
Kezia yang melihat bunga mawar merah ada di atas meja, langsung beranjak mendekatinya, di ambilnya bunga itu lalu mengamatinya dengan seksama.
Tidak ada yang aneh dari bunga itu, namun belum di ketahui siapa yang meletakan bunga itu di meja kerja Jonathan.
Ceklek!
Lagi-lagi terdengar pintu yang di buka dari luar.
Dita, sekertaris Jonathan langsung masuk.
"Maaf, Pak Jo nya belum datang ya?" tanya Dita.
Kezia menoleh lalu menatap tajam ke arah Dita.
"Lain kali kalau masuk ruangan itu ketuk pintu dulu!" hardik Kezia.
"Maaf, lain kali aku akan ketuk pintu, tadi aku terbiru-buru karena hendak menanyakan proposal yang harus Pak Jo pelajari!" ujar Dita.
"Tapi dia belum datang! Oya, apakah kau tau siapa yang meletakan bunga mawar ini di meja kerja calon suami saya?" tanya Kezia dengan mata penuh selidik.
"Aku tidak tau!" sahut Dita.
"Tidak tau? Bukankah kau sering keluar masuk ke ruangan ini??" tanya Kezia lagi.
"Tapi aku sungguh-sungguh tidak tau, bukankah di kantor ini ada begitu banyak karyawan? Mungkin salah satu dari mereka!" jawab Dita.
"Hmm, baiklah, aku akan mencari tau sendiri, sekarang kau boleh keluar, dan ingat, jangan coba mendekati atau menyukai direktur mu itu, karena dia sudah ada yang punya!" tegas Kezia.
"Iya, aku cukup tau diri kok, lagi pula aku bekerja untuk kebutuhan hidup, aku mana punya waktu untuk memikirkan yang lain! Permisi!" kata Dita yang langsung melangkah keluar dari ruangan itu.
Hari sudah menjelang siang, Kezia masih duduk menunggu di ruangan Jonathan sambil sesekali dia memainkan ponselnya.
Tring ... Tring ...
Ada suara pesan notifikasi dari ponsel Kezia.
Buru-buru Kezia membuka ponselnya, ternyata ada pesan singkat dari jonathan.
[Kezia sayang, aku dan Papamu sedang di kantin kantor mau makan siang, kamu masih diruanganku kan? Yuk turun kebawah, kita makan siang bareng!]
[Iya Bang, tunggu sebentar!]
Setelah membalas pesan singkat jonathan, Kezia langsung menyambar tasnya dan cepat-cepat turun ke lantai satu.
Di kantin kantor, Pak Ricky dan Jonathan nampak duduk di sebuah meja ekslusif yang cukup besar.
Kezia langsung menghampiri mereka. Lalu duduk bergabung dengan mereka.
Semua mata karyawan yang sedang istirahat makan siang mengarah kepada mereka.
Di meja yang lain, Beni, Rita dan beberapa marketing yang lain juga nampak sedang makan di meja bundar, mereka sekalian makan sambil membahas planing pameran untuk pemasaran rumah.
"Duh, beruntungnya tuh si Jo, makan siang sama calon mertua dan calon istrinya, ck ck ck makin iri aku, padahal baru saja ada gosip yang beredar di media sosial!" ungkap Beni.
"Sudah Ben! Kau fokus saja sama pekerjaanmu, jangan mengurusi yang bukan urusanmu!" cetus Rita.
Sementara di meja Jonathan, laki-laki itu nampak lahap menyantap makanannya, kegiatan bersama Ricky dari pagi sampai siang ini cukup menguras tenaganya.
"Baik Pak, tapi saya belum sempat keruangan saya lho pak, mana tau ada yang harus saya pelajari dan tandatangani!" jawab Jonathan.
"Besok pagi saja kau lanjutkan pekerjaanmu itu, yang penting putriku harus pulang ke rumah, sebentar lagi kan mau ujian skripsi!" tambah Ricky.
"Papa gimana sih, Bang Jo kan juga harus menyelesaikan pekerjaannya, lagian aku bisa kok menunggu di ruangan Bang Jo!" sergah Kezia.
"Betul Pak, walau bagaimana kan saya harus bertanggung jawab dengan pekerjaan saya, masa saya tinggal begitu saja, Pak Ricky tidak mau kan calon menantunya malas bekerja!" timpal Jonathan.
"Kalian ini! Bilang saja kalian masih mau berduaan, terserah! Pokoknya Kezia jangan terlalu lama pulang ke rumah, aku mau naik ke atas dulu, sudah lama aku tidak membuka akunku!" kata Ricky setelah menyelesaikan makan siangnya.
"Pa! Papa kan sudah tua, tidak baik buka akun atau sosmed Pa, lebih baik baca buku atau melakukan apa kek!" ujar Kezia tiba-tiba.
"Lho, tumben kamu melarang Papa buka akun sendiri, suka-suka Papa dong, kan Papa juga mau gaul, tau informasi!" sahut Ricky.
"Mending Papa telepon ibu saja, mana tau ibu lagi kangen di rumah sama Papa!" cetus Kezia.
"Hmm, kalau soal ibumu, dari tadi Papa juga sudah chat, nanti malam Papa malah mau ajak Ibu ke bioskop, nonton film romantis!" sahut Ricky.
"Dih, nonton berdua saja, tidak ingat anak!" sungut Kezia.
"Makanya nanti kau cepat pulang, jaga adik-adikmu, Papa habis dari kantor langsung jemput ibumu!" kata Ricky.
"Saya kagum akan keromantisan Bapak, boleh dong saya di ajari Pak, saya kurang bisa romantis sama Kezia, maklum Pak saya belum pernah nonton film romantis seperti Bapak!" timpal Jonathan tiba-tiba.
Tiba-tiba Ricky tertawa keras hingga menjadi pusat perhatian semua yang ada di ruangan itu.
"Kasihan sekali kau calon menantu kesayanganku, kau ini benar-benar lugu, nanti aku akan mengajarimu bagaimana membuat hati wanita bahagia!" seru Ricky sambil menepuk bahu Jonathan.
Wajah Jonathan merah seketika menahan malu, karena hampir semua orang menoleh kepadanya.
"Papa Ish! Bikin malu!" sungut Kezia cemberut.
"Kezia bahagia justru karena keluguan saya Pak!" ucap Jonathan. Ricky semakin keras tertawa.
"Hahahaha ... aku juga bahagia karena keluguanmu!! Kapan-kapan kita main catur lagi ya! Kalau kau menang, aku akan kasih hadiah tiket nonton di bioskop film romantis!" ujar Ricky.
Tiba-tiba, salah satu karyawan datang menghampiri meja mereka.
"Maaf Pak, ada berita mengenai calon menantu anda di media sosial, silahkan Bapak membukanya!" kata Karyawan laki-laki itu yang kemudian langsung berlalu dari tempat itu.
Ricky mengerutkan keningnya. Sementara Kezia menatap tajam ke arah karyawan itu. Jonathan diam saja dengan hati berdebar.
Perlahan Ricky meraih ponselnya yang ada di atas meja, dia mulai membuka akun media sosialnya.
Matanya terbelalak lebar melihat video yang sudah menjadi viral itu.
Jonathan dan Kezia hanya pasrah menunggu nasib mereka.
Tak lama kemudian, Ricky menatap Jonathan dan Kezia bergantian.
Mereka hanya memejamkan matanya, tidak berani melihat ekspresi dari Ricky.
*****
Hari tidak ada promo hehehe ....