
"Ah tidak, Aku akan menemui Ressa saja yang berada di kantin" jawab Ryhan dengan senyum yang melebar karna memang Ressa sedang berada di kantin membeli makanan dan minuman hangat. Ryhan langsung berlalu dari sana dan menuju ke kantin untuk menemui Ressa.
"Apa yang terjadi dengan Airin? kenapa dia juga masuk rumah sakit dan ada di ruangan itu?" tanya Fany dengan menatap lekat wajah Azlan yang berada di atas kursi di sebrang nya itu.
"Aldi membalas perbuatan nya yang sudah dia lakukan kepada Naisa tadi" jawab Azlan akan pertanyaan Fany.
"Membalas bagaimana?" tanya Fany dengan menatap bingung ke arah Azlan karna belun mengerti akan ucapan Azlan.
"Dia menekan kepala Airin masuk ke dalam bak yang ada di toilet dan setelah itu dia memegang dagu Airin seperti ini, Makanya Airin sampai masuk rumah sakit juga karna kuku Aldi yang panjang membuat dagu nya itu terluka" jelas Azlan dengan memperagakan Aldi yang memegang erat dagu Airin tapi dengan memegang dagu nya bukan dagu Fany.
"Dia melakukan itu?" tanya Fany yang tidak percaya akan itu.
"Hem, Aldi memang seperti itu jika orang yang ia sayangi atau orang yang dekat dengan nya di sakiti orang lain" jawab Azlan mengangguk mengiyakan nya.
"Masih bisa hidup Airin?" tanya Fany.
"Hampir saja dia kehilangan nyawa nya tadi untung saja aku dan Ryhan yang menghentikan nya dnegan menarik tangan nya" jelas Azlan lagi kepada Fany.
"Kenapa kau menegah nya?" tanya Fany kepada Azlan.
"Dia akan mati jika kepala nya di tekan di dalam bak tadi" jawab Azlan akan pertanyan Fany.
"Biar saja dia mati" guman Fany yang tidak berani mengatakan secara langsung.
Drittt
Ponsel Azlan kembali berbunyi menandakan jika ada yang menghubungi nya. Azlan langsung mengambil ponsel nya yang ada di dalam saku celana nya dan melihat orang yang sama yang menelpon nya tadi yakni ibu Aldi. Azlan langsung mengangkat nya.
"Halo tante" ucap Azlan saat telpon itu sudah terangkat.
"Bagaimana keadaan Naisa? apa kau sudah menemukan dimana alamat rumah sakit nya?" tanya Andini berturut turut kepada Azlan.
"Azlan sudah menemukan alamat nya" jawab Azlan akan pertanyaan Andini.
"Kirimkan alamat nya kepada Tante, tante dalam perjalanan ke sana" ucap Andini dan langsung mematikan telpon itu. Azlan juga menurunkan ponsel nya dan langsung mengirimkan lokasi rumah sakit yang sedang ia pijaki itu kepada Andini.
"Hey bangunlah" ucap Aldi dengan memegang wajah wanita itu supaya dia bangun. Tapi hasil tidak ada, Naisa masih belum bangun. Aldi menundukkan kepala nya dan memegang tangan Naisa yang ia letakkan di dahi nya.
"Aku mohon bangunlah" ucap Aldi dengan kepala yang menunduk dan tangan yang mengusap lembut tangan Naisa. Naisa yang sudah sedikit sadar pun merasa tangan nya berat, Dia menggerakkan tangan nya dan membuat Aldi yang merasakan nya langsung duduk seperti semula dan menatap lekat Naisa yang sudah membuka mata nya itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Aldi dengan wajah bahagia nya melihat Naisa yang sudah bangun dari pingsan nya.
"Tangan ku" ucap Naisa dengan nada pelan karna tangan nya di tekan oleh Aldi karna Aldi terlalu senang saat melihat Naisa yang terbangun dan tidak sadar akan tangan nya yang menekan tangan Naisa.
"Apa?" tanya Aldi yang kurang bisa mendengar suara Naisa akibat terlalu kecil.
Aldi langsung melepaskan tangan nya dan tersenyum menatap Naisa seperti orang tidak bersalah. "Maaf" ucap Aldi dnegan senyum tak berdosa nya itu. Naisa tidak menjawab nya dan mengangkat tangan nya dan meletakkan nya di atas perut nya.
"Sakit tangan mu?" tanya Aldi kepada Naisa dengan kembali memegang tangan Naisa.
"Tidak" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi, Aldi menoleh ke arah Naisa dan menatap lekat wajah wanita itu, nampak sekali jika Naisa itu sedang menahan sakit.
"Wajah mu seperti menahan sakit, Kau berbohong kepadaku?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa yang nampak sekali merasa sakit itu.
"Aku tidak berbohong, Tangan ku tidak sakit" jawab Naisa dengan mulut yang masih mengenakan alat bantu bernafas.
"Jadi kenapa wajah mu nampak menahan sakit? mana yang sakit?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah wanita itu.
"Kaki ku terasa sakit sekali" jawab Naisa dan menoleh ke arah kaki nya yang sakit saat di gerakkan. Naisa berusaha ingin menggerakkan kaki nya tapi dnegan segera Aldi menahan kaki wanita itu supaya tidak bergerak.
"Jangan di gerakkan" ucap Aldi dan memegang kaki wanita itu supaya tidak bergerak.
"Tapi ini sakit" jawab Naisa dengan wajah kesakitan nya.
"Ini memang seidkit sakit karna baru selesai di obati" ucap Aldi kepada Naisa.
"Memang nya kaki ku kenapa?" tanya Aldi.
"Kau mengalami patah kaki dan tidak bisa berjalan, Untuk sementara waktu kau harus menggunakan kursi roda" jelas Aldi kepada Naisa.
"Hah? kaki ku patah?" tanya Naisa kepada Aldi.
"Hem, Tapi akan cepat sembuh jika kau mengikuti saran dokter dan tidak banyak gerak" jawab Aldi akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Naisa itu.
"Jadi bagaimana aku akan bekerja dan kuliah jika tidak bisa berjalan?" tanya Naisa dengan menatap lekat ke arah Aldi.
"Kau tidak usah bekerja dan masalah kuliah mu biar aku yang mengurusnya" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa.
"Jika aku tidak bekerja bagaimana aku akan hidup?" tanya Naisa kepada Aldi.
"Kau tinggal di rumah mama saja supaya ada yang mengurus mu nanti" ucap Andini tiba tiba muncul di dalam ruangan itu. Aldi dan Naisa menoleh ke arah pintu dan melihat Andini datang.
"Mama?" ucap Aldi yang heran saat melihat Andini ada di ruangan itu.
Andini tersenyum menatap Naisa dan juga Aldi, Dia pun berjalan mendekat ke arah Aldi dan juga Naisa. "Iya ini mama, Nanti kau akan tinggal di rumah mama Asma juga begitupun dengan Aldi yang juga akan tinggal di rumah nanti" jelas Andini dengan menatap lekat Naisa.
"Tapi tante...." ucap Naisa yang ingin menolak tapi terpotong oleh Aldi.
"Ucapan mama ada benar nya nanti jika kau tinggal di rumah mu takut nya tidak ada yang mengurus dan menjaga mu, Tapi jika kau di rumah mama banyak yang akan menjaga dan mengurus mu, Aku juga akan tinggal di rumah mama jika kau tinggal di rumah mama juga" jelas Aldi karna dia akan melakukan apapun supaya Naisa ingin tinggal di rumah nya.