
Kezia mengusap layar ponsel Jonathan, lalu dia mulai berbicara dengan Ratna.
"Halo ..." sapa Kezia.
"Halo, ini Kezia ya, Bang Jo nya mana?" tanya Ratna.
"Bang Jo lagi sakit Mbak, sekarang dia di rawat di rumah sakit!" jawab Kezia.
"Apa? Bang Jo sakit? Kamu gimana sih Kezia! Kamu tidak bisa ya jaga Bang Jo, sampai dia sakit dan masuk rumah sakit, selama ini Bang Jo jarang sakit dan tidak pernah di rawat tau!" cetus Ratna.
"Eh, dia sakit, sakit karena ... kecapean mungkin Mbak!" tukas Kezia yang bingung mau menjawab apa.
"Kata nya kau sayang sama bang Jo, baru juga sebentar jalan sama kamu dia sudah masuk rumah sakit! Mana Bang Jo Kezia? Aku mau bicara!" kata Ratna.
Kezia langsung menyodorkan ponsel itu ke arah Jonathan yang masih memejamkan matanya.
"Bang Jo, Mbak Ratna mau bicara nih!" ujar Kezia sambil mengguncang lembut Jonathan.
"Abang pusing Zia, Kezia saja!" gumam Jonathan lirih.
"Tapi dia mau bicara sama Abang, sebentar saja Bang!" desak Kezia.
Akhirnya Jonathan meraih ponselnya dan memasang pengeras suara di ponsel itu.
"Halo Ratna ..." ucap Jonathan.
"Bang, gimana kondisi Abang sekarang? Abang sakit apa? Apa aku perlu kesana Bang?" tanya Ratna beruntun.
"Jangan Ratna, bang Jo tidak apa-apa, Ratna jangan khawatir!" sahut Jonathan.
"Nanti aku paketin obat herbal sama madu ya bang ke kosan Abang!" kata Ratna.
"Jangan Ratna, Abang tidak apa-apa, kau tak usah repot-repot!" sergah Jonathan.
"Tapi Bang ..."
"Cukup Ratna, maaf ... Abang butuh istirahat, kepala Abang pusing kalau bicara terlalu banyak!" Jonathan lalu mematikan ponselnya dan kembali menyerahkan pada Kezia.
"Mbak Ratna perhatian banget Bang!" kata Kezia.
"Iya, terlalu berlebihan malah!" sahut Jonathan.
"Kelihatannya Mbak Ratna masih cinta sama Bang Jo!" ujar Kezia.
"Iya Zia, Abang juga tau!" sahut Jonathan yang masih memejamkan matanya.
Kezia lalu menyelimuti tubuh Jonathan, suhunya sedikit turun.
"Kezia bobo sini, biar Bang Jo tenang!" Jonathan menepuk dadanya.
Perlahan Kezia kembali merebahkan kepalanya di dada Jonathan.
"Udah tidur Bang, istirahat!" ucap Kezia.
Jonathan pun mulai tertidur dan tidak bicara lagi.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Nando adiknya Kezia sudah masuk dengan wajah cemberut.
"Huh! Orang mau liburan ke Jakarta malah di suruh jaga orang sakit, padahal dua hari lagi aku mau pulang ke Malaysia!" sungut Nando.
Nando langsung menghempaskan tubuh nya di sofa ruangan itu.
"Ssst! Jangan berisik Do! Bang Jo baru tidur!" sergah Kezia.
"Sudah kak Kezia pulang saja sana, biar aku yang nunggu pacarmu ini!" kata Nando sambil menyodorkan kunci mobil.
"Do, kakak mau di sini jaga Bang Jo, lagian juga Papa udah ijinin kok!" cetus Kezia.
"Halah! Kak Kezia modus! Bilang saja mau nempel sama si Abang marketing itu!" ujar Nando.
"Kau sama saja kayak papa Do! Nyebelin!" sungut Kezia.
"Biarin!" sahut Nando yang langsung berbaring di sofa dan beranjak tidur.
Kezia kembali duduk di kursi samping ranjang Jonathan, dia belum bisa memejamkan matanya. Rasa kantuknya hilang seketika.
Kezia lalu membuka-buka ponsel Jonathan. Di galeri ada banyak sekali foto Kezia, bahkan tidak ada foto wanita lain selain Kezia.
Kezia tersenyum bahagia. Lalu dia mendekat lagi ke arah Jonathan yang kini sudah tertidur pulas.
"Trimakasih ya Bang, suami masa depanku!" bisik Kezia sambil kembali mengecup pipi dan bibir Jonathan.
