
Wajah Kezia memucat saat mendengar suara Papanya yang menggelegar bagai petir menyambar.
"Ada apa Zia?" tanya Jonathan cemas.
"Aku harus pulang Bang, Papaku marah!" jawab Kezia.
"Ya sudah, Abang antar sekarang ya?!" tawar Jonathan.
"Jangan Bang! Nanti Papaku tambah marah!" sergah Kezia.
"Abang tidak takut Papamu Zia, Abang takut kau di marahi Papamu, tidak tega Abang Zia!" ujar Jonathan.
"Tidak Bang! Papaku lebih garang dari yang kau kira, aku mau naik taksi online saja!" Kezia langsung mengambil ponselnya dan memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya itu.
"Kezia, jangan buat Bang Jo kuatir pikirin kamu!" kata Jonathan.
"Bang Jo pulang saja, aku sudah pesan taksi ku, 5 menit lagi juga sampai!" cetus Kezia.
"Ya sudah kalau begitu Abang tungguin sampai Kezia naik taksi!" kata Jonathan akhirnya.
"Terserah deh, pokoknya habis ini Bang Jo langsung pulang oke?!" tegas Kezia.
"Iya iya, Apa perlu Abang ikutin taksinya sampai rumah Kezia?" tanya Jonathan.
"Jangan! Kalau Bang Jo berani ikutin aku, aku akan marah besar sama Bang Jo!" ancam Kezia.
"Waduh, Bang Jo lebih takut Kezia yang marah, oke oke ... Abang langsung pulang, tapi nanti Kezia langsung telepon Bang Jo ya kalau sudah tidak di marahi lagi?!" kata Jonathan.
"Iya Bang!"
Tak lama taksi online pesanan Kezia datang, Jonathan menarik tangan Kezia sebelum Kezia masuk ke dalamnya.
"Apaan sih Bang?!" tanya Kezia.
"Kezia tidak mau cium Abang dulu?" tanya Jonathan.
"Dih! Ngarep!" sahut Kezia.
"Katanya Kezia sayang sama Abang?!" tanya Jonathan lagi.
"Iiih, orang lagi buru-buru juga, nih biar puas!!"
Kezia mencium pipi Jonathan dengan cepat lalu langsung naik ke dalam taksi yang telah menunggunya, tak lama taksi yang membawa Kezia bergerak meninggalkan tempat itu.
Dengan bahagia, Jonathan mengelus pipi bekas ciuman Kezia, senyum manis terpancar jelas di wajahnya.
Jonathan kemudian naik ke atas motornya, mulai menyalakan mesinnya dan melajukannya menuju ke tempat kosnya.
Sementara itu, Kezia yang ada di dalam taksi mulai ketar ketir menghadapi kemarahan Papanya.
Tak sampai 30 menit, Kezia sudah sampai di rumahnya, perlahan dia masuk dan berjalan menuju ke ruang keluarga.
Papa dan ibunya terlihat duduk menunggunya.
Melihat Kezia yang sudah datang, Pak Ricky langsung berdiri.
"Duduk!!" sentak Ricky sambil menunjuk bangku yang ada di hadapannya.
"Iya Pa!" jawab Kezia sambil duduk dan menunduk.
"Dari mana saja kau? Kenapa pergi tidak pamit sama Papa dan Ibu??!" tanya Ricky dengan suara yang keras.
"Da ... Dari rumah Erin Pa!" jawab Kezia berbohong.
"Bohong!!!" sentak Ricky.
Kezia tersentak kaget.
"Tadi Erin menelepon ke rumah menanyakanmu, katanya ponselmu tidak bisa di hubungi!" timpal Bu Lika, ibunya.
"Hah? Masa sih?" tanya Kezia agak malu karena ketahuan berbohong.
"Pokoknya Papa akan kasih hukuman padamu, mulai besok, Papa yang akan mengantar jemput mu kuliah sampai lulus!!" seru Ricky.
"Papa!! Aku bukan anak kecil lagi yang harus di antar jemput Papa!!" protes Kezia.
"Tidak perduli!! Kau sudah berani membohongi Papa!" sergah Ricky.
"Papa jahat!! Aku kan punya kehidupan privasi! Papa ini kolot! Kuno!! Arogan!!" seru Kezia.
Lika langsung mendekati Kezia dan duduk di sampingnya.
"Kezia, Papamu itu mengkhawatirkan mu tau, katanya takut kamu di culik, lalu di perkosa dan di mutilasi, jaman sekarang kan banyak kejahatan!" ujar Lika lembut.
