aldi.


"Kenapa memang nya?" tanya balik Naisa.


"Dia yang sudah membuat mu masuk rumah sakit, Jadi kau tidak perlu mencari nya" jawab Aldi datar dengan tubuh yang bersender di kursi yang ia duduki.


"Dia pasti tidak sengaja" ucap Naisa.


"Tidak sengaja apa nya? jelas jelas dia memukul mu menggunakan botol kaca dan sekarang kau bilang dia tidak sengaja, Apa otak mu sudah bergeser akibat pukulan nya tadi?" tanya Aldi yang heran akan Naisa karna seharus nya Naisa itu marah dan membenci Rafli tapi ini dia malah membela Rafli di depan nya.


"Otak ku masih terletak di tempat awal, Bodoh sekali kau ini" ketus Naisa yang tidak mau kalah dengan Aldi.


"Kau yang bodoh, kau masih saja mencari orang yang menyakiti mu" ketus Aldi tanpa menatap Naisa.


"Itu memang pantas ia dapat kan, Seharus nya dia tadi langsung mati" ketus Aldi.


"Kau ingin membunuh nya?" teriak Naisa.


"Jika sampai kau kenapa kenapa aku pastikan dia kan membayar dengan nyawa nya" jawab Aldi datar tanpa menatap Naisa.


"Kau ini sudah gila ingin membunuh nya?" tanya Naisa lagi.


"Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau jika ada orang yang berani mengganggu orang orang yang aku sayangi aku tidak akan segan membunuh nya" jelas Aldi tanpa sadar akan apa yang di katakan oleh nya. Memang Aldi bisa melakukan apa pun jika ada orang yang menyakiti orang orang sekitar nya karna kekuasaan dan kekayaan orang tua nya. Naisa terdiam saat mendengar ucapan Aldi yang mengatakan orang orang yang dia sayangi.


"Apa maksud orang orang yang ia sayangi?" guman Naisa dengan menatap Aldi heran.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Aldi datar kepada Naisa.


"Aku ingin bertemu dengan Rafli" jawab Naisa yang membuang dan tidak memikirkan ucapan Aldi tadi.


"Kau belum sembuh total, Tidak boleh kemana mana" ucap Aldi.


"Tapi...." ucap Naisa yang terpotong oleh Aldi.


"Kau jangan berani membantah ucapan ku" potong Aldi dengan wajah datar dan mata yang melotot menghadap ke arah Naisa. Naisa yang takut akan itu mengurung kan niat nya untuk mencari Rafli karna dia belum tau jika Rafli ada di rumah sakit yang sama dengan nya.


"Kenapa kau menghadang pukulan Rafli tadi?" tanya Aldi saat melihat Naisa hanya diam karna dia tau Naisa sampai masuk rumah sakit karna menyelamatkan nya meskipun tidak ada dorongan tapi dia tau jika Rafli tidak akan menyakiti Naisa tapi tetap saja hati nya marah akan Rafli.


"Aku tidak menghadang nya" jawab Naisa tanpa menoleh ke arah Aldi.


"Jika tidak kenapa sampai kau yang terpukul oleh lelaki ******** itu?'' tanya Aldi lagi karna dia yakin jika Naisa berbohong kepada nya. Naisa hanya diam dan menundukkan kepala nya karna dia tidak tau ingin menjawab apa.


"Jawab aku" ucap Aldi dengan mengangkat kepala Naisa dengan memegang dagu Naisa dan dia duduk di depan Naisa.


"Lepaskan" ketus Naisa dengan menepis kasar tangan Aldi sampai terlepas dari dagu nya.


"Jika aku tidak menghadang Rafli pasti perkelahian kalian tadi akan berlanjut dan tidak ada habis nya makanya aku menghadang nya" jelas Naisa dengan kepala yang masih menunduk.


"Kenapa kau ingin perkelahian tadi terhenti?" tanya Aldi lagi.


"Jika perkelahian kalian terus berlanjut nanti salah satu dari kalian akan ada yang cidera dan mungkin sampai meninggal dan aku tidak mau hal itu terjadi?" jelas Naisa lagi dengan wajah yang nampak cemberut.


"Hah? apa maksud ucapan nya?" guman Aldi yang sama sekali tidak memahami penjelasan Naisa tadi.