
Hari sudah menjelang malam, Ricky nampak belum bisa tidur karena dia tidak terbiasa tidur di kasur kapuk dengan kelambu, dengan lampu remang-remang.
Tidak ada AC hanya ada kipas angin kecil, dengan suara daun bambu yang suaranya bergemerisik tertiup angin. Suasana malam itu nampak begitu mencekam, di tambah dengan suara burung hantu dan jangkrik, menambah malam itu semakin menegangkan.
Ricky menarik selimutnya, hawa dingin angin pegunungan mulai membuatnya dingin.
"Papa belum bisa tidur ya?" tanya Jonathan saat di lihatnya Ricky bolak balik ke kanan dan ke kiri.
"Iya Jo, rumahmu seram juga ya kalau malam, aku tak habis pikir kau betah tinggal bertahun-tahun di sini!" sahut Ricky.
"Sejak lahir aku memang sudah tinggal disini, jadi aku sudah terbiasa dengan alam!" ujar Jonathan.
"Kau bilang hutang mu sudah lunas Jo, apa termasuk rumah ini juga?" tanya Ricky.
"Belum Pa, rumah ini masih milik keluarga Purba, aku belum membelinya, karena ku pikir aku tidak akan kembali lagi kesini!" jawab Jonathan.
"Hmm, tapi kalau kelak kau mudik, kau bisa menunjukan pada anak-anakmu kalau ini adalah kampung halamanmu, baiklah, aku akan membeli rumah ini!" ujar Ricky.
"Jangan Pa, biar aku saja yang mencicil rumah ini ke keluarga Om Purba, Papa tidak perlu berbuat apapun!" sergah Jonathan.
"Tapi Papa menyukai suasana rumah ini Jo, suasana yang tidak di temukan lagi di kota, pokoknya besok papa akan beli rumah ini, cash tanpa hutang!" kata Ricky sambil mulai memejamkan matanya.
Sementara itu di kamar sebelah, Lika dan Kezia juga terlihat belum tidur, mereka juga merasakan hal yang sama dengan yang Ricky rasakan, suasana malam yang mencekam dengan beraneka suara yang menakutkan.
"Sudah tidur Bu?" tanya Kezia.
"Belum Zia, kok ibu tidak bisa tidur ya!" jawab Lika.
"Untung ada ibu, kalau aku tidur sendiri aku bakal ketakutan nih Bu, Bang Jo berani juga ya selama ini tidur sendirian di rumah ini!" kata Kezia.
"Kan dia memang orang sini Nak, ya jadi sudah terbiasa lah!" sahut Lika.
"Kasihan Bang Jo ya Bu, dia jadi di musuhi sama keluarga Mbak Ratna, kelihatan sekali kalau orang tua Mbak Ratna benci sekali dengan Bang Jo!" ungkap Kezia.
"Tapi yang ibu lihat, mereka sebenarnya bukan membenci, mereka hanya iri melihat Jo!" sahut Lika.
"Iri?"
"Iri karena Jo menikah denganmu, dan keluargamu sangat menyayangi Jo, mudah-mudahan Ratna juga bisa mendapatkan kebahagiaan dan laki-laki pengganti Jo yang baik, kasihan dia!" ujar Lika.
****
Pagi datang menjelang, Binsar sudah tiba di rumah Jonathan membawakan sarapan untuk keluarga Kezia.
Sebenarnya keluarga Kezia betah tinggal berlama-lama di rumah Jonathan, namun adik-adik Kezia di rumah tidak bisa di tinggal lama-lama.
Setelah sarapan, mereka menuju ke rumah keluarga Binsar. Binsar hanya tinggal dengan Ayahnya, ibunya telah lama meninggal, Om Malin nama Ayah Binsar.
Om Malin terkesiap melihat kedatangan Jonathan dan calon keluarga barunya.
"Apa kabar Jo! Aku dengar kau merantau ke Jakarta sudah langsung menikah saja, calon mertuamu katanya orang kaya raya ya Jo, beruntung sekali kau!" kata Om. Malin sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggung Jonathan.
"Iya Om, aku ke sini mau kasih undangan pernikahanku, aku harap Om dan Binsar bisa datang ke Jakarta!" ucap Jonathan sambil menyodorkan u dangan pernikahannya.