"Orang lagi tidur tidak usah di ciumin juga kali!" celetuk Nando tiba-tiba. Kezia terkejut.
"Tidur, tapi masih bisa ngintip kelakuan kakak!" cetus Nando.
"Iih sudah sana tidur lagi!" sungut Kezia yang kini menjauh dari Jonathan. Nando tertawa cekikikan.
"Baru kali ini aku lihat kakak cinta mati sama cowok!" ujar Nando.
"Ya gitu deh Do, Bang Jo ini pelabuhan Terakhir kakak!" ucap Kezia.
"Kayak Papa dan Ibu saja Pelabuhan terakhir!" sahut Nando yang kini mulai menguap beneran.
*****
Pagi-pagi sekali, Nando pamit pulang duluan untuk persiapan pulang ke Malaysia, karena liburannya sudah berakhir.
Jonathan sudah bangun dan kini dia di suapi bubur oleh Kezia.
"Aku pulang ya Kak, kita akan ketemu di liburan berikutnya!" ucap Nando.
"Trimakasih ya Do, kamu sudah bantu kakak meluluhkan hati Papa!" sahut Kezia.
"Papa luluh karena perjuangan si Abang marketing! Aku cuma ngomporin saja kok!" kata Nando.
"Tapi kau banyak berjasa juga calon adik ipar!" ujar Jonathan.
"Jaga kakakku Bang! Jangan buat dia menangis lagi seperti yang di lakukan mantannya dulu!" kata Nando.
"Kau tenang saja, Kakakmu akan bahagia bersamaku, karena kita telah melewati banyak ujian!" sahut Jonathan.
Nando akhirnya keluar dari ruangan itu, selang beberapa menit kemudian, muncullah teman-teman kantor Jonathan yang hendak menjenguk Jonathan.
"Wah, kau ini kerja siang malam kenapa malah berakhir di rumah sakit Jo?" tanya Beni.
"Biasa lah, namanya juga perjuangan!" sahut Jonathan yang masih terlihat lemah.
Kezia membersihkan sisa makanan di bibir Jonathan.
"Hmm, kalian hanya berdua saja sejak semalam?" tanya Rita.
"Tidak Mbak, semalam ada Nando adikku yang menemaniku!" jawab Kezia.
"Pak Ricky sudah tau belum tentang hubungan kalian??" tanya Rita lagi.
"Sudah dong, malah sekarang aku sudah dapat restu lho dari calon mertua masa depan!" sahut Jonathan senang.
Wajah Rita berubah mendung.
"Kau beruntung sekali Jo, bisa langsung naik pangkat kau! Besok sudah tidak ada marketing yang bernama Jonathan lagi dong!" goda Beni.
"Ah kau ini Ben, tetap saja jabatan ku marketing! Mana bisa pacar di hubungkan dengan pekerjaan!" kata Jonathan.
"Lho, kau lupa Pak Ricky itu owner di kantor kita, masa calon menantunya hanya jadi marketing macam kita ini!" tambah Beni.
Tak lama kemudian Andri dan Rosi muncul dari arah luar, Andri langsung menyodorkan tas yang berisi baju-baju Jonathan.
"Ini titipanmu Jo! Semalam berarti kau tidak pakai baju dong?" tanya Andri.
"Tidak, tapi kepala Kezia yang menutupi dadaku, makanya hangat terus!" jawab Jonathan.
"Bang Jo ih, jangan terlalu jujur juga kali!" sungut Kezia yang wajahnya mulai memerah.
Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa kecuali Rita.
"Waduh Jo! Kalau begini kau pasti langsung sembuh!" cetus Beni.
"Obatnya Jonathan kan cuma Kezia!" tambah Rosi.
Sedang asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba Ricky dan Lika muncul dan langsung masuk ke ruangan itu. Semua orang menunduk hormat.
"Selamat pagi Pak Ricky!" sapa mereka bersamaan.
"Hmm, Pagi ... kalian bagus juga ya rasa solidaritas nya, menjenguk teman yang sakit!" ujar Ricky.
"Iya dong Pak, biar tim kita makin solid sebagai sesama marketing!" jawab Beni.
"Tapi mulai besok, Jonathan tidak lagi menjadi marketing, karena penjualan dia bagus bulan ini, bahkan mendapat predikat top marketing! Dia akan ku angkat sebagai direktur marketing, kalian semua harus belajar banyak dari dia!" jelas Ricky.
Semua orang yang ada di ruang itu terperangah mendengar perkataan dari Ricky.
****
Tetap semangat dukung Author ya ...
Love you all ...