Heart's Owner

Heart's Owner
Hati-Hati, Bang!



Kezia masuk ke dalam rumahnya itu sambil bernyanyi-nyanyi kecil.


Papa dan Ibunya sedang duduk sambil menonton drama Korea di TV besarnya. Mereka menonton sambil menikmati susu hangat dan popcorn.


"Aish! Papa dan Ibu romantisnya tidak habis-habis!!" cetus Kezia sambil berjalan melewati mereka.


"Kenapa Zia, kau iri?!" tanya Ricky.


"Siapa yang iri? Sudah ah, aku mau tidur, ngantuk!" ujar Kezia.


"Tunggu dulu, duduk sebentar!" titah Ricky.


Akhirnya Kezia duduk di sofa di hadapan Papa dan Ibunya.


"Bagaimana skripsi mu Kezia?" tanya Ricky.


"Baik-baik saja Pa!" sahut Kezia.


"Hmm, bagus! Sepertinya kau sudah dewasa untuk Papa kenalkan dengan seseorang!" kata Ricky.


"Hah? Seseorang? Maksudnya apaan sih pa?" tanya Kezia bingung.


"Rekan bisnis Papa punya seorang anak laki-laki, kini dia memegang saham properti di Singapore, rumahnya juga banyak yang sudah launching, sekarang dia menjadi trainer dan motivator untuk para marketing eksekutif yang akan berkembang, namanya Mario, dia masih sangat muda, usianya baru 27 tahun!" jelas Ricky.


"Maksudnya, Papa ingin menjodohkan mu dengan dia Kezia, orangnya ganteng, mapan lagi, selama ini Papamu selalu ketar ketir dengan jodohmu, dia takut kau akan dapat yang seperti si Robby lagi!" tambah Lika, ibunya.


"Jadi, Papa mau jodohkan aku sama orang itu?? Aku tidak mau Pa!!" cetus Kezia.


"Belum juga lihat orangnya kau sudah bilang tidak mau, kalian kan bisa berteman dulu, penjajakan lah, siapa tau cocok!" sahut Ricky.


"Pokoknya aku tidak mau! Sekarang kan bukan jaman Siti Nurbaya, Papa sama Ibu kuno nih!" sungut Kezia.


Dengan perasaan dongkol Kezia langsung berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Apaan ini?" gumam Lika saat melihat bungkusan plastik yang Kezia bawa tadi tertinggal di sofa. Kemudian Lika membuka bungkusan itu.


"Tumben amat si Kezia beli beginian, biasanya dia kalau beli pembalut yang herbal-herbal, dan Mbok Narti yang selalu buatin kunyit asem kalau lagi datang bulan!" gumam Lika.


"Kenapa sayang?" tanya Ricky.


"Ini lho Pa, kok si Kezia beli jamu datang bulan instan dan pembalut, kayaknya baru dua Minggu yang lalu deh dia baru dapet!" sahut Lika.


"Hmm, baru juga ku sarankan sama si marketing suruh beliin pacarnya jamu dan pembalut, kok malah jadi si Kezia yang beli!" timpal Ricky heran.


*****


Siang ini, Jonathan bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara.


Pagi tadi di kantor, Rita sudah memberikan paspor dan tiket pesawat, juga uang saku selama Jonathan di Singapore.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara pintu kamar kos Jonathan di ketuk. Buru-buru Jonathan membukakannya, Kezia sudah berdiri di depan pintu dengan senyum manisnya.


"Sudah siap semua Bang?" tanya Kezia.


"Sini deh Zia, kamu cek dulu, ini sudah cukup belum pakaiannya!" sahut Jonathan sambil menarik tangan Kezia masuk ke dalam kamarnya.


Jonathan membuka lagi kopernya, Kezia lalu memeriksa kelengkapan pakaian dan barang Jonathan.


"Sudah cukup Bang, nanti kan di sana Bang Jo bisa cuci baju, atau laundry, jadi jangan terlalu berlebihan juga, pakaian formal perlu lebih, karena kan Bang Jo akan terus bertemu orang untuk aktifitas selama di sana, kalau baju tidur mah, bisa beberapa kali di pakai!" kata Kezia.


"Oke deh Zia, Bang Jo tambahin nih kemejanya ya!" Jonathan kembali membuka lemarinya dan mengambil beberapa stel kemeja formal.


"Jangan lupa bawa cukuran Bang!" ujar Kezia.


"O iya ya, hampir lupa, untung Kezia ingatkan, kalau tidak, bisa gondrong Bang Jo di sana!" sahut Jonathan. Kezia tertawa cekikikan.