"Wah, suatu kehormatan besar buat kami, seharusnya kami yang memberikan Jo hadiah pernikahan, Jo memang luar biasa, pasti mendiang Mama mu akan senang dan bangga Jo!" ucap Om Malin terharu.
Tiba-tiba Jonathan terdiam, dia teringat mendiang Mamanya, Mamanya yang banyak menyimpan rahasia dalam hatinya namun memiliki cinta yang besar untuk Jonathan.
Setelah dari rumah Om Malin, mereka kemudian berziarah ke makam Mamanya Jonathan.
Di makam itu Jonathan bersimpuh sambil menangis. Di saksikan oleh Kezia dan kedua orang tuanya.
"Mama, Jo datang lagi Ma, Jo tidak sendiri sekarang, Jo datang dengan Kezia, calon istri Jo, calon menantu Mama, juga calon mertua Jo, Mama bisa lihat kan, Jo bahagia sekarang, jadi Mama tak usah memikirkan kebahagiaan Jo lagi!" ucap Jonathan sambil mengusap wajahnya yang kini basah.
Perlahan Kezia merengkuh bahu Jonathan dan ikut bersimpuh di makam itu.
"Mama, aku Kezia calon istri Bang Jo, Mama jangan khawatir, kini Bang Jo tidak sendiri lagi, ada aku, ada Papa, dan ada ibu, bang Jo punya keluarga yang lengkap sekarang, semua tanggungan Mama selama ini juga sudah lunas di bayar Bang Jo, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab!" ucap Kezia sambil mengelus batu nisan makam itu.
Ricky dan Lika juga ikut duduk bersimpuh di makam itu.
"Jo akan menikah, sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga kami, semua lokasi dan makam ini akan aku beli, semuanya ini adalah milik Jonathan, kau tak perlu khawatir, Jonathan akan bahagia bersama kami!" kata Ricky.
Setelah puas melepas kerinduan pada mendiang Mamanya, Jonathan dan yang lainnya langsung pulang ke rumah Jonathan, hari sudah menjelang siang, sore nanti mereka akan segera kembali pulang ke Jakarta.
Baru saja mobil terparkir di depan rumah Jonathan, Om dan Tante Purba sudah berdiri di depan rumah Jonathan.
"Jo, kau sudah menginap satu hari di rumah itu, jadi kau wajib membayar sewa rumah itu, kau ingat kan kalau itu bukan rumah Mamamu? Dia kan selama ini cuma numpang!" seru Tante Purba.
"Berapa yang harus saya bayar Tante?" tanya Jonathan.
"Tidak perlu! Hari ini juga rumah ini akan ku beli cash beserta area makamnya!" ujar Ricky tiba-tiba.
Om dan Tante Purba nampak terkesiap.
"Rumah ini harganya di atas pasaran! Apa kalian masih mau membelinya?" tanya Tante Purba.
"Hmm, jangankan di atas pasaran, di langit pasaran pun aku akan tetap membeli rumah ini, katakan saja, berapa harganya??" tantang Ricky.
"700 Juta! Eh salah, 1 Milyar!" sahut Tante Purba.
"Baik!" Ricky lalu mengeluarkan satu lembar cek dari dalam dompetnya, dia menulis nominal angka 1 milyar dalam cek itu, setelah itu dia menyodorkan cek itu ke arah Tante Purba.
Tante Purba melotot saat melihat cek yang di sodorkan oleh Ricky.
Dengan tangan sedikit gemetar dia menerima cek pemberian Ricky itu.
"Jadi mulai hari ini rumah ini sah jadi milik Jonathan, jangan lagi ada yang mengganggu gugat, segera di buatkan surat jual belinya!" ujar Ricky.
Kemudian Tante dan Om Purba segera berjalan meninggalkan rumah itu.
"Pa, kenapa Papa beli rumah ini dengan harga 1 milyar? Padahal ini pasaran paling cuma 500 juta!" kata Jonathan.
"Sudahlah Jo, ada hal yang tidak bisa di ukur dengan uang, 1 Milyar itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kebahagiaanmu dan Kezia, anggap saja ini hadiah pernikahan kalian dari Papa!" ucap Ricky sambil mengusap bahu Jonathan.
****