Heart's Owner

Heart's Owner
Ingin Bekerja



Malam itu, Jonathan sengaja duduk menunggu Andri pulang kerja, dia duduk di bangku teras depan rumah kosnya.


Jonathan berniat mengembalikan uang yang dipinjamnya dari Andri, karena uangnya telah kembali.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ...


Suara ponsel Jonathan bergetar, dia langsung merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. Ratna meneleponnya dari Medan.


"Halo Ratna!" sapa Jonathan.


"Halo bang, gimana di sana? sudah mulai bekerja?" tanya Ratna.


"Sudah Ratna, Abang sudah di terima kerja, bahkan hari ini Abang sudah masuk kerja!" sahut Jonathan.


"Wah, syukurlah Bang, aku senang mendengarnya!" ucap Ratna.


"Iya Ratna, semoga Abang bisa betah ya kerja di sini, banyak keanehan di kota ternyata!" kata Jonathan.


"Keanehan apa Bang?"


"Yah, banyak orang stress di Jakarta Ratna, dompetku juga sempat hilang, untung bisa kembali!" ujar Jonathan.


"Ya ampun Bang, hati-hati kalau di kota, Abang kan baru pertama kali ke Jakarta, di sana ceweknya juga berani-berani lho Bang, hati-hati ya!" kata Ratna sedikit khawatir.


"Iya Ratna,"


"Bang ..."


"Ya ..."


"Aku kangen Bang! Sekarang aku lagi pandangin foto Abang, Abang baik-baik di sana ya!" ucap Ratna.


"Iya Ratna, baru beberapa hari Abang pergi, masa sudah kangen saja!" kata Jonathan.


"Dih si Abang, memangnya tidak boleh?"


"Ya boleh lah, siapa juga yang melarang orang kangen!"


Tiba-tiba motor Andri sudah terparkir di depan kosan. Setelah turun dari motornya, Andri langsung duduk di samping Jonathan.


"Ratna, sudah dulu ya, ada teman Abang, salam buat Ibu dan Bapak!" kata Jonathan yang langsung menutup ponselnya.


"Ehm ... Siapa Jo? Pacar? Kok langsung di tutup?" tanya Andri.


"Hehe, iya, baru pulang kerja?" tanya Jonathan balik.


"Iya nih, tadi ada sedikit acara di kantor, istrinya pemilik perusahaanku Pak Gio, baru saja melahirkan anak bungsunya, makanya tadi kita semua di ajak makan di restoran!" jelas Andri.


"Wah, royal sekali pemilik perusahaanmu ndri, pantas karyawannya pada makmur nih!" Ujar Jonathan.


"Pak Gio memang baik sih, dia penyayang keluarga, juga baik pada setiap karyawannya!" sahut Andri.


"Beruntungnya kau Andri!" ucap Jonathan kagum.


"Kau juga beruntung Jo, aku dengar pemilik perusahaan properti itu banyak memberikan kontribusi perumahan untuk rakyat kecil dan menengah, di jamin semua karyawan yang bekerja padanya mendapatkan rumah tinggal yang sangat layak!" jelas Andri.


"Masa sih??" Jonathan tak percaya.


"Kau lihat saja nanti setelah kau bekerja beberapa lama di sana!" sahut Andri.


Jonathan mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Ndri, aku balikin uangmu, dompetku sudah ketemu!" kata Jonathan sambil menyodorkan uang yang kemarin di pinjamnya.


"Lho, cepat sekali, uangnya masih utuh Jo?" tanya Andri.


"Iya, cuma aku kesal sama si penemu dompetku itu, dia melecehkan aku dengan menambahkan uang di dompetku, bahkan mencoret-coret foto KTP ku! Aku benar-benar geram padanya!" cetus Jonathan sambil mengeluarkan KTP nya dan menunjukannya pada Andri.


Andri langsung tertawa terpingkal-pingkal.


"Huh! Kau malah mentertawai ku!" sungut Jonathan.


"Sudahlah, barangkali kau nanti akan bertemu lagi dengan yang mengembalikan dompetmu, sepertinya dia mengagumimu!" ujar Andri.


"Jangan sampai lah! Bertemu dengannya membuat aku selalu apes dan sial, apalagi dia selalu muncul di manapun ku berada!" kata Jonathan.


"Nah, itu! Sudah ada tanda-tanda tuh bro... awas nanti kau akan jatuh cinta!" ujar Andri dengan senyum menyeringai.


