
Pagi itu Jonathan sudah bangun terlebih dahulu, karena semalam dia cepat tidur dan sangat nyenyak tidurnya.
Sementara Kezia masih belum bangun dari tidurnya, Jonathan tidak tau kalau Kezia semalam tidak bisa tidur.
Jonathan lalu keluar dari kamarnya, bermaksud untuk membuatkan Kezia susu. Suasana rumah terlihat sepi, adik-adik Kezia juga belum keluar dari kamarnya.
Di dapur, Mbok Narti sibuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi Mbok!" sapa Jonathan.
"Selamat pagi Bang Jonathan, sudah bangun nih!" balas Mbok Narti.
"Iya Mbok, mau buatin Kezia susu dulu!" ujar Jonathan.
"Oh, silahkan Bang Jonathan, suami yang baik ini, kok jadi Mbok Narti yang baper!" sahut Mbok Narti.
Jonathan lalu segera membuatkan susu untuk istrinya itu, setelah selesai Jonathan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Zia sayang, bangun dong, sudah siang ini lho, kasihan Dedeknya laper tuh, minum dulu susu nya ayo!" panggil Jonathan sambil mengelus perut buncit Kezia, lalu menciumi perut itu, ada gerakan halus yang merespon sentuhan dari Jonathan.
"Anak Papi Jo sudah bangun ya, lincah sekali, ayo bangunin Mami Nak, anak pintar!" Jonathan terus mengelus dan menciumi perut Kezia. Hingga Kezia menggeliat kegelian.
"Geli Bang! Aku masih ngantuk tau!" sungut Kezia.
"Ini sudah siang sayang, kasihan bayi kita lapar!" sahut Jonathan.
Kezia kemudian mengerjapkan matanya.
"Lihat saja sendiri, bayi kita bergerak terus, barangkali dia gelisah karena lapar!" lanjut Jonathan.
"Bang Jo sok tau! Dia bergerak karena semakin besar dan lincah, bukan karena lapar!" cetus Kezia.
Jonathan lalu segera menyodorkan segelas susu yang sudah dia buat tadi.
"Ini di minum dulu susunya sayang!" ucap Jonathan sambil membantu Kezia meminum susunya.
Akhirnya Kezia meneguk minumannya itu sampai habis.
"Terimakasih Bang!" ucap Kezia.
"Sama-sama sayang!" sahut Jonathan sambil meletakan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.
"Oya Bang, semalam Mas Beni telepon, ada kali sekitar jam 12 an malam, Bang Jo sudah tidur!" kata Kezia.
"Oya? Ada apa Beni telepon malam-malam?" tanya Jonathan bingung.
"Entahlah Bang, mungkin ada sesuatu yang mau Mas Beni ceritakan ke Abang, Bang Jo telepon balik ya, aku tidak enak soalnya semalam Mas Beni begitu serius!" jawab Kezia.
"Iya deh Zia, Abang telepon Beni dulu sekarang, Kezia mandi dulu ya, biar wangi soalnya mau Abang tengokin si Dedek!" ujar Jonathan.
"Dih Bang Jo apaan sih! Jangan suka modus deh Bang!" sungut Kezia.
"Tidak apa-apa modus sama istrinya sendiri!" sahut Jonathan.
"Dasar mesum!" cetus Kezia sambil turun dari tempat tidurnya dan langsung beranjak masuk ke kamar mandi.
Jonathan lalu segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja, benar saja, ada banyak panggilan tak terjawab dari Beni, Jonathan lalu langsung menelepon Beni.
Agak lama Jonathan menelepon, belum ada jawaban dari Beni, saat Jonathan kembali menelepon untuk yang kesekian kalinya, baru ada jawaban dari Beni.
"Halo Ben, kau lama sekali, apakah kau begitu asyik dengan istrimu sampai tidak mengangkat panggilanku?!" tanya Jonathan.
"Ah kau bisa saja Jo, semalam aku baru bisa tidur menjelang subuh, makanya sekarang aku batu bangun, itu juga kau yang membangunkan aku lewat dering ponsel!" jawab Beni.
"Bagaimana di Medan Ben? Kau betah?" tanya Jonathan.