"Papa lebay!!" sahut Kezia.
"Mendingan lebay dari pada kehilangan anak perawan!!" sahut Ricky.
"Kalau Papa terus mengekangku seperti itu, bisa-bisa aku jadi perawan tua yang tidak laku-laku!!" sengit Kezia.
Perlahan dia pun mulai duduk di samping Kezia.
"Nak, bukan seperti itu maksud Papa!" ujar Ricky mulai melembut.
"Benar kan? selama ini Papa memang seperti itu, waktu aku kenalkan Robby ke Papa, Papa malah jutekin dia!!" sahut Kezia.
"Robby?? Bukannya Kezia sudah putus sama Robby?" tanya Lika.
"Iya putus sekarang, itu kan dulu!!" sahut Kezia.
"Terus, sekarang Kezia jalan sama siapa??" tanya Ricky.
"Rahasia!!" cetus Kezia.
"Tuh kan pakai rahasia segala!" sungut Ricky.
"Papa, aku mau tanya, kriteria seperti apa sih menantu idaman Papa??" tanya Kezia sambil menatap ke arah Papanya.
Ricky dan Lika tertegun mendengar pertanyaan putrinya itu. Ricky langsung memandang ke arah istrinya dengan tatapan dalam.
"Sayang, setua itu kah aku sampai anakku menanyakan calon menantu kita?" tanya Ricky pada Lika.
"Kezia sudah besar Papa Ricky, mau tidak mau, cepat atau lambat, dia pasti akan menikah, dan kau akan punya menantu!" jelas Lika.
"Kenapa Papa malah bingung?? Ayo jawab saja!!" tantang Kezia.
Pandangan Ricky beralih kepada Kezia.
"Papa ingin punya menantu yang pintar, mapan, baik, jujur, bertanggung jawab, dan yang penting dia setia seperti Papa!" jawab Ricky.
"Kalau misalnya dia tidak mapan, atau miskin gimana Pa??" tanya Kezia lagi.
"Papa tidak akan restui!!" cetus Ricky. Kezia cemberut.
"Hmm, Papa curang!!" sungut Kezia.
"Pa, masa begitu sih, dulu kan aku juga miskin, cuma seorang guru, tapi Papa mau tuh sama aku!" kata Lika.
"Itu kan beda cerita sayang, aku kan laki-laki yang akan melindungimu, anak kita ini kan perempuan, jadi laki-lakinya ya harus mapan lah, minimal punya rumah, mobil dan berpendidikan tinggi!" jawab Ricky.
"Hmm, baiklah kalau begitu, aku ngantuk mau tidur!!" ujar Kezia sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Eh Kezia, hukuman Papa masih berlaku lho, besok kamu berangkat di antar Papa!" seru Ricky.
"Tidak mau!! Aku akan malu di depan teman-temanku!! kalau Papa tetap ngotot mau mengantarku, lebih baik aku mogok kuliah!!" ancam Kezia.
Ricky tertegun mendengar perkataan Kezia.
"Oke Oke ... tapi kau harus berangkat naik mobilmu sendiri biar aman, jangan lagi naik taksi online!" tegas Ricky.
Dengan terpaksa Kezia menganggukan kepalanya.
Dia langsung ngeluyur pergi menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Kezia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, sekilas dia melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
Kezia meraih ponselnya, ada banyak sekali panggilan tak terjawab, salah satunya adalah dari Jonathan.
Kezia membuka notifikasi pesan singkat dari Jonathan di ponselnya. Senyum cerah kembali menghiasi wajahnya.
[Kezia sudah di rumah? Papa Kezia bagaimana? Di marahi ya tadi?]
[Iya Bang, di marahi, sudah biasa, Papaku atogan hehe.]
[Sabar ya Zia, doakan Abang bisa kumpulin uang yang banyak biar bisa cepat melamar Kezia.]
[Dih Bang Jo apaan sih, kita pacaran saja belum, sudah ngomong melamar saja!]
[Punya impian tidak apa-apa dong, Oya, trima kasih tadi ya!]
[Trima kasih untuk apa Bang?]
[Ciuman Kezia bikin Abang tidak bisa tidur nih!]
[Iiih!! Bang Jo nyebelin!!]
Kezia langsung mematikan ponselnya dan mendekap di dadanya.
****
Mulai dukung Author yuk ...
Pakai Like dan Vote ya ...
Trima kasih ...