
Siang ini Jonathan pulang kampung di temani oleh Kezia bersama dengan Ricky dan Lika.
Mereka baru saja mendarat di bandara Medan.
Selain mengenal tanah kelahiran Jonathan, mereka berniat untuk membagikan undangan pernikahan Jonathan.
"Wah, aku ada proyek di sini! Kebetulan sekalian meninjau proyekku!" ujar Ricky semangat.
"Papa mau meninjau proyek atau ketemu keluarga Jo sih?" tanya Lika.
"Yah kan sambil menyelam minum air!" sahut Ricky.
Orang kepercayaan Ricky sudah menjemput mereka di bandara.
Mereka langsung menuju rumah Jonathan yang berada di daerah pegunungan.
"Wah, ternyata kampung halaman Bang Jo indah juga ya!" seru Kezia senang.
"Tapi tetap saja kampung Zia, beda sama di kota, di sini penduduknya jarang-jarang!" sahut Jonathan.
Di rumah Jonathan sudah ada Binsar yang sudah membersihkan rumah itu.
Mereka langsung beristirahat ketika mereka sampai di rumah itu.
Binsar juga sudah menyiapkan makan siang alakadarnya. Mereka makan dengan gembira di rumah itu.
"Rencana menginap berapa hari Jo?" tanya Binsar.
"Cuma sehari, besok rencana kami pulang ke Jakarta!" sahut Jonathan.
"Lho kok cepat sekali, aku kira kalian akan lebih lama di sini!" kata Binsar.
"Maklum saja Binsar, masih ada anak kecil di rumah yang tidak bisa di tinggal lama-lama!" timpal Lika.
Sore ini rencana mereka akan pergi ke rumah keluarga Ratna dan keluarga Binsar, karena hanya mereka yang masih kerabat dekat dengan Jonathan.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman depan rumah Ratna.
Om dan Tante Purba mengerutkan kening saat melihat kedatangan mereka.
"Pak! Itu si Jo datang Pak! Dia datang sama calon mertuanya, dasar tukang pamer, dia pikir kita panas melihat kedatangannya!" cetus Tante Purba.
Setelah Jonathan dan yang lain turun dari mobil, mereka langsung menghampiri Om dan Tante Purba untuk bersalaman.
Wajah Tante Purba terlihat masam sejak tadi.
"Ayo masuk Jo!" ajak Om Purba.
Mereka lalu masuk dan duduk di ruang tamu.
"Maaf Om, maksud kedatangan kami adalah untuk memberikan undangan ini pada keluarga Om dan Tante!" ucap Jonathan sambil menyodorkan sepucuk undangan mewah ke arah mereka.
"Mau kasih undangan atau mau pamer?!" cetus Tante Purba.
"Kalau kalian mau datang ke acara pernikahan putra dan putri kami, maka kami akan fasilitasi kalian sekeluarga tiket dan biaya menginap di hotel!" kata Ricky.
Om dan Tante Purba makin terperangah.
"Sombong sekali!" sungut Tante Purba.
"Kedatangan kami kemari dengan niat baik, jadi tolong hargai kamu setidaknya dengan senyum kalian!" ujar Ricky.
"Baik, kami terima undangannya, tapi kami tidak janji ya bisa datang atau tidak!" cetus Tante Purba.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit, tidak tahan di sini dengan orang yang selalu dengki dan iri hati!" ujar Ricky.
Tak lama mereka pun pamit meninggalkan rumah itu.
Ratna yang melihat kedatangan mereka hanya bisa mengintip dari jendela kamarnya tanpa bisa berbuat apa-apa, karena Tante Purba sudah wanti-wanti agar Ratna jangan keluar dari kamarnya.
Akhirnya Jonathan dan yang lainnya kembali ke rumah Jonathan, besok pagi mereka baru akan memberikan undangan ke keluarga Binsar dan yang lainnya.
Suasana di rumah Jonathan begitu sepi, berbeda dengan suasana di Jakarta.
Lika tidur dengan Kezia di kamar mendiang Mama Jonathan, sedangkan Ricky tidur dengan Jonathan di kamar Jonathan.
Bersambung ...
****
Maaf Guys ... Authornya gak bisa up banyak, lagi sakit, besok lagi ya guys ...🙏