Heart's Owner

Heart's Owner
Keinginan Kezia



Siang itu rumah kediaman Ricky sudah mulai sepi, Lia dan Burhan sudah pulang ke Jogja, Nando juga terlihat beres-beres karena besok dia juga harus pulang ke Malaysia.


Kezia masuk ke dalam kamarnya, berniat membereskan barangnya juga. Jonathan yang baru bangun dari tidurnya nampak duduk di sisi tempat tidur dengan wajah yang sendu.


"Bang, buruan mandi sana, habis itu makan, di meja makan masih banyak makanan!" kata Kezia.


"Zia, Bang Jo jadi takut deh soal kejadian yang semalam itu, nanti sore kita pulang yuk Zia!" ajak Jonathan.


"Iya Bang, ini juga aku lagi mau beres-beres, makanya Bang Jo buruan mandi, malu dong masa di rumah mertua tidur melulu!" cetus Kezia.


"Iya, Bang Jo mandi deh, habis itu Bang Jo mau ke depan, ngobrol sama Papa dan Ibu, sambil makan!" ujar Jonathan yang langsung mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Kezia yang melihatnya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Setelah selesai mandi, Jonathan bersiap akan keluar dari kamar, Kezia juga sudah selesai membereskan barang-barang yang akan di bawanya pulang nanti.


"Nah gitu dong, kalau sudah mandi kan wangi dan ganteng, sini aku cium dulu Bang Jo yang ganteng!" Kezia lalu berdiri dan mencium pipi dan bibir Jonathan.


"Duh enak juga di ciumin istri!" kata Jonathan dengan senyum sumringah.


Setelah itu dia keluar dari kamarnya, Ricky dan istrinya nampak duduk di sofa di depan TV, mereka mencoba menghibur diri dengan menonton tayangan di TV, juga mengusir rasa sepi dalam rumah ini, apalagi sejak kematian Nenek buyut.


"Selamat siang Papa, Ibu!" sapa Jonathan.


"Eh kamu Jo, ayo duduk gabung sini, ikut nonton, kamu baru bangun ya Jo?" tanya Lika.


Jonathan langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Iya Bu, maaf aku baru bisa tidur pagi, jadi aku bangun siang deh!" sahut Jonathan tersipu.


"Kau ini Jo, untung jujur dan polos, kalau tidak sudah ku pecat kau jadi menantuku! Mana ada menantu yang bangun tidur jam 12 siang, kau pasti belum makan, makanlah dulu di meja makan sana!" titah Ricky.


"Tapi Pa, masa aku makan sendirian, tidak enak dong!" sergah Jonathan.


"Kau ini, sudah jadi bagian keluarga ini masih saja malu-malu, ayo aku temani, sayang, makan lagi yuk menemani menantu kita ini makan!" ajak Ricky pada istrinya.


"Boleh deh Pa, kita makan ronde ke dua!" sahut Lika.


Mereka bertiga akhirnya beranjak menuju ke meja makan.


"Ayo makan yang banyak Jo, supaya kau ada tenaga dan tidak loyo!" kata Ricky.


"Iya Pa, kalau soal makan, tenang saja, diam-diam aku makan banyak kok!" ujar Jonathan.


"Jo, Papa sudah dengar mengenai pertemuanmu dengan mendiang Nenek dari Nando, apa yang di katakan Nenek buyut itu benar, Papa memang sedang mencari penerus potensial untuk bisnis properti ini, dan setelah Papa lihat, kau lah yang paling berpotensi untuk itu, terbukti sejak kau jadi marketing, kau bisa melakukan pekerjaan yang tak biasa, walaupun dulu kau ada motifnya, demi untuk mengejar Kezia!" ungkap Ricky.


"Tapi Pa, aku merasa aku belum mampu, aku masih harus banyak belajar, aku ini cuma bermodalkan kegigihan saja kok waktu itu, karena mengejar cinta Kezia!" sahut Jonathan.


"Ya, Papa juga tidak buru-buru kok, pelan-pelan kau memang harus belajar, Papa sendiri yang langsung mengajarimu, asalkan kau mau, itu sudah cukup!" ungkap Ricky.


"Iya Pa, aku mau! Aku juga tertarik dalam dunia properti, aku bahkan ingin seperti Papa, jadi orang sukses bahkan di usia muda!" kata Jonathan.


