Heart's Owner

Heart's Owner
Resepsi Pernikahan Andri dan Rosi



Andri dan Rosi sudah kembali dari kampungnya, mereka hanya tiga hari menikah di kampung, setelah itu malam ini, akan ada resepsi di sebuah restoran yang lumayan besar di Jakarta, semua fasilitas resepsi di biayai oleh Pak Gio, pemilik perusahaan tempat Andri bekerja.


Di tempat kediamannya Ricky, Papanya Kezia, Pria itu nampak sibuk memilih pakaian untuk resepsi Andri nanti Malam sekalian berkumpulnya para komunitas pengusaha muda, walaupun Ricky sudah tak muda lagi.


"Sayang, aku cocok tidak pakai batik ini?" tanya Ricky pada Lika istrinya.


"Cocok saja, nanti aku pakai couple nya!" sahut Lika.


"Salah satu karyawan Pak Gio mengadakan resepsi, kita di undang untuk datang sekalian reuni para pengusaha!" kata Ricky.


"Anak-anak di ajak tidak?" tanya Lika.


"Anak-anak titip Kezia saja atau Mbok Narti, kapan lagi kita jalan berduaan!" goda Ricky sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, Papa Ricky genitnya kumat!" cetus Lika sambil mendorong dada Ricky yang hendak menciumnya.


"Ayolah sayang, jangan lihat umur kita, anggap saja kita masih pacaran, romantis kayak dulu Hehehe!" ujar Ricky yang langsung menggandeng istrinya turun ke bawah.


"Kezia! Jaga adikmu! Papa mau ke undangan teman Papa dulu!" kata Ricky sambil duduk di sofa ruang keluarga itu.


"Sama Mbok Narti sajalah! Aku ada janji sama teman!" cetus Kezia.


"Janji apa? Ini kan hampir malam!" sahut Ricky.


"Teman aku ada yang menikah Papa, masa aku di undang tidak datang??" jawab Kezia.


"Ya sudah, bareng kami saja!" tawar Ricky.


"Idih, Papa mau bikin aku malu? Masa sudah besar di antar? Lagian juga aku janjian sama teman mau pergi bareng!" Tolak Kezia.


"Hmm, ya sudah deh, Papa jalan duluan sama Ibu ya, ingat, jangan pulang malam-malam!" ujar Ricky memperingatkan.


Akhirnya Ricky dan Lika berangkat duluan.


Kezia langsung buru-buru berganti pakaian dan bersiap-siap janjian ketemu dengan Jonathan di Joy Cafe, sesuai kesepakatan mereka.


Setelah berdandan secukupnya, Kezia lantas memesan taksi online menuju Joy Cafe, tak lama kemudian dia sudah sampai di sana, Jonathan nampak gagah dan tampan mengenakan pakaian formal.


Kezia terpana menatap Jonathan yang telah lama menunggunya.


"Hei, kau seperti melihat hantu saja, sampai melotot gitu!" ledek Jonathan.


"Bang Jo, yakin nih kita sudah rapi begini naik motor ke pestanya Mbak Rosi dan Andri?" tanya Kezia.


"Kenapa tidak? Yang penting sampai dengan selamat, memangnya kenapa? Kezia malu?" tanya Jonathan.


"Bu ... bukan malu Bang! Ya sudah lah, yuk jalan!" ajak Kezia.


Mereka lalu jalan ke parkiran dan mulai mengenakan helm dan Jonathan langsung menyalakan mesin motornya.


Selama kurang lebih 30 menit, mereka sampai ke tempat resepsi Rosi dan Andri.


Suasana resepsi itu cukup ramai dan meriah, karena seluruh karyawan perusahaan di undang, belum lagi keluarga dan kerabat mereka.


"Bang Jo kapan pulang ke Medan?" tanya Kezia.


"Hari Sabtu pagi Zia, hari Jumat aku masih kerja, sekalian ijin sama Mbak Rita!" jawab Jonathan.


"Abang lama di sana?" tanya Kezia lagi.


"Paling lama 3 hari Zia, kenapa? Takut ya Abang tinggal jauh!" goda Jonathan.


"Bukan Bang! Ih Bang Jo mah, kepedean banget, udah deh kita makan yuk, laper!" cetus Kezia sambil berjalan menuju meja prasmanan, Jonathan mengikutinya dari belakang.


"Makan yang banyak Zia, biar sehat dan gemuk!" ujar Jonathan saat mulai mengambil makanan.


"Kok malah nyuruh orang gemuk sih, nanti kalau udah gemuk malu lagi jalan bareng!" cetus Kezia.


"Kalau sudah sayang, biar gemuk juga tetap di sayang!" sahut Jonathan.