"Entahlah Jo, saat ini hatiku sulit di gambarkan dengan kata-kata, aku bingung Jo!" keluh Beni.
"Ada apa denganmu Ben? Kita sudah lama kenal, kalau kau mau cerita, jangan sungkan padaku!" kata Jonathan.
"Jo, kau tau malam tadi adalah malam pertamaku dengan Ratna?" tanya Beni.
"Lalu? Kau jangan pamer malam pertama Ben, kasihan Kezia nanti jadi pelampiasanku terus!" sahut Jonathan.
"Bukan itu Jo, Ratna tidak mau aku sentuh Jo, padahal aku sudah coba perlahan, mulai dari menciumnya, membelainya, dia hanya sekedar melayaniku, tapi pada saat aku hendak melakukan yang lebih intim lagi, dia menolah aku!" ungkap Beni.
"Apa? Jadi, sekarang kau masih perjaka Ben?" tanya Jonathan nyaris tak percaya.
"Iya Jo, aku sedih sekali Jo, mana mertuaku galak banget lagi, aku tertekan di sini Jo!" jawab Beni.
"Aku turut prihatin dengan kondisimu Ben, tapi kenapa Ratna tidak mau di ajak berhubungan, bukankah kau telah menjadi suaminya?" gumam Jonathan.
"Aku tidak tau Jo, mau kah kau membantuku? Kau kan sudah lama kenal dengan Ratna, tolong tanyakan padanya, dan bicaralah dari hati ke hati dengannya, aku sangat sakit di tolak oleh istriku sendiri Jo!" pinta Beni.
"Kalau untuk urusan begitu, sebenarnya aku agak sungkan untuk bicara dengan Ratna, tapi aku akan coba membantumu, kau sabar dulu ya Ben, kapan kau pulang ke Jakarta?" tanya Jonathan.
"Rencana Minggu ini aku akan pulang Jo, lebih cepat lebih baik, seharusnya Minggu depan, Pak Ricky kasih aku cuti panjang, tapi aku sudah tidak tahan, mertuaku selalu membandingkan aku denganmu Jo, seolah-olah aku ini tidak pantas jadi menantu mereka!" jawab Beni.
"Kau tenang saja Ben, cepat bawa Ratna ke Jakarta, tidak baik kalau tinggal campur dengan mertua!" usul Jonathan.
"Iya Jo, Pak Ricky juga sudah menyiapkan aku rumah minimalis tak jauh dari tempatmu Jo!" kata Beni.
"Aku doakan hubungan kalian semakin baik, kau bicara saja dengan Ratna dari hati ke hati, kalian kan sudah suami istri!" ujar Jonathan.
"Iya Jo, aku akan coba lagi, mungkin semalam dia lelah, semoga saja malam berikut dia mau menyerahkan mahkotanya untukku!" sahut Beni.
"Tetap semangat Ben, dan jangan pantang menyerah!" kata Jonathan sebelum dia menutup ponselnya.
Kezia sudah duduk di samping Jonathan sudah dengan pakaian rapi, rupanya dia sudah selesai mandi.
"Ada apa dengan Beni Bang?" tanya Kezia.
"Kasihan si Beni Zia, Ratna belum bisa menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk Beni, di tambah tekanan dari Tante Purba, kau tau sendiri bagaimana galaknya Tante Purba!" jawab Jonathan.
"Ya ampun kasihan amat Mas Beni, harusnya sekarang jadi momen bahagia mereka berdua, pantas saja tengah malam kemarin dia datang, ternyata mau curhat!" ujar Kezia.
"Kezia, kau tidak keberatan kan kalau Abang telepon Ratna? Abang ingin bicara serius dengan Ratna mengenai masalah Beni ini, dan sedikit memberinya nasehat!" ucap Jonathan.
"Silahkan Bang, aku ijinkan kok, aku percaya aku adalah pemilik hati Bang Jo!" jawab Kezia.
"Terimakasih sayang!" Jonathan langsung memeluk Kezia.
Aroma sabun mandi membuat Jonathan kembali On maksimal, sesuai janjinya, pagi ini dia kembali menengok bayi nya yang ada dalam rahim Kezia.
****