
Jonathan berjalan menyusuri koridor kantor naik ke atas menggunakan lift menuju ruang Pa Ricky.
Dia bermaksud mengantarkan hadiah dan bingkisan dari para ibu-ibu di kompleknya.
Dari kaca pintu nampak jelas terlihat Ricky masih duduk di kursi kebesarannya sambil berkutat di depan layar laptopnya.
Perlahan Jonathan membuka pintu ruangan mertuanya itu.
"Selamat Pagi Papa Ricky!" sapa Jonathan.
"Pagi Jo, nanti siang kau bisa ikut aku meeting tidak dengan investor yang dari Australia itu?" tanya Ricky.
"Bisa Pa, tapi aku sudah terlanjur janji dengan Kezia mau pulang ke rumah, kasihan nanti dia Kalau sudah masak, sayang tidak ada yang makan!" jawab Jonathan.
"Hmm, kau benar juga, nanti bisa-bisa si anak manja itu ngambek lagi, apalagi dia kan lagi hamil, lebih sensitif pastinya, okelah, meeting nanti kau tidak usah ikut!" kata Ricky.
"Terimakasih Pa, Oya, ini ada bingkisan. dari para ibu-ibu di komplek, mereka ternyata pengagum berat Papa lho!" ujar Jonathan sambil menaruh beberapa bingkisan di atas meja Ricky.
"Mereka terlalu berlebihan, aku jadi menyesal kemarin ikut kau makan siang di rumah kalian!" sahut Ricky.
"Tapi bukan berarti Papa tidak ke rumah kami lagi!" cetus Jonathan.
"Kau tenang saja, aku punya strategi datang ke sana, Jo besok aku akan memperkenalkanmu dengan investor itu, bukankah kau bisa berbahasa Inggris?" tanya Ricky.
"Siap Pa, besok aku bilang sama Kezia kalau aku tidak makan siang di rumah!" jawab Jonathan.
"Bagus! Ini adalah salah satu investor terbesar buat proyek perumahan kita, aku harap kau bisa bekerja sama dengan beliau!" ujar Ricky.
"Baik Pa!" singkat Jonathan.
"Satu lagi Jo, mulai sekarang aku akan mengangkat mu jadi Direktur utama, kau yang akan memimpin seluruh divisi perusahaan ini!" ucap Ricky.
"Hah? Tapi Pa, rasanya aku belum pantas untuk memiliki jabatan setinggi itu!" sahut Jonathan.
"Kau pantas Jo, lagi pula kau sudah menyelesaikan S2 mu kan?" tanya Ricky.
"Sudah Pa, Minggu depan acara wisudanya!" sahut Jonathan.
"Nah, karena itu aku mengangkat jabatanmu, aku mengangkat mu bukan karena kau menantuku, tapi kau memang berpotensi dan berkompeten, dan layak menyandang jabatan Direktur utama!" jelas Ricky.
Perlahan Jonathan berdiri dan mendekati Ricky lalu memeluknya erat, dengan perasaan yang haru.
Siapa sangka, Jonathan yang tadinya hanya marketing biasa jabatan yang paling rendah di kantor ini, sekarang dia nyaris menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan ini.
Tanpa terasa, ada yang menetes di sudut mata Jonathan, dia sangat terharu.
Ricky menepuk bahu Jonathan lembut, kemudian mengurai pelukannya.
"Nanti peresmiannya akan aku adakan setelah kau wisuda, selamat Jo, nanti kau akan dapat banyak fasilitas dari perusahaan!" Ricky mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Jonathan.
"Terimakasih Pak Ricky!" ucap Jonathan formal.
"Tunjukan kalau kau mampu memimpin seluruh divisi di perusahaan ini!" kata Ricky menyemangati.
"Siap Pak Ricky!" sahut Jonathan.
Kemudian dia segera pamit dan keluar dari ruangan Ricky.
Di tengah jalan, Jonathan berpapasan dengan Dita, dia menghentikan sejenak langkahnya.
"Ya saya mencari Bapak, dari mana saja sih Pak? Tadi saya cari di ruangan, Pak Jo tidak ada!" sahut Dita.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Jonathan.
"Biasa Pak, minta tanda tangan kontrak marketing!" sahut Dita.
"Baiklah, akan segera aku tanda tangani setelah aku sampai di ruangan!" ujar Jonathan.
Setelah itu Jonathan segera bergegas kembali menuju ke ruangannya.
****
Hari sudah menjelang siang, Jonathan bersiap akan pulang makan siang di rumahnya, kali ini dia pulang sendirian, karena Beni teman akrabnya sudah ada di Medan.
Jonathan melajukan mobilnya cepat menuju ke rumahnya, karena jam 1 nanti dia sudah harus kembali ke kantor, masih ada beberapa berkas yang belum di periksa dan di pelajari.
Tidak sampai 15 menit, Jonathan sudah tiba di rumahnya, setelah memarkirkan mobilnya dia langsung masuk ke dalam rumahnya itu.
"Eh Bang Jo sudah pulang!" sambut Kezia sambil berlari ke arah Jonathan dan memeluknya.
"Hmm, kangen Abang Zia, masak apa hari ini?" tanya Jonathan lembut.
"Eh, ada Jo sudah pulang, yuk langsung makan, sudah siap lho makanannya!" Lika tiba-tiba muncul dari arah dapur.
"Lho, ibu ada di sini? Sudah lama Bu?" tanya Jonathan terkesiap.
"Sudah dari pagi, ini baru mau pulang sekalian menjemput Given, Gavin dan Tasya, supirnya juga sudah jemput tuh di depan!" kata Lika.
"Yah Ibu, aku datang Ibu pulang, Kenapa tidak makan dulu?" tanya Jonathan.
"Ibu tadi sudah makan Jo, ayo kau makanlah sama Kezia, dia menunggumu dari tadi!" jawab Lika.
"Bu, hari ini Papa Ricky menaikan jabatanku jadi Direktur Utama!" ucap Jonathan.
"Oya? Selamat ya Jo, hasil kerjamu pasti sangat memuaskan Papa!" ucap Lika sambil memeluk Jonathan.
"Selamat ya Bang, Direktur utama itu gajinya gede banget lho, fasilitasnya banyak lagi!" ujar Kezia yang juga ikut memeluk Jonathan.
"Iya Zia, biar Abang juga bisa cepat melunasi rumah ini!" kata Jonathan.
"Padahal rumah ini gratis Jo, pakai segala di cicil!" cetus Lika.
"Aku sudah komitmen Bu, apa yang Kezia miliki sekarang adalah hasil kerja dan usaha suaminya!" jawab Jonathan.
"Hmm, kau luar biasa Jo, tak salah kau jadi menantu kesayangan Ibu, tinggal Nando nih yang belum menemukan jodohnya!" gumam Lika.
"Nando itu terlalu polos sih Bu, sok cuek dan dingin gitu, siapa cewek yang mau sama orang dingin!" cetus Kezia.
"Hush! Kau ini Zia, aku juga dulu dingin dan cuek tau! Cuma luluh karena di kejar Kezia!" timpal Jonathan.
"Dih bang Jo kok buka kartu sih, kan aku malu di depan Ibu!" rajuk Kezia.
"Sudah sudah! Kalian teruskan dramanya, Ibu mau pulang dulu ya!" Lika segera berjalan menuju keluar rumah Kezia.
Dia lalu segera naik ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan rumah Kezia itu.
****