
"Bangun lah" ucap Naisa dengan air mata yang keluar deras dan mencium tangn Aldi.
"Aku mohon bangun lah" ucap nya lagi. Naisa menyenderkan kepala nya di bawah tangan Aldi dengan tangan Aldi yang ia letakkan di atas pipi nya. Naisa mengusap lembut tangan Aldi dengan penuh kasih sayang sampai akhirnya dia tertidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Aldi.
Tiga hari kemudian.
Sudah empat hari Aldi terbaring di rumah sakit dan sampai saat ini belum ada tanda tanda jika dia bangun, Naisa selalu setia menunggu Aldi sampai bangun begitupun dengan kedua orang tua nya tapi tidak dengan Asma yang jarang ke sana karna menunggu toko.
"Aku datang lagi" ucap Naisa karna dia pulang sebentar unyuk membersihkan tubuh sedangkan Erdin dan juga Andini mereka masih di sana.
"Kau belum mau bangun?" tanya Naisa kepada Aldi yang belum sadar itu.
"Kau tidak kasihan dengan mama dan papa mu yang menunggu kau bangun?" tanya Naisa dengan menatap lekat Aldi. Andini dan Erdin bisa melihat jelas kesedihan dari wajah Naisa itu.
"Mama dan papa mu menunggu mu bangun jadi bangun lah" ucap nya lagi.
"Sudah empat hari kau berbaring di atas ini, Apa kau tidak lelah tidur selama empat hari? apa tubuh mu tidak sakit? apa kau tidak merindukan mama dan papa mu? apa kau tidak merindukan aku?" tanya Naisa dengan menahan isakan nya di hadapan Aldi yang belum bangun itu.
"Hiksss, Aku mohon bangun lah" ucap Naisa lagi dengan air mata yang mengalir deras dengan tangan yang menggenggam tangan Aldi, Tubuh yang duduk dan kepala yang menunduk.
"Aku sangat mohon kepada mu, Bangun lah, Aku merindukan mu" bisik Naisa lagi dengan air mata yang mengalir di wajah nya dengan kepala yang masih menunduk.
"Hey kau kenapa menangis?" tanya Aldi, Naisa sangat mendengar jelas suara lelaki itu, Dia langsung mendonggakkan kepala nya dan menatap Aldi yang sudah sadar.
"Kau sudah bangun?" tanya Naisa kepada Aldi dengan wajah yang masih basah akibat air mata.
"Hem" jawab Aldi mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang melebar sedangkan Andini dan juga Erdin hanya tersenyum melihat itu.
Naisa menoleh ke arah kedua orang tua Aldi yang nampak biasa saja saat Aldi bangun dengan tatapan heran, Kedua orang tua Aldi tersenyum menatap Naisa dan Naisa kembali menatap ke arah Aldi. "Apa mama dan papa mu tidak senang kau bangun?" tanya Naisa heran kepada Aldi. Aldi mengangkat kedua bahu nya berpura pura tidak tau akan pertanyaan Naisa.
"Om dan tante tidak senang Aldi bangun dari koma nya beberapa hari ini?" tanya Naisa dengan menatap Andini dan juga Erdin.
"Dia bangun dari koma nya beberapa jam lalu saat kau tidak ada di sini" jawab Andini dengan melebarkan senyuman nya. Naisa kembali menoleh ke arah Aldi, Dahi wanita itu nampak mengerut menandakan jika dia kebingungan.
