
"Kau malu di sini? yasudah ayo kita kembali ke ruangan mu" ucap Aldi dan menurunkan kaki Naisa dan langsung menggendong Naisa kembali ke ruangan nya dengan posisi sama seperti tadi. Naisa tidak menolak akan gendongan Aldi itu dan meilih diam dan menyembunyikan wajah nya.
Sesampai di dekat ruangan nya nampak banyak sekali orang di depan ruangan Naisa tak terkecuali kedua orang tua Aldi, Aldi tidak memperdulikan nya dan langsung masuk ke dalam ruangan Naisa itu, Erdin dan Andini baru saja ingin masuk ke dalam ruangan Naisa tapi Aldi sudah menutup dan mengunci ruangan itu supaya tidak ada yang masuk. "Kenapa kau mengunci nya?'' tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi, Aldi tidak menjawab nya dan langsung menuju ke dekat ranjang, Aldi meletakkan tubuh Naisa di atas ranjang itu dan setelah itu dia juga ikut mendudukkan tubuh nya di atas ranjang itu dengan kaki Naisa yang di letakkan nya di atas paha nya kembali.
"Lihatlah akibat kebodohan mu kaki mu jadi memar seperti ini" ucap Aldi dengan menunjukkan kaki Naisa yang memar itu.
"Itu salah kau, Kenapa kau langsung berlalu tadi" jawab Naisa dengan wajah malas nya kepada Aldi.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menyusulku, Jadi kenapa kau menyusulku hah?" ketus Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Ya, Aku takut kau melakukan hal bodoh karna masalah tadi" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Itu sudah biasa terjadi kepada ku jadi kau tidak usah hawatir" ucap Aldi dan menatap lekat kaki Naisa dan mencoba memijat nya dengan sangat pelan.
"Pelan bodoh" teriak Naisa yang kesakitan akan pijatan Aldi itu.
"Ini sudah pelan" jawab Aldi dan kembali memijat kaki Naisa.
"Aah" teriak Naisa yang sangat kesakitan akibat Aldi yang memijat kaki nya.
"Jangan berteriak" ucap Aldi kepada Naisa.
"Ini sakit" jawab Naisa akan ucapan Aldi.
"Astaga apa yang terjadi di dalam?" guman Azlan yang mendengar jelas teriakan Naisa.
"Pelan Al, Sakitt" teriak Naisa lagi yang terdengar jelas oleh orang yang berada di luar.
"Apa yang mereka akukan?" tanya Andini yang pikiran nya traveling kemana mana mendengar teriakan Naisa begitupun dengan yang lain.
"Sus" panggil Azlan saat ada suster yang lewat di hadapan nya.
"Iya" jawab suster itu dan menatap Azlan.
"Apa ada kunci cadangan ruangan ini?" tanya Azlan kepada suster tadi.
"Sebentar" jawab suster tadi dan memeriksa kantong baju nya dan akhirnya dia menemukan kunci dan itu kunci semua ruangan yang di satukan di sana.
"Ini,Yang ini untuk kunci ruangan ini" ucap suster tadi dengan menyodorkan banyak nya kunci kepada Azlan. Azlan menerima nya dan langsung mencoba membuka pintu ruangan itu hingga terbuka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Azlan kepada Naisa dan juga Aldi saat sudah masuk ke dalam ruangan itu, Naisa dan Aldi menoleh ke arah pintu dan melihat Azlan masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa?" tanya Aldi datar dengan menatap lekat wajah Azlan. Azlan melihat Aldi sedang memegang kaki Naisa.
"Apa yang kalian lakukan nak?" tanya Andini kepada Naisa dan juga Aldi.
"Aku sedang memijat kaki Naisa" jawab Aldi datar dan kembali memijat kaki Naisa.
"Ini sudah pelan bodoh" jawab Aldi dan melanjutkan pijatan nya sedangkan Azlan dan Andini yang masuk ke dalam itu hanya merasa bodoh akan pikiran mereka yang entah kemana. Azlan dan Andini kembali keluar tapi mereka tidak mengunci pintu itu dan membiarkan nya terbuka.
"Apa yang terjadi di dalam ma?" tanya Erdin kepada Andini Sedangkan semua orang yang ada di depan itu menunggu jawaban dari Andini dan juga Azlan.
"Aldi memijat kaki Naisa" jawab Azlan akan pertanyaan Erdin yang tidak tertuju untuk nya.
"Kenapa malah memijat kaki Naisa? bukannya kaki Naisa itu patah?" tanya Erdin yang tau jika kaki Naisa patah.
"Entahlah yang jelas Aldi tadi sedang memijat kaki Naisa" jawab Andini.
"Ini sus, Terima kasih" ucap Azlan dengan menyodorkan kunci tadi kepada suster, suster tadi mengangguk dan langsung berlalu dari sana dan kembali melanjutkan langkah kaki nya yang sempat terhenti.
"Tidak beres ini" ucap Erdin dan langsung masuk ke dalam ruangan Naisa yang tidak di kunci itu.
"Kenapa kau memijat kaki Naisa yang patah?" tanya Erdin kepada Aldi saat dia masuk ke dalam ruangan itu.
"Ini bukan kaki Naisa yang patah" jawab Aldi tanpa menoleh ke arah ayah nya sedangkan Naisa menatap lekat Erdin.
"Jadi?" tanya Erdin dan berjalan mendekat ke arah Aldi dan Naisa, Aldi tidak memperdulikan nya begitupun dengan Naisa yang hanya menatap apa yang di lakukan oleh Erdin.
"Kenapa bisa memar?" tanya Erdin yang kaget saat melihat kaki Naisa yang ada di paha Aldi itu memar.
"Tidak apa apa om, Ini hanya terjatuh tadi" jawab Naisa akan pertanyaan Erdin dan wajah nya nampak menahan sakit akan pijatan Aldi itu.
"Astaga kenapa kau bisa terjatuh?" tanya Erdin dengan menatap lekat Naisa. Naisa hanya diam dan tidak menjawab begitupun dengan Aldi yang pokus melihat kaki Naisa itu.
"Papa jangan banyak bertanya" ucap Aldi datar tanpa menatap Erdin, Erdin menoleh ke arah anak nya itu begitupun dengan Naisa yang juga menoleh ke arah Aldi.
"Berbicaralah dengan sopan" bisik Naisa kepada Aldi.
"Papa jika hanya ingin bertanya nanti saja, Jangan mengganggu konsentrasi ku" ucap Aldi lagi tanpa menatap ayah nya itu. Erdin sebenar nya kesal akan Aldi tapi jika dia memarahi dan memaki Aldi takut nya nanti saat Aldi bergerak kaki Naisa ikut bergerak dan terbentur ke lantai dan dia pun memilih untuk pergi dari sana dan kembali keluar ruangan itu.
"Kau kenapa berbicara seperti itu kepada Papa mu?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi.
"Kenapa memang nya? ada masalah dengan mu?" tanya Aldi tanpa menatap Naisa dan hanya menatap kaki Naisa dan menyentuh nya pelan.
"Tidak ada maslah dengan ku hanya saja kau tidak boleh berbicara seperti tadi dengan om Erdin" jawab Naisa akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Aldi.
"Jadi aku harus berbicara seperti apa?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Berbicaralah dengan sopan kepada nya, Dia adalah Ayah mu dan kau tidak boleh berbicara seperti tadi kepada nya" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Aku tidak mau" jawab Aldi akan jawaban Naisa itu.
"Kenapa?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi yang sedang duduk di hadapan nya itu.