
Karena kelelahan dan menyimpan beban dalam hatinya, Jonathan akhirnya tertidur saat Kezia terus saja membelainya. Padahal mereka belum makan siang.
Kemudian Kezia mengambil kain basah, lalu membersihkan tubuh bagian inti Jonathan yang belum sempat dia bersihkan sehabis bercinta dengan Kezia.
Setelah bersih Kezia menyelimuti tubuh Jonathan yang masih polos itu. Kemudian Kezia menciumi wajah Jonathan.
Ting ... Tong ...
Terdengar suara bel dari depan rumah Kezia. Kezia lalu keluar dari kamarnya dan bergegas membukakan pintu rumahnya.
Ricky sudah berdiri di depan rumah Kezia.
"Papa? Ayo masuk Pa!" ajak Kezia.
Ricky kemudian masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu itu.
"Kezia, apakah suamimu di dalam?" tanya Ricky.
"Bang Jo lagi di kamar Pa, dia tidur, sebenarnya apa yang terjadi sih Pa? Hari ini Bang Jo bersikap aneh sekali, dia kelihatan sedih dan berbeban!" jawab Kezia.
Ricky nampak menarik nafas panjang.
"Papa juga bingung Zia, Mr. Michael investor dari Australia yang merupakan rekan bisnis Papa, ternyata ada hubungan dengan masa lalu Jonathan!" ujar Ricky.
"Apa maksud Papa?" tanya Kezia tidak mengerti.
"Jonathan baru mengetahui kenyataan kalau Mr. Michael itu adalah Ayah kandungnya, tadi Papa banyak mengobrol dengan beliau, beliau juga sangat sedih dan tertekan saat Jonathan meninggalkannya tadi di ruangannya, dia sunghu sangat merasa bersalah atas masa lalunya!" ucap Ricky.
"Lho, dari mana mereka tau kalau mereka adalah ayah dan anak?" tanya Kezia.
"Kan Jonathan menyimpan foto Ayahnya, saat melihat Mr. Michael, Jonathan mendadak pucat karena Jonathan mengenali wajahnya!" jawab Ricky.
Kezia menganggukan kepalanya.
"Papa siang ini sekalian makan di sini ya, aku mau ke kamar dulu membangunkan Bang Jo!" kata Kezia yang langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Jonathan masih nampak tertidur.
"Bang Jo, bangun dulu Bang, ada Papa di depan!" panggil Kezia sambil mengguncang lembut punggung Jonathan.
Jonathan kemudian mulai mengerjapkan matanya.
"Papa? Kenapa Papa kesini?" gumam Jonathan.
"Mungkin ada yang mau Papa bicarakan, sekalian makan siang yuk Bang, Bang Jo pasti sudah lapar!" Ajak Kezia sambil merapikan rambut Jonathan.
Jonathan kemudian bangkit dan mulai kembali berpakaian.
Mereka kemudian keluar dari kamar lalu segera menuju ke meja makan.
"Papa, ayo sini makan sekalian, kita ngobrol sambil makan saja!" ajak Kezia.
Ricky yang nampak membaca koran langsung menghampiri meja makan dan duduk bergabung dengan mereka.
"Kau baik-baik saja Jo?" tanya Ricky.
"Baik Pa!" sahut Jonathan.
"Bang Jo, makan yang banyak ya, hati ini aku sudah susah payah membuat resep baru, sampai tutorial nya aku ikuti sampai akhir!" ujar Kezia.
"Iya sayang!" ucap Jonathan.
"Papa bisa saja, habisnya ibu rumah tangga mau apa lagi selain di dapur!" sahut Kezia.
Jonathan siang itu tidak banyak bicara, dia terus makan sambil menatap meja makan, seperti ada sesuatu yang di pikirkannya.
"Jo, Papa harap, kau bisa perbaiki hubunganmu dengan Mr. Michael, kalau dia memang sudah terbukti Ayah kandungmu!" kata Ricky.
"Tapi dia seperti orang asing bagiku Pa, selama ini aku tidak pernah berpikir akan bertemu dengan Ayah kandung yang rasanya tidak mungkin itu, dulu saat aku kecil aku memang sangat mendambakannya, tapi sekarang ..." Jonathan menghentikan ucapannya.