Kezia menyikut pinggang Jonathan dengan tangannya.


"Sudah deh, Bang Jo saja makan yang banyak, biar kuat kerja sama kuliahnya!" balas Kezia.


"Duh senengnya di perhatiin sama calon istri masa depan!" sahut Jonathan berbinar.


"Emang yakin calon istri masa depan Bang Jo itu aku?" tanya Kezia yang sudah selesai mengambil makanan.


Mereka lalu duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Yakin lah, Bang Jo akan perjuangkan!" sahut Jonathan mantap.


"Kalau Papaku tidak merestui gimana?" tanya Kezia lagi.


Ada yang tersentuh di sudut hati Kezia yang terdalam.


Tiba-tiba, mata Kezia tertuju pada Papanya dan Ibunya yang sedang ngobrol di kursi VIP dengan keluarga Pak Gio.


Wajah Kezia langsung memucat.


"Ada apa Zia?" tanya Jonathan.


"Bang, cepat habiskan makananmu, setelah itu kita langsung pulang!" jawab Kezia.


"Lho, kan kita baru datang, belum juga salaman sama pengantin, masa langsung pulang!" tukas Jonathan.


"Ya sudah, kalau bang Jo mau di sini, aku pulang saja duluan!" cetus Kezia sambil buru-buru menghabiskan makanannya.


"Eh, kamu serius Zia? Iya deh, Bang Jo habiskan dulu ya makannya!" ujar Jonathan yang ikut cepat-cepat menghabiskan makanannya.


Sementara Itu Ricky dan Lika nampak asyik berbincang dengan keluarga Pak Gio, di situ juga ada Nina, istri Gio yang kini sedang menggendong seorang bayi.


"Wah, enak ya masih punya bayi kecil, masih ada yang bisa di momong!" kata Lika.


"Ini juga yang terakhir Mbak, aku ini melahirkan dia sudah mau kepala 4 lho!" jawab Nina malu-malu.


"Waduh, masa sih jeng Nina?!" tanya Lika tak percaya.


"Iya, aku kan jauh lebih tua dari suamiku!" jawab Nina.


"Hei, kalian serius sekali ngobrolnya, sambil makan yuk!" Ajak Gio.


Mereka lalu mulai mengambil makanan bersama-sama.


Melihat Papanya yang jalan dari meja VIP, Kezia langsung menundukkan wajahnya takut ketahuan.


Kemudian dia jalan mengendap dan berjalan handak keluar dari ruangan itu, Jonathan mengikutinya dari belakang.


Karena terburu-buru, Kezia menyenggol gelas-gelas yang di bawakan oleh seorang pelayan.


Prangg!!!


Suara gelas-gelas jatuh terdengar sampai semua orang yang ada di ruangan itu menoleh kearahnya, termasuk Ricky dan Lika.


Saat Ricky melihat Kezia, Kezia langsung berjalan secepat mungkin bersembunyi diantara kerumunan otang-orang, kini Jonathan mulai kehilangan jejak Kezia.


"Sayang, aku seperti melihat Kezia!" seru Ricky pada Lika.


"Mana? Mirip kali Pa! Kamu kan begitu, matanya dah mines, dah tua!" ujar Lika.


"Enak saja, biar tua aku tetap gagah!" cetus Ricky tak mau kalah.


Ricky mulai mengejar Kezia.


Kezia bersembunyi di toilet wanita, sementara dia merasa aman.


Pak Ricky yang kehilangan jejak Kezia, matanya jelalatan melihat ke semua pengunjung, hingga dia melihat Jonathan yang berdiri sambil menoleh ke kanan dan Ke kiri seperti orang bingung. Ricky segera menghampiri Jonathan.


"Hai marketing! Kamu kok ada di sini juga?" tanya Ricky.


"Saya kan temannya pengantin! Dia teman kos saya!" jawab Jonathan. Ricky Menganggukan kepalanya.


"Bapak sendiri ngapain kesini?" tanya Jonathan balik.


"Bosnya pengantin itu kolegaku!" sahut Ricky.


"Ooo ..." Jonathan membulatkan mulutnya.


"Kamu datang sama siapa?" tanya Ricky.


"Sama calon istri masa depan saya Pak!" jawab Jonathan dengan pede nya.


"Istri ... istri ... gaji masih UMR saja pikirin istri! pikirin karirmu dulu!" cetus Ricky.


"Kan istri masa depan Pak, Bapak sendiri kok celingukan dari tadi?" tanya Jonathan.


"Aku lagi mencari anakku, entah mengapa tiba-tiba dia bisa hilang dari pandanganku!" gumam Ricky sambil menggaruk kepalanya.


****


Hi Readers ....


Tetap dukung Author ya ...


Trimakasih ...