Aldi memang sudah bangun sejak Naisa meninggalkan nya tadi dan dia kembali tidur untuk istirahat, Saat Naisa balik lagi ke rumah sakit dia langsung berbicara dengan Aldi dan membuat Aldi terganggu dan terbangun dari tidur nya tapi saat dia ingin membuka mata dia mendengar Naisa yang berbicara makanya dia tidak jadi membuka mata nya dan mendengar semua ucapan Naisa sampai akhirnya Naisa menangis dengan menggenggam tangan nya. Sedangkan Erdin dan juga Andini saat mereka ingin memberitahu kepada Naisa bahwa Aldi sudah sadar Naisa terlebih dahulu berbicara dengan Aldi makanya mereka membiarkan nya dan saat Naisa tertunduk menangis di samping Aldi mereka ingin mengatakan kepada Naisa bahwa Aldi sudah sadar tapi Aldi terlebih dahulu melarang mereka karna dia ingin mendengar ucapan yang keluar dari mulut Naisa langsung makanya mereka tidak jadi mencegah Naisa untuk menangis.
"Kau merindukan ku?" tanya Aldi dengan senyum meledek kepada Naisa, Wajah Naisa memerah saat mendengar ucapan Aldi karna Aldi sudah menceritakan nya kepada Naisa masalah dia yang mendengar semua ucapan Naisa.
"Baru saja aku ingin bilang kepada mu tapi kau banyak bicara makanya aku mengurungkan niat ku itu dan ingin mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut pembohong mu itu" jelas Aldi dengan menunjuk ke arah bibir Naisa. Naisa memegang bibir nya menggunakan tangan kanan nya.
"Aku tidak berbohong, Kau yang pembohong" jawab Naisa dengan tangan yang masih berada di dekat bibir nya.
"Memang nya aku berbohong masalah apa? jika kau memang nampak jelas jika berbohong" ucap Aldi.
"Kau berbohong masalah kau belum bangun dari koma mu" jawab Naisa dengan menurunkan tangan nya dari bibir nya.
"Aku tidak pernah berbohong karna kau tidak bertanya, Kau itu yang pembohong" ucap Aldi yang tidak mau kalah dari Naisa.
"A...Aku tidak tau jika kau itu sudah bangun dan aku lupa ingin bertanya, Memang nya aku berbohong masalah apa?" ucap Naisa dengan melototkan matanya kepada Aldi karna dia tidak Terima jika dia katai pembohong oleh Aldi.
"Kau merindukan ku?" tanya Aldi tanpa menjawab pertanyaan Naisa.
"Tidak, Aku sama sekali tidak merindukan mu" jawab Naisa dengan kedua tangan yang di lipat di atas perut dan mata memandang ke sembarang arah. Sedangakn Andini dan juga Erdin hanya tersenyum melihat perdebatan mereka berdua.
"Itu kau berbohong kepada ku" ucap Aldi, Naisa menoleh ke arah nya dengan tangan yang masih terlipat rapi di atas perut nya itu.
"Kau tadi bilang jika kau merindukan ku, Tapi sekarang kau mengatakan hal lain bahwa kau tidak merindukan ku" ucap Aldi.
"Ma...Mana ada aku mengatakan aku merindukan mu, Aku tidak pernah mengatakan itu" elak Naisa sedikit gugup karna dia sangat malu akan Aldi.
"Ma, Pa, Kalian mendengar ucapan nya saat dia mengatakan dia merindukan ku bukan?" tanya Aldi kepada kedua orang tua nya dengan menunjuk ke arah Naisa.
"Iya, Naisa mengatakan hal itu tadi" jawab Andini dengan senyum yang melebar menatap anak nya itu.
"Kau dengar, Disini ada dua orang saksi dan kau tidak bisa mengelak" ucap Aldi kepada Naisa.
"Tante" rengek Naisa dengan menatap Andini. Andini mengangkat kedua bahu nya menandakan jika dia tidak tau dan dia hanya melebarkan senyuman nya.
"Mengakulah" ucap Aldi dengan berusaha ingin duduk dan di bantu oleh Erdin yang berada di samping nya.
"Mengaku untuk apa? aku tidak mencuri apapun" jawab Naisa dengan kembali membuang tatapan nya dari Aldi.
"Mengakulah dan ulangi ucapan mu yang tadi" ucap Aldi yang sudah duduk sempurna dan bersender di sandaran ranjang nya itu.