
Jonathan melajukan mobilnya cepat setelah dia mengantar Ricky dan Lika ke Bandara.
Dia harus ke kantor, ada beberapa pekerjaan Ricky yang dia juga harus selesaikan, Jonathan juga menggantikan Ricky untuk memimpin meeting hari ini.
Tak sampai 45 menit Jonathan sudah tiba di rumah besar Ricky, setelah memarkirkan mobilnya dia langsung masuk ke dalam dan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara Kezia nampak sedang menemani adik-adiknya sarapan di meja makan, sebentar lagi supir mereka akan mengantar ke sekolah.
Setelah berganti pakaian, Jonathan langsung melangkah menuju meja makan dan duduk bergabung dengan mereka.
"Sudah rapi Bang? Sarapan dulu yuk!" Kezia dengan sigap langsung mengambilkan Jonathan sarapan.
"Bang Jo nanti malam kita main monopoli lagi ya?!" ajak Given.
"Iya Bang, seru tau!" tambah Gavin.
"Oke deh, nanti malam kita main lagi!" sahut Jonathan.
"Yesss!!!" sahut Given dan Gavin senang.
"Bang Jo mau langsung berangkat ya?" tanya Kezia.
"Iya sayang, banyak kerjaan di kantor, Abang jiga harus menggantikan tugas Papa sementara!" jawab Jonathan.
Jonathan cepat-cepat menghabiskan makanannya, kemudian langsung berdiri dari duduknya.
Kezia mendekati suaminya itu sambil membersihkan bibir Jonathan dan merapikan dasi yang di pakai Jonathan.
"Kau hati-hati ya Bang, maaf nanti siang aku tidak bisa mengantar makan siang mu, aku harus menjaga dan menemani adik-adik!" ujar Kezia.
"Tidak apa-apa sayang, adik-adik kan amanat, lebih penting dari sekedar makan siang Abang!" ucap Jonathan yang langsung melangkah menuju ke arah halaman depan di mana mobilnya terparkir.
"Bang Jo jangan terlalu berbaik hati sama wanita, aku tidak suka!" cetus Kezia.
"Kapan Bang Jo berbaik hati dengan wanita?" tanya Jonathan.
"Waktu itu sama Linda, Bang Jo lupa? Wanita akan mudah baper kalau di baikin sama laki-laki, apalagi laki-lakinya tampan kayak Abang!" jawab Kezia.
"Jadi Kezia cemburu nih?" tanya Jonathan.
"Sedikit!" sahut Kezia.
"Duh, senangnya di cemburuin istri, Kezia tenang saja, hati Abang kan cuma milik Kezia, apalagi Abang akan punya anak sebentar lagi!" ucap Kezia sambil mengelus perut Kezia.
"Saat, jangan pegang-pegang perut Bang, nanti ketahuan kalau aku hamil!" sergah Kezia.
"Tadi di jalan, Ibu sempat tanya kok sekarang Kezia gemukan, hampir saja Bang Jo keceplosan bilang Kezia lagi hamil!" ujar Jonathan.
"Jangan bilang sekarang dulu Bang, nanti kita akan cari waktu yang tepat, oke? Sekarang berangkat deh Bang, sudah siang ini!" ucap Kezia sambil mengecup bibir Jonathan.
Sambil tersenyum Jonathan segera masuk ke dalam mobilnya itu.
"Jaga dirimu dan Dedek baik-baik ya sayang!" ucap Jonathan.
"Iya Papi Jo!" sahut Kezia cekikikan.
"Hah? Papi?" Jonathan menggaruk kepalanya.
"Iya, aku ingin anak kita memanggilmu Papi Jo, kalau Papa kan sudah pasaran, nanti Papa Ricky merasa tersaingi lagi!" ujar Kezia.
Setelah Jonathan sudah keluar dari rumahnya, Kezia langsung masuk ke dalam, Adik-adiknya sudah berangkat sekolah dia antar supir, Kezia lalu pergi ke dapur.
Mbok Narti nampak sedang membereskan dapur, dia heran melihat Kezia yang tiba-tiba masuk membuka kulkas nampak sedang mencari sesuatu.
"Mbok Narti tidak punya mangga ya?" tanya Kezia.
"Mangga? Tidak ada Non, lagian Mangga kan lagi tidak musim!" jawab Mbok Narti.
"Mbok, Carikan aku mangga dong, aku lagi pengen banget makan mangga, kalau tidak ada mangga belikan rujak saja deh!" pinta Kezia.
"Rujak! Tumben Non Kezia suka makan rujak, biasanya paling benci makan yang asam-asam!" gumam Mbok Narti sedikit bingung.
"Orang lagi pengen gimana dong Mbok!" sahut Kezia.
"Ya sudah, habis ini Mbok belikan deh mangga atau rujaknya!" kata Mbok Narti akhirnya. Kezia tersenyum senang.
"Yeaaay!!" seru Kezia.
Seharian ini Kezia menghabiskan waktu di kamarnya sambil menunggu adik-adiknya pulang sekolah.
Dia menonton drama Korea sambil menikmati rujak yang baru saja di belikan mbok Narti.
****
Sementara itu di kantor, sehabis memimpin meeting pagi, Jonathan langsung bergegas ke ruangannya, dia membawa beberapa dokumen milik Ricky, ada yang harus dia kerjakan.
Jonathan butuh konsentrasi untuk belajar memenangkan sebuah proyek besar yang sedang di kerjakan Ricky.
Apalagi Jonathan selalu teringat akan pesan dari Nenek buyut untuk membantu pekerjaan Ricky, entah mengapa, pesan itu sekarang menjadi kenyataan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" seru Jonathan dari dalam.
Dita masuk sambil membawa beberapa map seperti biasa.
"Ada proposal yang harus Pak Jo pelajari dan tanda tangani!" kata Dita.
"Taruh saja di meja Dit, aku sedang banyak kerjaan!" sahut Jonathan.
"Istri Bapak tidak ikut? Syukurlah, saya lebih tenang kalau dia tidak ada!" cetus Dita.
"Apa kau bilang Dit? Berani kau menjelek-jelekan istriku akan ku pindahkan kau ke bagian lain! Aku tidak suka orang yang bawel dan cerewet!" cetus Jonathan.
"Oke deh Pak, sekedar berargumentasi boleh dong, istri Bapak kayak singa betina yang kelaparan, yang siap memangsa siapa saja!" ujar Dita.
"Dita! Keluar dari ruanganku sekarang juga!" hardik Jonathan.
"Siap Pak!" Dita dengan cepat beranjak keluar dari ruangan itu.
Jonathan menarik nafasnya meredam semua emosinya. Dita benar-benar sangat menyebalkan, rasanya Jonathan ingin sekali memecatnya, namun dia harus menghargai Ricky, karena Ricky yang merekomendasikan Dita untuk menjadi sekertarisnya.
****