
Saat menjelang pagi hari, Jonathan nampak masih tidur sambil memeluk Kezia.
Tiba-tiba Kezia terbangun sambil setengah berlari ke kamar mandi, dia memuntahkan lagi isi perutnya.
Jonathan yang mendengar suara istrinya langsung melonjak bangun dan menyusulnya ke kamar mandi.
"Sayang, kau kenapa lagi?" tanya Jonathan cemas.
"Tiba-tiba perutku mual Bang, kepalaku pusing, makanya aku muntah lagi!" jawab Kezia.
"Ya sudah Kezia baringan saja dulu, Bang Jo buat teh manis hangat ya, habis itu Bang Jo buatkan sarapan untuk Kezia!" kata Jonathan yang dengan sigap langsung menggendong Kezia dari kamar mandi ke tempat tidur.
Kemudian Jonathan langsung menyelimuti kembali tubuh Kezia.
"Habis ini kita ke dokter ya sayang!" ajak Jonathan.
"Jangan ah Bang! Aku tidak suka ke dokter, pasti di kasih obat yang aneh-aneh, lagian aku cuma masuk angin biasa kok!" sergah Kezia.
"Tapi Kezia kelihatan pucat, Bang Jo kan jadi khawatir!" kata Jonathan yang terus membelai-belai rambut Kezia.
"Sudah deh Bang, aku mau tidur lagi, Bang Jo buatin teh manis hangat sama bikin sarapan saja sana!" kata Kezia sambil mendorong tubuh Jonathan.
"Iya Zia, nanti habis itu minum obat masuk angin yang Bang Jo beli semalam ya?"
"Iya Bang!" sahut Kezia.
Jonathan lalu beranjak meninggalkan Kezia yang masih berbaring, lalu dia segera menuju ke dapur, membuatkan segelas teh manis hangat untuk Kezia.
Setelah selesai dia kembali ke kamar, lalu membantu Kezia untuk meminum teh hangat tersebut.
"Ayo di ha Iskan sedikit lagi, sayang nanti jadi dingin kalau sisa!" kata Jonathan.
"Iya Bang!" sahut Kezia sambil meneguk habis minumannya.
Setelah selesai, Jonathan lalu kembali ke dapur, membuat sarapan untuk mereka berdua.
Jonathan berniat membuat nasi goreng, dia mulai memotong bawang merah, bawang putih, sosis dan sedikit cabe. Tak lupa dia juga menyiapkan dua butir telur.
Setelah semua bahan siap, Jonathan lalu mulai membuat nasi goreng, dia membuat nasi goreng dengan segenap hatinya.
Setelah masakannya matang, dia lalu menaruhnya di atas dua buah piring, lalu meletakkannya di atas meja makan kaca.
Kemudian dia berjalan ke kamar, untuk membangunkan Kezia.
"Sayang, nasi gorengnya sudah Mateng, makan yuk, biar enakan perutnya, habis itu minum obat masuk angin!" kata Jonathan.
"Bawa sini saja Bang makanannya, aku mau di suapin bang Jo!" ujar Kezia.
"Oo, Kezia mau di suapin? Oke deh, tunggu ya sayang!" Jonathan segera mengambil piring Kezia, lalu mulai menyuapi Kezia sedikit demi sedikit.
"Nasi gorengnya enak banget Bang, kok Bang Jo pintar masak sih, kalau begini aku bakalan minta di masakin terus sama Bang Jo!" puji Kezia.
"Ah Kezia bisa saja, Bang Jo juga awalnya tidak bisa sayang, cuma Bang Jo lihat tutorial di internet, jadi sekarang ya sudah bisa, apa sih yang tidak buat Kezia?!" ujar Jonathan.
Dia terus menyuapi Kezia sampai suapan terakhir.
"Terimakasih ya Bang sarapannya, aku jadi makin cinta deh sama Bang Jo!" ucap Kezia.
Jonathan langsung mencium pipi Kezia.
"Bang Jo juga makin cinta sama Kezia, kangen pengen ..." Jonathan menghentikan ucapannya.
"Pengen apa hayoo!"
"Ah Kezia pura-pura tidak tau, kan Kezia yang suruh Bang Jo puasa seminggu, sekarang sudah genap seminggu lho Zia, jadi Bang Jo boleh kan minta jatah Abang, sudah kebelet nih Zia!" ujar Jonathan.
"Aduuuh Bang Jo ini sampai segitunya menghitung hari, nanti deh siangan, sekarang mana obat masuk anginnya Bang? Aku mau minum!" kata Kezia.
Jonathan lalu mengambil obat masuk angin di dalam laci lemarinya, lalu membuka bungkus obat itu, dan memberikannya pada Kezia.
