Heart's Owner

Heart's Owner
Bertemu Erin



Setelah selesai makan di kantin rumah sakit, Jonathan lalu mengajak Kezia keluar dari rumah sakit hendak pulang lagi ke apartemennya.


Di parkiran rumah sakit, mereka secara tidak di sengaja bertemu dengan Erin yang sedang berjalan terburu-buru.


"Erin?? Kau apa kabar? Sejak kau datang ke pernikahanku kau langsung menghilang saja!" sapa Kezia sambil memeluk Erin.


"Kabarku baik Zia, sekarang aku kerja di Farmasi, di rumah sakit ini, aku pikir kau sudah bahagia dengan Bang Jo, jadi kau tidak perlu aku lagi kan!" kata Erin.


"Erin! Jangan begitu, walau bagaimana kita adalah sahabatan waktu kuliah dulu, walaupun sekarang kau sudah bekerja, kau jangan lupakan aku! Aku tetap Kezia teman baikmu Erin!" ujar Kezia.


"Iya Zia, sorry ya, Oya, sekedar info nih, sekarang aku sudah jadian lho sama Bang Binsar, doakan kami ya cepat menyusul kalian!" kata Erin.


Jonatan dan Kezia saling berpandangan.


"Benarkah?" tanya Jonathan terkesiap.


"Benar Bang Jo, sekarang Bang Binsar kan pulang ke Medan, dia lagi nabung. ust melamar aku katanya!" sahut Erin.


"Wah, Bang Binsar diam-diam nih, mau kasih aku kejutan rupanya, awas saja dia ya tidak memberitahuku!" gumam Jonathan.


"Berarti kita akan jadi saudara dong Rin, kan Bang Jo dan Bang Binsar sepupuan!" kata Kezia.


"Iya Zia, kita jadi saudara akhirnya ya, syukurlah, aku bahagia banget, doakan segala prosesnya lancar ya .... walau aku tidak sekaya kamu Zia, tapi aku ingin bahagia hidup bersama bang Binsar!" ucap Erin.


"Ciyee ... bunga-bunga cinta sedang mekar-mekarnya nih!" goda Kezia.


"Ya sudah Zia, nanti kita kontrakan lagi, aku buru-buru mau kerja!" ujar Erin sebelum melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu.


Jonathan dan Kezia langsung naik ke dalam mobil mereka, dan Jonathan pun langsung melajukannya perlahan meninggalkan rumah sakit.


"Akhirnya ya Bang, mereka pada ketemu jodoh masing-masing, aku senang deh!" kata Kezia.


"Iya Zia, Bang Jo juga senang!" sahut Jonathan.


"Berarti kita bisa lanjutkan planing bulan madu kita dong Bang!" kata Kezia.


"Iya, Kezia mau bulan madu kemana memangnya?" tanya Jonathan.


"Ya ke Jepang lah, kan waktu itu kita sudah sepakat!" jawab Kezia.


"Tidak pakai bulan madu juga tiap hari sudah seperti bulan madu, Kezia nempel terus kayak perangko sama Bang Jo!" goda Jonathan.


"Ish Bang Jo! Kalau bulan madu itu kan beda Bang, suasananya beda, tempatnya beda, pokoknya beda lah!" sahut Kezia.


"Tapi kan rasanya tetap sama, memangnya bisa beda gitu rasa juniornya bang Jo?" tanya Jonathan.


"Dih Bang Jo apaan sih! Ya junior mah sama dong biar di mana juga, kecuali aku bulan madunya sama orang lain! Baru deh tuh beda!" cetus Kezia.


"Tapi lebih mantap punya bang Jo kan!" ledek Jonathan.


"Wah, kalau sudah ngomongin itu bakalan modus nih kalau sudah sampai apartemen, sudah ah Bang! Stop ngomongin bulan madu! Aku mau tidur saja!" Kezia lalu memejamkan matanya bersandar pada jok mobil untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Setelah mereka sampai di apartemen, seperti biasa, Jonathan akan menggendong Kezia naik ke atas, hingga mereka menuju kamar mereka.


Jonathan lalu membaringkan Kezia di tempat tidurnya.


"Huh! Capek juga ya Bang!" kata Kezia.


"Iya Zia, tapi gimana nih, Bang Jo terlanjur lagi pengen!" ucap Jonathan sambil menatap dalam wajah Kezia.


"Tuh kan bener, Bang Jo mah kalau lagi pengen ketauan banget!" cetus Kezia.


"Ayo dong Zia, Kezia sih tadi yang mancing-mancing!" kata Jonathan.


"Ikan kali di pancing!"


"Sekali aja deh Zia, nanti malam lanjut lagi oke?" rayu Jonathan.


"Iiih tapi aku lagi capek Bang!" sergah Kezia.


"Kezia kalau sudah lihat punya Abang juga pengen!" ujar Jonathan yang mulai beraksi membuka seluruh pakaiannya.


Melihat aksi Jonathan Kezia biasanya hanya bisa pasrah tanpa tau harus melakukan apa, karena Jonathan sekali punya hasrat pantang untuk batal.


Mereka pun akhirnya bercumbu di siang bolong, pada saat Jonathan hendak menyatukan tubuh mereka tiba-tiba ponsel Kezia berbunyi.


"Angkat Bang! Mana tau penting!" kata Kezia.


"Ponsel mengganggu saja, ini kan sedang tanggung!" sungut Jonathan.


"Tanggung apa sih Bang, biasanya juga berkali-kali juga! Angkat dulu ah!" Kezia lalu meraih ponselnya dan mulai mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo Kezia, bisakah pulang ke rumah?" tanya Bu Lika yang terlihat menangis di sebrang sana.


"Ada apa Bu?" tanya Kezia bingung.


"Nenek buyut kritis Zia, mungkin dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi!" ucap Lika.


"Hah? Nenek buyut kritis!? Iya Bu kita akan cepat datang ke sana, tunggu ya Bu!"


Belum sempat Kezia menutup ponselnya, Jonathan sudah memasukan tubuhnya ke tubuh Kezia, sehingga Kezia terkejut di buatnya.


"Aduh!! Bang Jo kok gitu sih main masukin saja!! Ini nenek buyutku lagi kritis tau!!" sungut Kezia.


"Maaf Zia, dari tadi sudah nyut nyutan soalnya, kita selesaikan ini sebentar oke, setelah itu kita pulang ke rumah Kezia!" ucap Jonathan sambil mengecup bibir Kezia kemudian kembali memainkan aksinya.


"Dasar Bang Jo!! Tidak mau rugi sama sekali!!" sengit Kezia.


****