
Ratna yang pulang tanpa pamit pada Jonathan, membuat hati pemuda itu merasa bersalah, apalagi dia sudah terlanjur jujur pada Ratna tentang perasaannya yang sebenarnya.
Perkataan Jonathan sudah menorehkan luka di hati Ratna. Beberapa kali Jonathan menelepon, namun tidak sekalipun Ratna menjawab panggilannya.
Hingga akhirnya Jonathan menelepon Binsar, sepupunya yang juga dekat dengan keluarga Ratna.
"Halo Jo!"
"Halo Bang Binsar, Ratna sudah kembali ke Medan, tolong beritahu aku kalau dia sudah sampai!" kata Jonathan.
"Kenapa kau tidak menanyakannya langsung? Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Binsar.
"Panjang ceritanya Bang, nanti lah lain waktu akan ku ceritakan padamu, pokoknya aku minta tolong kabari aku kalau dia sudah sampai!" jawab Jonathan.
"Oke deh!" sahut Binsar.
Kemudian Jonathan mematikan ponselnya.
Tepukan di bahu Jonathan membuyarkan lamunan Jonathan, Andri sudah duduk di sampingnya.
"Lagi galau Bro!" tanya Andri.
"Iya, sepertinya Ratna marah dan kecewa padaku, sampai sekarang belum bisa di hubungi!" jawab Jonathan.
"Sabar Jo, namanya wanita, nanti kangen juga dia telepon!" sahut Andri.
"Aku takut dia sakit dan kecewa, selama ini aku tidak pernah menyakiti hatinya!" ucap Jonathan.
"Sebagai laki-laki kau juga harus tegas menentukan pilihan, kecuali kalau kau mau poligami!" cetus Andri.
"Hush! Enak saja, tidak ada dalam kamus ku poligami, kau kira cintaku bisa di bagi-bagi??!" sahut Jonathan. Andri tertawa.
"Kau ini lucu Jo, sebenarnya siapa sih wanita yang kau cintai? Susah kali mulutmu ngaku gitu, kenapa malu?" tanya Andri menggoda.
"Bukan, aku belum pede karena aku belum mapan, mana berani aku melamar dia saat ekonomi masih pas Pasan begini!" ungkap Jonathan.
"Dia ini siapa?? Ratna atau Kezia??" tanya Andri lagi.
"Kezia lah siapa lagi!" sahut Jonathan.
"Nah, tuh, ngaku kalau Kezia, bilang dari tadi lah Jo! Lebih baik kau tembak si Kezia secepatnya lah, nanti keburu di samber orang dia!" usul Andri.
"Tapi kalau aku di tolak gimana Bro?" tanya Jonathan.
"Hahahaha, kau ini lucu Jo, masa takut di tolak, kalau pun kau di tolak ya terima saja! Dari pada rasa yang di pendam sendirian!" sahut Andri sambil tertawa.
"Oke deh, nanti aku akan cari waktu buat nembak Kezia, kira-kira kalau nembak pakai bunga atau coklat?" tanya Jonathan.
Andri langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan Jonathan.
"Pakai cincin! Biar afdol, aku sarankan kau banyak-banyak buka internet, belajar bagaimana cara menyatakan cinta!" usul Andri.
"Baiklah, aku akan belajar dari internet!" kata Jonathan.
"Memangnya dulu kau tidak pernah nembak Ratna?" tanya Andri heran.
"Dulu aku di jodohkan, tidak ada pakai tembak-tembakan, karena aku tidak ada pilihan, ya aku setuju saja!" jawab Jonathan.
"Hmm, pantesan kamu bodoh dalam hal beginian, ya sudah, lanjutkan aksimu, aku mau siap-siap dulu!" kata Andri yang langsung berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Jonathan.
"Mau beres-beres barang, besok pagi aku dan Rosi mau pulang kampung, kita nikah adat dulu di kampung, setelah balik kesini, Pak Gio menyediakan fasilitas restoran buat aku bikin resepsi!" jelas Andri.
"Waah, hebat! Makin kagum aku sama Pak Gio, sudah beli rumah dari aku, kasih karyawannya fasilitas, andai Pak Ricky juga begitu, saat aku menikah aku di beri fasilitas kayak kamu!" ungkap Jonathan.
"Yah, berdoa saja kamu bisa seperti aku, dapat banyak fasilitas dari owner perusahaan!" sahut Andri yang langsung ngeluyur pergi meninggalkan Jonathan sendirian.