"Tidak mungkin, ada pacarku yang menunggu di kampung!" Sahut Jonathan. Andri terdiam seketika.


"Pacar? Kau mencintainya?" tanya Andri.


"Yah, kami di jodohkan sejak kecil, kalau di daerah kami biasa di sebut pariban!" jelas Jonathan.


"Bagaimana perasaanmu padanya? Kau sungguh mencintai dia? Pacarmu itu?" tanya Andri kepo.


"Aku sayang sama Ratna, dia sudah seperti adikku ... lho...kok adik, sudahlah Bro! Jadi melantur ini omongan!" ujar Jonathan sambil menggaruk kepalanya.


"Sayang sebagai adik atau sebagai wanita yang benar-benar di cintai dari hati yang paling dalam?" tanya Andri lagi.


"Entahlah, pokoknya aku menyayangi dia titik! Kau cerewet sekali! Sudah ah, aku ngantuk mau tidur!" Jonathan langsung bergegas masuk ke dalam ke kamarnya.


****


Malam ini Kezia tidak bisa tidur, hatinya benar-benar sakit saat Jonathan melemparkan dia uang, belum pernah ada laki-laki yang melakukan hal itu, biasanya siapapun suka dengan uang, bahkan Robby tidak pernah menolak jika Kezia menghadiahkan sesuatu.


"Dasar sombong! Dia pikir dia siapa?? cuma karyawan baru tapi gayanya sok! Sudah berani mempermalukan aku di depan umum!!" sungut Kezia sambil memukul-mukul gulingnya.


"Awas saja! Aku akan membuat dia minta maaf padaku!!" Gumam Kezia.


Dia segera bangun dari posisi tidurnya, lalu beranjak keluar kamar menuju ruang keluarga.


Papa dan Ibunya nampak sedang bercengkrama dengan mesranya sambil menonton film. Sementara adik-adiknya sudah tidur semua.


"Papa dan Ibu bisa tidak untuk tidak mesra-mesraan di depan umum!!" Cetus Kezia. Ricky dan Lika menoleh terkejut.


"Lho, kau belum tidur Nak?" tanya Ricky yang langsung duduk dengan tegak. Tadinya dia tiduran di pangkuan Lika istrinya.


"Aku tidak bisa tidur!!" seru Kezia. Dia duduk diantara Papa dan Ibunya.


"Kamu ada apa sih Nak, sepertinya dari kemarin sikapmu aneh deh!" kata Lika sambil membelai rambut Kezia.


"Papa, mulai besok aku akan bekerja di kantor Papa, aku mau jadi marketing eksekutif, tapi Papa janji jangan bilang kalau aku ini adalah anak Papa!" ucap Kezia. Ricky dan Lika saling berpandangan.


"Tadi pagi bukannya kita sudah deal ya, Papa ijinkan kamu bekerja dengan haji standar, kita harus profesional!" sahut Ricky.


"Iya, besok aku langsung saja bekerja, anggap saja aku karyawan baru, pokoknya Papa jangan bilang kalau aku ini anak Papa!" Rajuk Kezia.


"Papa tidak bilang pun, semua direktur dan staf juga tau kalau Kezia anak Papa!" Tukas Ricky.


"Maksudnya jangan bilang sama semua Marketing eksekutif! Papa kan bisa bungkam tuh semua orang yang kenal aku!" cetus Kezia.


"Oke, Papa setuju, tapi bagaimana dengan kuliahmu sayang?" tanya Ricky.


"Aku akan ambil kuliah sore, jadi setelah di kantor Papa aku langsung kuliah, Papa tenang saja, aku tidak minta Papa mengantarku, tapi aku mau naik sepeda motor untuk transportasi ku!" sahut Kezia.


"Sepeda motor?? Lalu mobilmu bagaimana?" tanya Ricky lagi.


"Sementara aku tidak pakai mobil, aku mau pakai motor saja!" jawab Kezia.


"Sudahlah Pa, biarkan Kezia, dia sedang mencari jati dirinya!" ujar Lika.


"Oke, sampai jumpa besok Pak Ricky!!" kata Kezia sambil membalikan tubuhnya dan kembali berjalan menuju ke kamarnya.


Ricky dan Lika geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulung mereka yang telah berubah menjadi wanita dewasa itu.


****