
Jonathan masih mengobrol dengan Pak Arif, asisten Ricky pada sore hari menjelang pulang kantor.
Pak Arif menjelaskan mengenai tugas dan tanggung jawab Direktur, juga segala fasilitas yang akan di dapat.
"Jadi untuk Direktur, gaji pokoknya itu 50 juta Pak? Belum termasuk tunjangan dan lain-lain?" tanya Jonathan terkesiap.
"Benar Pak Jo, untuk fasilitas kendaraan, mobilnya sudah terparkir di parkiran kantor, ini kunci dan STNK nya!" Pak Arif menyerahkan sebuah kunci mobil berikut suratnya.
"Wah, trimakasih Pak!" sahut Jonathan senang.
"Jangan berterimakasih sama saya Pak Jo, ini memang sudah ketentuan dari perusahaan!" jelas Pak Arif.
"Kalau begitu aku permisi dulu ya Pak, ehm ... Kezia sudah menungguku di bawah!" pamit Jonathan tersipu.
"Oh, tunggu Pak Jo, ini sekalian kunci apartemen di bawa, sudah siap huni full furnished, jadi Pak Jo tinggal bawa diri saja, tempat tidur, lemari, kitchen set semua sudah tersedia!" Pak Arif membuka laci meja dan menyerahkan sebuah kunci apartemen.
"Trimakasih Pak Arif, saya mohon diri!" ucap Jonathan yang langsung beranjak meninggalkan ruangan Pak Arif.
Dia langsung turun ke bawah, ke lantai satu, Kezia sudah duduk menunggunya di lobby.
"Maaf Zia, lama ya, tadi aku banyak mengobrol dengan Pak Arif!" kata Jonathan yang langsung duduk di samping Kezia.
"Santai saja Bang, aku maklum kok, Bang Jo kan harus banyak belajar, apalagi sekarang sudah naik jabatan!" ujar Kezia.
"Iya Zia, sekarang Bang Jo banyak dapat fasilitas dari perusahaan, nih kunci mobil dan kunci apartemennya!" Jonathan menunjuk kan dua kunci di depan Kezia.
"Wah, yuk lihat mobilnya Bang, kebetulan nih aku tadi naik taksi, Papa bilang aku naik taksi saja ke kantor, ternyata Abang sudah dapat fasilitas mobil!" ujar Kezia.
Jonathan langsung menarik tangan Kezia ke parkiran mobil, benar saja, di sana sudah terparkir dengan cantik sebuah mobil keluaran terbaru, Jonathan takjub memandangnya.
"Oh My God! Bagus betul mobilnya Zia, masa perusahaan kasih fasilitas mobil sebagus ini sih?" tanya Jonathan nyaris tak percaya.
"Sudah deh Bang, naik yuk! Kita langsung ke mall ya Bang!" kata Kezia.
Jonathan mulai naik ke dalam mobilnya, dia lalu mulai menyalakan mesin mobilnya. Wajahnya kelihatan berbinar.
Kemudian mobil itu segera melaju meninggalkan kantor itu.
Sekitar 30 menit perjalanan, mereka kemudian sampai di sebuah mall yang cukup besar.
Setelah memarkir mobilnya, Jonathan langsung di gandeng oleh Kezia jalan memasuki mall itu, hawa sejuk mulai menyegarkan kulit mereka, Kezia langsung mengajak Jonathan ke sebuah butik yang khusus menjual pakaian formal pria.
"Nih Bang, banyak kan pilihannya, Bang Jo pilih deh mana yang di suka!" kata Kezia sambil menunjukkan beberapa jas formal beserta kemejanya.
"Aduh, semua bagus-bagus Zia, Kezia saja deh yang pilihkan, Bang Jo pasti suka semua!" sahut Jonathan.
Akhirnya Kezia memilihkan beberapa.
"Cobain dulu Bang, siapa tau kesempitan atau kebesaran, tuh kamar gantinya!" Kezia menunjuk ke sebuah bilik yang ada di sudut ruangan itu.
Jonathan kemudian mencoba beberapa pakaian, lalu menunjukannya di depan Kezia.
Kezia terkesiap melihat Jonathan yang kini mengenakan stelan jas formal.
"Ya ampun Bang, keren banget Abang! Pokoknya Abang harus beli beberapa yang ini, Bang Jo cocok banget pakai ini Bang!" seru Kezia.
Kezia lalu mengambil beberapa stel jas dan perlengkapannya.