"Kau butuh banyak waktu untuk mengobrol dengannya Jo, entah bagaimana masa lalunya dengan Mamamu, tetap saja hubungan darah tidak bisa di pungkiri!" ujar Ricky.
"Ada sesuatu yang harus aku pastikan dulu Pa, apa benar dulu Mamaku menghilang atau dia yang meninggalkan Mama!" ujar Jonathan.
"Sebaiknya kau bereskan dulu masa lalu mu, kalau kau masih punya saudara atau kerabat, kau boleh tanyakan pada mereka, bagaimana masa lalu Mamamu, itu saran dari Papa, Papa harap kau bisa berlapang hati menerima kenyataan ini, dan kau harus bahagia, karena Ayahmu adalah seorang investor besar!" ucap Ricky menyemangati Jonathan.
"Tapi tetap saja Pa, aku lebih suka hidup dengan jerih lelahku sendiri, menafkahi istri dan anakku dengan keringat sendiri, bagiku harta tidak akan mempengaruhi prinsip hidupku!" sahut Jonathan.
"Bagus Jo, Papa bangga padamu! Kau tetap anak menantu Papa yang paling Papa sayang!" Ricky menepuk bahu Jonathan, mereka kembali ke ruang tamu setelah mereka selesai makan siang.
"Bang Jo, Bang Jo bicara saja pribadi dengan Mr. Michael, kasihan dia pasti sedih, anak yang selama ini dia rindukan malah menghindarinya, Bang Jo pikirkan perasaannya!" ucap Kezia.
"Iya sayang!" sahut Jonathan.
"Jo, ini kartu nama Mr. Michael, di situ ada alamat apartemennya, kalau hatimu sudah tenang, kau datanglah untuk menemuinya!" kata Ricky sambil menyodorkan secarik kartu nama. Jonathan menerima kartu nama itu.
"Terimakasih Pa!" ucap Jonathan.
"Kalau begitu, Papa kembali ke kantor dulu ya Jo, kau boleh tenangkan pikiranmu dulu, tidak usah buru-buru ke kantor!" kata Ricky yang langsung berdiri dan bersiap akan kembali ke kantornya.
"Baik Pa, terimakasih ya, sudah memberi pencerahan padaku!" ucap Jonathan.
Setelah Ricky pergi, Jonathan lalu mengambil ponselnya, kemudian mulai memencet nomor telepon seseorang.
"Halo ..."
"Halo Om Purba, ini Jonathan, maaf mengganggu waktunya Om, ada yang mau Jo tanyakan sama Om Purba!" kata Jonathan.
"Apa yang mau kau tanya Jo?" tanya Om Purba.
"Soal Mama Om, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mama saat mengandung dan melahirkan aku? Kenapa Ayahku tidak pernah datang?" tanya Jonathan.
"Kenapa tiba-tiba kau tanyakan itu?" tanya Om Purba.
"Tidak apa-apa Om, aku hanya ingin tau saja!" sahut Jonathan.
"Dulu Mamamu pernah bekerja di Jakarta, tak lama kemudian dia kenalan dan berpacaran dengan orang bule, tentu saja opung mu (Kakek Nenek) tidak suka, apalagi mereka sudah menikah di bawah tangan tanpa sepengetahuan opung mu, akhirnya si opung menyusul ke Jakarta, dan membawa Mamamu ke Medan, waktu itu Mamamu sedang mengandung kamu Jo!" jelas Om Purba.
Untuk beberapa lama saatnya Jonathan tertegun mendengar penuturan dari Om Purba.
"Jadi, bukan Ayah yang meninggalkan Mama?" tanya Jonathan.
"Iya Jo, bahkan Ayahmu itu tidak tau Mamamu pergi kemana, jaman dulu kan tidak ada ponsel, telepon juga jarang!" jawab Om Purba.
"Baiklah Om, terimakasih ya, salam buat Tante Purba, Ratna juga Beni!" ucap Jonathan sebelum dia menutup ponselnya.
Kemudian dia segera memeluk Kezia yang sejak tadi duduk setia menemaninya di sampingnya.
"Zia sayang, sekarang hati Bang Jo sudah lebih tenang!" ucap Jonathan sambil mengecup pipi Kezia.
****