*****
Sore itu setelah pulang kerja, Jonathan langsung bergegas mandi, dia memakai pakaian dalam dan baju yang di belikan Kezia untuknya.
Setelah rapi dan wangi, Jonathan langsung meraih ponselnya, dengan dada sedikit berdebar, Jonathan mulai menekan nomor ponsel Kezia.
Setelah menunggu sekian menit, panggilan Jonathan pun mendapat respon.
"Halo ..."
"Aku baru pulang kuliah Bang, baru banget nih sampe rumah!" jawab Kezia.
"Bagus! Aku jemput ke rumahmu ya!" ujar Jonathan.
"Jangan! Aku belum siap! Kita janjian aja deh! Cod gitu loh!" kata Kezia.
"Dimana?"
"Di Joy Cafe, nanti aku share lokasi deh!" jawab Kezia.
"Oke, aku tunggu share lokasinya, aku langsung meluncur sekarang nih!" ujar Jonathan.
"Oke Bang!" sahut Kezia.
*****
Kezia langsung buru-buru berganti pakaian dan memoles wajah nya seadanya, kemudian dia menyambar tasnya dan keluar kamar dengan mengendap-endap lewat pintu belakang.
Mbok Narti yang sedang mencuci piring heran melihat Kezia yang berjalan pelan-pelan sambil menjinjing sepatunya.
"Lho, mau kemana malam-malam Non Kezia?" tanya Mbok Narti.
"Ssst, jangan berisik Mbok, aku mau kerumah teman, Papa tidak akan ijinkan aku kalau keluar rumah malam-malam!" sahut Kezia.
"Tapi, nanti kalau ketahuan bagaimana?" tanya Mbok Narti cemas.
"Asal Mbok Narti tidak bilang, Papa tidak akan tau! sahut Kezia cuek sambil keluar dari pintu dapur. Mbok Narti hanya geleng-geleng kepala.
Setelah berhasil keluar dari rumahnya, Kezia langsung memesan taksi online, dia segera menuju Joy Cafe yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Jonathan sudah duduk menunggu Kezia, malam ini Jonathan berniat akan mengutarakan perasaannya pada Kezia, sedari tadi jantung nya tidak berhenti berdebar.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya Kezia sampai juga di Joy Cafe, nafasnya turun naik karena dia jalan terburu-buru.
"Eh Bang Jo, dah sampai duluan, maaf Bang, untung Bang Jo tau Joy Cafe!" kata Kezia sambil duduk di hadapan Jonathan.
"Tidak apa-apa Kezia, kamu mau pesan makan apa?" tanya Jonathan.
"Terserah Bang Jo saja, aku ikut!" jawab Kezia.
"Kita makan nasi goreng mau tidak Zia?" tanya Jonathan lagi.
"Jangan makan berat lah Bang, ini kan sudah malam, aku pesan kebab saja deh, sama jus jambu!" kata Kezia.
"Oke deh, aku juga sama pesan kebab sama jus jambu!" kata Jonathan.
"Dih, Bang Jo ikut-ikutan!" cetus Kezia.
"Kan biar sehati!" sahut Jonathan.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang, mereka pun mulai makan dengan perasaan yang saling canggung.
"Mbak Ratna sudah pulang ke Medan Bang?" tanya Kezia.
"Sudah," sahut Jonathan singkat.
"Hmm, enak ya yang habis ketemu sama pacar, pasti sepanjang hari jalan-jalan, kangen-kengenan ..." ucap Kezia.
"Tidak juga, dia malah pulang begitu saja tanpa pamit, gara-gara ..." Jonathan menghentikan ucapannya.
"Gara-gara apa Bang?" tanya Kezia kepo.
"Gara-gara dia lihat ada foto kamu di ponselku!" jawab Jonathan.
Kezia terkesiap mendengar perkataan Jonathan.
"Apa? Bang Jo gimana sih!! Ya jelas Mbak Ratna marah, Bang Jo sih lupa hapus fotoku, gimana sih!!" sengit Kezia.
"Bang Jo bukannya lupa Kezia, Bang Jo memang sengaja tidak mau hapus foto Kezia di ponsel Abang ..." ucap Jonathan.
Untuk sesaat lamanya Kezia kembali tertegun mendengar ucapan Jonathan.
*****