Tak lupa mereka juga ke toko sepatu, Kezia memilihkan Jonathan sepatu yang terbagus dan termahal.
Mereka baru selesai belanja ketika matahari sudah terbenam.
"Lapar Bang! Makan yuk!" ajak Kezia.
"Kezia mau makan apa?" tanya Jonathan.
"Apa saja lah yang Bang Jo suka, dari tadi aku terus yang pilihkan!" sahut Kezia.
"Kalau Bang Jo mau makan sate Ayam yang ada di pinggir jalan Zia, enak deh, apalagi pakai lontong!" ujar Jonathan.
"Yah si Abang, kita keluar dari sini dong?" tanya Kezia.
"Abang cukup memangnya beli semua itu tadi, kurang banyak bajunya Bang!" jawab Kezia.
"Cukup Zia! Nanti kalau kurang Bang Jo akan beli pakai uang pribadi Abang, Abang tidak mau semua tergantung sama calon mertua Abang!" sergah Jonathan.
"Tapi kan Bang, tadi Papa pesan kalau bang Jo harus ..."
"Tidak Zia, mendapat restu darinya saja Bang Jo sudah bahagia, ijinkan Bang Jo membahagiakan Kezia dengan apa adanya Abang, bukan dari support Papa Kezia, please ..." ucap Jonathan.
"Iya deh Bang ... yuk kita keluar saja cari sate!" kata Kezia akhirnya.
Mereka langsung menuju ke parkiran mobil.
"Wah wah wah .... ada yang baru belanja-belanja nih, lagunya sudah sok jadi orang kaya!!" tiba-tiba ada suara yang muncul dari samping mobil Jonathan yang terparkir.
Mereka langsung menoleh ke arah mobil yang juga terparkir di sebelahnya.
"Robby!! Kau lagi kau lagi!!" sungut Kezia.
"Kalau kita sering bertemu, itu namanya kita jodoh sayang!" sahut Robby yang kini keluar dari dalam mobilnya.
"Tutup mulutmu!!" sentak Jonathan.
Robby tertawa sambil menepuk bahu Jonathan.
"Kau ini orang kampung, mau di poles bagaimanapun tetap orang kampung! Sudahlah Bro! Kau tidak cocok untuk Kezia! Kezia itu hanya cocok menjadi pendampingku!" cetus Robby.
"Diam kau Rob!! Asal kau tau ya, Papaku sudah merestui hubungan aku dengan Bang Jo! Jadi kau tak usah mengejarku lagi! Oya, aku lupa, Bang Jo ini sekarang adalah direktur marketing di perusahaan Papa! Jadi kau jangan lagi menganggap dia remeh! Paham?!" sentak Kezia.
Lalu dengan cepat Kezia menarik tangan Jonathan untuk segera masuk ke dalam mobil.
Robby masih berdiri termangu sambil menatap kepergian mereka.
"Kurang ajar Robby! Ku kira di sudah hilang di telan bumi, ternyata masih berkeliaran!" sungut Kezia.
"Dia masih mengharapkan Kezia kembali kelihatannya, Bang Jo tidak akan rela!" ujar Jonathan.
"Sudahlah Bang! Lupakan si parasit itu, lebih baik kita makan sate, perutku lapar dari tadi!" cetus Kezia.
"Oke sayang, nanti di depan ada tukang sate enak, Kezia pasti akan ketagihan makannya!" kata Jonathan.
Tring ... Tring ...
Terdengar suara notifikasi dari ponsel Jonathan.
Jonathan lalu segera menepikan mobilnya dan membuka ponselnya. Lalu dia segera membaca pesan singkat yang ada di ponselnya itu.
"Ya Tuhan! Andri!" pekik Jonathan tertahan.
"Ada apa Bang?!" tanya Kezia.
"Cafe Mbak Rosi kebakaran Zia!" sahut Jonathan.
"Hah? Kebakaran? Kita langsung ke sana deh Bang!" ujar Kezia cemas.
"Tapi Zia, katanya kau lapar? Bang Jo tidak mau pacar Abang kelaparan!" sergah Jonathan.
"Lalu bagaimana Bang?" tanya Kezia.
"Kita tetap beli sate dulu, nanti makan di mobil, Bang Jo yang akan suapin Kezia supaya tidak repot, oke sayang?" Jonathan mengelus rambut Kezia.
"Iya deh Bang!" jawab Kezia.
Merekapun segera kembali melaju meninggalkan tempat itu.
****
Jangan lupa dukungannya guys ... Vote Like dan Komen ...
Trimakasih ...