Kezia langsung meminum habis obat masuk angin itu.
"Wah, bener Bang, setelah minum teh manis, sarapan dan minum obat, rasa mualnya mendadak hilang, kayaknya aku sudah sembuh deh masuk angin nya!" kata Kezia senang.
"Syukur deh Zia, Bang Jo senang jadi nanti siang bisa Jong kasih kesempatan junior Abang untuk masuk biar hangat, sudah seminggu nih dia menahan diri!" ujar Jonathan.
"Hmm, oke lah Bang, tapi jangan banyak-banyak ya rondenya, aku masih lemes!" sahut Kezia.
"Iya sayang, trimakasih ya akhirnya Bang Jo dapat jatah lagi!" Jonathan langsung memeluk Kezia.
"Sekarang Bang Jo mandi dulu deh, nanti gantian aku yang mandi!" kata Kezia.
"Kita mandi bareng saja Zia pakai air hangat!" ajak Jonathan.
"Yah nanti di Abang langsung itu lagi, ini kan masih pagi Bang!" sergah Kezia.
"Ya tidak apa-apa dong, tergantung naluri saja nanti deh!" Jonathan yang tidak sabar langsung membopong tubuh Kezia masuk kedalam kamar mandi dan langsung melucuti semua pakaian Kezia.
Akhirnya mereka mandi bersama sekalian menumpahkan hasrat yang sudah terpendam selama satu Minggu.
Setelah selesai mandi, Jonathan tersenyum dengan sangat puas dan lebar, akhirnya bisa menuntaskan keinginannya.
Mereka kembali mengobrol setelah berpakaian lengkap.
"Bang Jo besok sudah mulai masuk kantor ya?" tanya Kezia.
"Iya Zia, Bang Jo memang harus masuk kantor, sudah lama cutinya, Bang Jo tidak enak dengan karyawan yang lain, masa cuti satu bulan lebih hanya untuk menikah, nanti apa kata mereka, Bang Jo bisa di tuduh KKN kalau terlalu lama lagi!" ungkap Jonathan.
"Iya deh Bang, kalau aku capek ikut Abang, aku tunggu di apartemen saja,masakin buat Abang, sambil santai nonton drama Korea!" kata Kezia.
"Iya sayang, yang penting Kezia jangan capek-capek, banyak istirahat biar tidak masuk angin lagi!" kata Jonathan.
Ting ... Tong ...
Tiba-tiba bell pintu apartemen Jonathan berbunyi.
Jonathan langsung bergegas membukakan pintu.
Rosi dan Andri sudah berdiri di depan pintu apartemen Jonathan.
"Wah, Mbak Rosi, Andri, ayo masuk!" ajak Jonathan yang agak terkejut melihat kedatangan mereka yang mendadak itu.
Mereka lalu masuk dan duduk di sofa ruang tamu itu.
"Kezia mana Jo?" tanya Rosi.
"Kezia dari kemarin masuk angin, tapi sekarang sudah mendingan, sebentar ya aku panggilkan!" Jonathan lalu segera ke kamar untuk memanggilkan Kezia.
Kemudian Jonathan dan Kezia datang dan langsung duduk bergabung di tuang tamu itu.
"Kalian mau minum apa?" tanya Jonathan yang langsung membuka kulkasnya dan mengeluarkan beberapa minuman dingin.
"Sudah Jo jangan repot, kedatangan kami kesini adalah kami hanya mau mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya Nenek buyut Kezia, maaf waktu itu kami tidak sempat datang melayat, karena kebetulan kami sedang pulang kampung!" jelas Andri.
"Oh tidak apa-apa, kalian jangan sungkan begitu, Nenek meninggal juga karena usia sudah kepala sembilan, sudah tua!" kata Kezia.
"Tapi tetap saja kami tidak enak, makanya sekarang kami datang ke sini, Oya Kezia, kok wajahmu terlihat agak pucat ya, apa kamu sakit?" tanya Rosi.
"Itulah yang kubilang tadi Mbak Rosi, dari kemarin Kezia itu masuk angin, baru saja dia minum obat masuk angin!" jawab Jonathan.
"Masuk angin? Tunggu, Kezia kapan terakhir datang bulan ya?" tanya Rosi.
"Datang bulan? Se ingat ku, sejak aku menikah sama Bang Jo, aku belum pernah lagi datang bulan, terakhir waktu sebelum menikah, wah, aku sudah terlambat banyak ini!" jawab Kezia yang seperti tersadar kalau dia terlambat datang bulan.
Sementara Jonathan hanya garuk-garuk kepala mencoba mencerna pembicaraan Rosi dan Kezia.
****