"Bawa pakaian dalamnya jangan yang bolong-bolong dong Bang, malu-maluin aja, bukannya aku sudah belikan ya waktu itu!" cetus Kezia.


"Ini buat cadangan aja kok Zia, biasanya kan Bang Jo tidur pakai sarung tanpa dalaman!" sahut Jonathan.


"Ih Bang Jo jorok!!" seru Kezia.


"Udah deh Bang, kok jadi ngomongin sarung, kalau dah siap ayo berangkat, nanti di tinggal pesawat lho!" cetus Kezia.


Akhirnya setelah semua selesai, mereka langsung keluar dari dalam kamar, tak lupa pintu kamar kos itu di kunci.


Bu Yani, sang ibu kos, duduk di bangku depan kos kosan itu. Jonathan lalu menghampirinya.


"Saya pamit ya Bu, mau ke Singapore, tugas kantor, paling sebulanan lah!" pamit Jonathan.


"Oke deh Jo, jangan lupa oleh-olehnya ya Jo!" sahut Bu Yani.


"Beres Bu, kalau urusan oleh-oleh ibu pasti nomor satu!" ujar Jonathan.


"Walau kau pergi sebulan, uang kos tetap bayar full ya!" kata Bu Yani.


"Siap Bu, asal barang-barang saya aman terkendali!" ujar Jonathan yang langsung bergegas meninggalkan kosannya.


Kemudian mereka segera naik ke dalam mobil Kezia.


Seperti biasa, Jonathan yang mengendarai mobil itu.


"Sebenarnya Bang Jo malu Zia, belum punya apa-apa untuk Kezia banggakan sebagai pacar!" ungkap Jonathan tiba-tiba.


"Jangan malu Bang, ini juga mobil pemberian Papa, aku juga belum mampu untuk beli sendiri!" sahut Kezia.


"Seandainya Bang Jo tidak punya hutang sama keluarga Ratna, mungkin Bang Jo bisa lebih cepat mengumpulkan uang buat Kezia, buat kita!" tambah Jonathan.


"Ini kenapa sih Bang, kok jadi melow gini, apa karena Bang Jo mau pergi ke Singapore?" tanya Kezia.


"Mungkin Zia, Bang Jo cuma takut saja, kalau Kezia di ambil orang!" cetus Jonathan.


Kezia tertawa cekikikan sambil mencubit gemas pipi Jonathan yang sedang mengemudikan mobil.


"Bang Jo lucu amat sih, ada di dekat Bang Jo tuh bawaannya ketawa terus, sampai sakit perut aku!!" kata Kezia.


"Jangan di cubit Zia, sakit, di cium saja!" ujar Jonathan yang pipinya mulai merah karena di cubit Kezia.


"Habisnya Bang Jo gemesin sih, lagian siapa juga yang mau ambil aku dari Bang Jo, makanya Bang, terus perjuangkan aku ya! Suatu hari, aku pasti ketemukan Papaku sama Bang Jo!" gumam Kezia.


"Iya Zia, Bang Jo akan terus perjuangkan Kezia, walaupun harus menyebrang samudra dan naik ke atas gunung!" ucap Jonathan.


"Wow, puitis sekali, ini cowok nya siapa sih!" kembali Kezia mencubit pipi jonathan.


Tak lama mereka sudah sampai di bandara, masih ada waktu sekitar 15 menit lagi sebelum pesawat berangkat.


"Sebulan itu lama tau Zia, tidak kuat kangen sama Kezia!" kata Jonathan.


"Udah deh Bang, makin berat Abang pergi kalau begini terus, sudah sana jalan, nanti kalau sudah sampai langsung telepon aku!" ujar Kezia.


"Cium nya mana?" tanya Jonathan.


"Bang Jo dulu yang cium, kebiasaan selalu minta di cium!" cetus Kezia.


Jonathan lalu mulai mengecup kening Kezia, kemudian turun ke pipinya.


"Kezia wangi! Bang Jo bakal kebayang-bayang terus deh!" ujar Jonathan.


"Ya sudah sana jalan!" cetus Kezia sambil mendorong dada Jonathan pelan.


"Sekarang giliran Kezia!" seru Jonathan.


"Ya sudah, Bang Jo merem dulu, nih aku mau kasih yang spesial buat Bang Jo!" ucap Kezia.


Jonathan langsung memejamkan matanya.


Kezia lalu mengecup bibir Jonathan dan menggigitnya sedikit, setelah itu dia berlari sambil tertawa cekikikan.


"Hati-Hati, Bang!" seru Kezia yang sudah berada jauh saat Jonathan membuka matanya.


****


Jangan lupa dukung Author guys ...