"Kau pasti bisa Jo, kau menantu andalan Papa!" ujar Ricky sambil menepuk bahu Jonathan dengan bangga.


Tak lama kemudian Kezia muncul dari dalam kamarnya dengan sudah membawa tas dan barang-barangnya.


"Kezia kau sudah tapi begitu mau kemana?" tanya Lika.


"Aku mau pulang Bu sama Bang Jo, tapi Ibu jangan kuatir, aku akan sering-sering main dan menginap di sini kok!" jawab Kezia.


"Ah Ibu bisa saja, bukan begitu juga kali Bu, Bang Jo kasihan kalau tidak bisa tidur lagi, kalau di tempatnya kan dia bisa tidur sepuasnya!" kata Kezia.


"Ya, kalian pulang saja, tapi seringlah main ke sini, Papa dan Ibu selalu merindukan kalian!" ujar Ricky.


Setelah Jonathan selesai makan, mereka kemudian pamit hendak pulang ke apartemen mereka.


"Maafkan ibu ya, bulan madu kalian terpaksa di tunda karena kejadian ini!" ucap Lika saat mengantar Kezia dan Jonathan naik ke atas mobil.


"Tidak Bu, tanpa bulan madu kami juga sudah bahagia, nanti kapan-kapan kan bisa bulan madu kemanapun!" jawab Jonathan.


"Hati-hati Jo, kita akan mulai belajar setelah kau mulai masuk kantor lagi!" seru Ricky saat Jonathan dan Kezia sudah masuk ke dalam mobil.


Mobil yang di kendarai Jonathan pun melaju meninggalkan rumah besar Ricky.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba Kezia menghentikan mobil yang di bawa oleh Jonathan.


"Bang Jo, berhenti sebentar!" kata Kezia.


"Ada apa sayang?" tanya Jonathan yang langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan raya itu.


"Aku lagi pengen banget makan martabak manis, yang waktu itu Bang Jo pernah beli buat Papa dan Ibu!" kata Kezia.


"Martabak? Bukannya Kezia tidak terlalu suka martabak? Kalau yang itu belinya agak jauh Zia, di daerah tempat kos Abang dulu!" ujar Jonathan.


"Tapi aku pengen Bang! Beli yuk! Ayuk! Sekarang ya!" rengek Kezia.


Jonathan bingung melihat tingkah dan keinginan Kezia yang tidak biasa ini, apalagi dia merengek untuk sesuatu yang dia kurang sukai.


"Kezia memangnya pengen banget?" tanya Jonathan meyakinkan.


"Pengen banget Bang! Dari tadi aku sudah membayangkan rasanya, pokoknya beli sekarang ya!" rajuk Kezia.


"Oke deh sayang, kita beli sekarang ya!" Jonathan langsung putar balik mobilnya menuju ke tempat jual martabak yang di maksud.


Wajah Kezia terlihat senang sekali.


Setelah sampai di tujuan, Jonathan langsung membeli martabak sesuai yang Kezia mau, setelah di bungkus dan membayarnya, mereka melanjutkan perjalanannya ke apartemen mereka.


Di tengah jalan, Kezia yang tidak sabar langsung melahap martabak yang batu Jonathan beli tadi. Kezia makan dalam jumlah yang banyak.


Namun saat mereka hampir tiba di apartemen, lagi-lagi Kezia meminta menghentikan mobil Jonathan.


"Bang Stop Bang!" seru Kezia.


Jonathan langsung berhenti mendadak di pinggir jalan itu.


Tanpa di komando Kezia lalu membuka pintu mobil, dia langsung ke pinggir jalan trotoar dan langsung memuntahkan martabak yang baru saja di makannya.


Jonathan yang melihat itu langsung menyusul Kezia, dan menepuk bahunya lembut.


"Kau kenapa sayang?" tanya Jonathan cemas.


"Tidak tau Bang! Tiba-tiba perutku mual sekali, makanya aku langsung muntah di sini, maaf ya Bang!" ucap Kezia.


"Tidak apa-apa sayang, mungkin kau masuk angin, nanti kalau sudah sampai Bang Jo kerokin ya badannya, lalu di balur minyak kayu putih, Kezia istirahat saja, Bang Jo akan jaga Kezia!" ucap Jonathan lembut sambil memapah Kezia masuk ke dalam mobil dan menyeka keringat yang membasahi dahi Kezia dengan tangannya.


****